Rabu, 15 Mei 2019

Ajak Diri Memurnikan Tazkiyatun Nafs di Bulan Suci


[INSPIRASI RAMADHAN]

Ajak Diri Memurnikan Tazkiyatun Nafs di Bulan Suci

Oleh : Yulida Hasanah

Pada dasarnya, bulan Ramadhan mampu mengubah persepsi dan perilaku seorang muslim sedemikian rupa.  Orang  fasik  menjadi  malu  menampakkan  kefasikannya;  orang  munafik  menjadi  enggan mempertontonkan  kemunafikannya;  orang  zalim  pun  mengurangi  intensitas  kezalimannya.  Orang shaleh makin bersemangat menambah amal baiknya daripada bulan-bulan lainnya.

Mesjid-mesjid,  majelis  taklim,  forum-forum  kajian  keislaman,  dan  sejenisnya  penuh  sesak  dipadati oleh kaum Muslim. Fenomena seperti ini tidak hanya kita temukan di lingkungan masyarakat secara umum, bahkan di kalangan para pejabat dan selebritis pun menampakkan hal yang sama. Media massa pun tidak ketinggalan, terutama televisi, menayangkan acara-acara yang bernuansa bulan Ramadhan, mengurangi tayangan-tayangan yang menjurus pada pornografi dan kekerasan.

Kaum  Muslim  menyadari,  bahwa  bulan  Ramadhan  merupakan  momentum  yang  tepat  untuk mensucikan diri (tazkiyatu an-nafs), sehingga di bulan ini mampu tercipta atmosfir keimanan, suasana kebaikan, dan perasaan yang peka terhadap ajaran-ajaran Islam.  Namun  sayang, fenomena ini hanya ada di bulan Ramadhan saja. Bulan berikutnya, pasca Ramadhan, kembali bergelimang dengan dosa; tidak takut mendemonstrasikan kefasikan, kemunafikan, dan kezaliman; tidak takut kepada murka dan adzab  Allah.  Kalau  begitu,  apa  pengaruh  bulan  Ramadhan  bagi  kita?  Bukankah  kalau  bulan Ramadhan  kita  jadikan  sebagai  momentum  untuk  mensucikan  diri,  maka  pasca  Ramadhan  mestinya kita  bagaikan  terlahir  kembali,  kembali  suci? Pasca  Ramadhan  mestinya  ketakwaan  seorang  Muslim akan  semakin  bertambah.  Ketaqwaan  yang  lahir  dari  ketundukan  kita  pada  perintah  Allah  dan penghindaran diri kita dari perkara yang diharamkan Allah SWT. Allah SWT berfirman:
 “Hai  orang-orang  yang  beriman,  diwajibkan  atas  kamu  berpuasa  sebagaimana  diwajibkan  atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Qs. al-Baqarah [2]: 183).

Kekeliruan Memahami Tazkiyatu an-Nafs

Ketika  Ramadhan  datang,  banyak  orang  berlomba-lomba  untuk  beribadah  dan  melakukan  perbuatan baik.  Sayangnya,  ketika  Ramadhan  telah  usai,  banyak  orang  kembali  melakukan  kemaksiyatan  dan kedzaliman.  Fenomena  tersebut  senantiasa  berulang  dan  berulang  terus  setiap  tahun.  Akibatnya, Ramadhan  sebagai  bulan  mensucikan  diri  (tazkiyatu  an-nafs)  hampir  kehilangan  maknanya.  Sebab, bulan  Ramadhan  tidak  berimplikasi  pada  peningkatan  ketakwaan  maupun  ketundukkan  terhadap syari’at Allah pada diri seorang Muslim dan masyarakat umum di bulan-bulan yang lain.

Secara umum, tampaknya ada kekeliruan dalam memahami tazkiyatu an-nafs, dan kekeliruan ini telah berimplikasi pada anggapan-anggapan berikut ini:

Pertama,  pensucian  diri  hanya  pada  bulan  Ramadhan.  Selama  bulan  Ramadhan  kita  sanggup menjalankan  ketaatan  kepada  Allah  sedemikian  rupa,  dan  sanggup  dengan  sedemikian  rupa  pula meninggalkan  segala  kemaksiatan.  Namun  pasca  Ramadhan  kesanggupan  tersebut  seakan  menguap, ketaatan kepada Allah pun surut dan berpaling menuju ketaatan kepada thagut (na’udzubillah). 

Kedua,  pensucian  diri  dilakukan  dengan  ketakwaan  yang  bersifat  individual  dan  mengabaikan  ketakwaan yang total. Aktivitas tazkiyatu an-nafs dianggap sebagai aktivitas jiwa yang menenangkan hati,  Sehingga  “wajar”lah  upaya  pensucian  diri  ini  baru  mengarah  pada  perbaikan  diri  sendiri  saja, dengan  miningkatkan  ketakwaan  yang  bersifat  individual,  misalnya  memperbanyak  ibadah  ritual, sholat  tarawih,  baca  al-Qur’an,  banyak  berdzikir,  melatih  kesabaran,  tidak  berbohong,  tidak menggunjingkan  orang,  dan  yang  semisalnya,  yang  semuanya  terkategori  dalam  hubungan  kita dengan  Allah  dan  hubungan  dengan  diri  kita  sendiri.  Sedangkan  untuk  hukum-hukum kemasyarakatan,  seperti  politik,  ekonomi,  pendidikan,  dan  lain-lain  tetap  diabaikan.  Sehingga pensucian  diri  ini  baru  berimplikasi  pada  perbaikan  individu  (dan  ini  pun  hanya  di  bulan  Ramadhan saja) dan tidak berimplikasi pada terjadinya perubahan mendasar di masyarakat secara keseluruhan.

Hal mendasar yang menjadi penyebab kekeliruan dalam memahami ‘tazkiyatu an nafs’ ini adalah mendarahdagingnya sekulerisme di tengah-tengah umat Islam. Yang mana, kelahiran sekularisme  merupakan bagian dari sejarah  feodalisme dan dominasi gereja pada abad pertengahan di Eropa, dan telah menyebar di  seluruh  belahan  dunia,  termasuk  di  dunia  Islam.  Awalnya  sekularisme  hanya  berbicara  tentang hubungan  antara  agama  dan  negara,  namun  dalam  perkembangannya  pula  semangat  sekularisme tumbuh dan berkembangbiak ke segala lini kehidupan.

Inti dari paham sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Agama tidak boleh berperanan aktif dalam kehidupan masyarakat dan kenegaraan. Agama  masih  direduksi  sedemikian  rupa  hingga  tinggal  di  relung-relung  individu,  dan  kisaran aktivitas  individual  dan  ritual  saja.  Akibatnya,  ketika  kehidupan  telah  dikepung  dengan  krisis multidimensional, tatanan ekonomi kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, sikap  sosial  egoistik  dan  individualistik,  dan  paradigma  pendidikan  yang  materialistik,  maka  cara pandang  terhadap  solusi  permasalahannya  bukan  diarahkan  untuk  menjadikan  agama  Islam  sebagai way of life  dalam seluruh aspek kehidupan. Namun, kebanyakan orang hanya berusaha memperbaiki dirinya sendiri secara individual untuk lebih mendekatkan diri pada Ilahi. Semua kondisi buruk yang mengepungnya  dianggap  sebagai  suatu  “dinamika”  kehidupan  yang  sudah  tidak  dapat  ditawar  lagi. Sekalipun  ketika  hal  itu  telah  menjadikan  dirinya  sulit  mendapatkan  ketenangan  dan  ketentraman, menjadikan  hatinya  sangat  kering  dan  gersang,  namun  dia  merasa  cukup  dengan  hanya  mencari kedamaian  hati  untuk  dirinya  sendiri  saja,  tidak  merasa  perlu  untuk  memikirkan  orang  lain  di  luar dirinya. Lebih dari itu, ia tidak merasa perlu untuk memikirkan kondisi masyarakat yang ada,  apa lagi untuk melakukan upaya perubahan secara utuh.
Padahal,  Allah  telah  memerintahkan  kita  untuk  terikat  kepada  hukum  syara’,  bukan  hanya  untuk aktivitas  individual  dan  ritual  saja,  akan  tetapi  juga  untuk  seluruh  aspek  kehidupan,  termasuk hubungan antar manusia dalam masyarakat dan negara.  Allah SWT berfirman:
 “Hukumlah diantara mereka dengan apa saja yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti hawa  nafsu  mereka  (dengan  meninggalkan)  kebenaran  yang  telah  datang  kepadamu.”  (Qs.  al- Mâ’idah [5] :48).
Kekeliruan  memahami  tazkiyatu  an-nafs  kemungkinan  juga  disebabkan  karena  pemahaman  yang sempit terhadap dalil-dalil syara' yang berhubungan dengan tazkiyatu an-nafs.
Sesungguhnya,  Allah  SWT  memerintahkan  setiap  Muslim  untuk  membersihkan  qalbunya.  Sebab  isi qalbu akan dihisab oleh Allah.  Abu Hurairah ra menuturkan, Rasulullah Saw bersabda:

Metode Shahih Tazkiyatu an-Nafs

Tazkiyatu  an-Nafs  secara  bahasa  terdiri  dari  dua  kata,  yaitu  Tazkiyah  dan  an-Nafs.  Kata  tazkiyah berasal  dari  pecahan  kata:  zakka–yazukku–tazkiyah,  yang  berarti  membayar,  mensucikan.  An-Nafs, bentuk  pluralnya  al-anfus  atau  an-nufus,  yang  berarti  jiwa,  hati,  dan  diri  seseorang.  Menurut  istilah, batasan  nafsu  selalu  dikaitkan  dengan  ruh  dan  jasad.  Sebab,  keduanya  merupakan  unsur  pembentuk manusia.  Sedangkan  Ibn  Qayyim,  setelah  mengemukakan  pandangan  berbagai  kalangan  tentang nafsu,  berkesimpulan  bahwa  nafsu  merupakan  sumber  pengetahuan  akal.  Tazkiyatu  an-Nafs  sendiri secara istilah adalah mensucikan jiwa (diri) kita dengan Islam. Menurut Said Hawwa yang disyarah dari kitab Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn karya Imam al-Ghazali, tazkiyatu an-nafs adalah membersihkan jiwa dari  kemusyrikan  dan  cabang-cabangnya,  merealisasikan  kesuciannya  dengan  tauhid  dan  cabang- cabangnya,  dan  menjadikan  nama-nama  Allah  yang  baik  sebagai  akhlaknya,  di  samping  ubudiyah yang sempurna kepada Allah SWT dengan membebaskan diri dari pengakuan rububiyah.

Dari  pemaparan  di  atas  jelaslah  bahwa  makna  an-nafs  itu  sangat  luas,  tidak  dibatasi  pada  hal  yang bersifat individual semata. Atas dasar itu, upaya untuk tazkiyatu an-nafs pun tidak boleh dibatasi pada aktifitas  individual  atau  ibadah  ritual  saja,  dan  terlebih  lagi  tidak  dibatasi  hanya  pada  saat  bulan Ramadhan saja. Sebab, secara umum telah ada kekeliruan dalam memahami makna tazkiyatu an-nafs, dan kekeliruan ini telah berimplikasi pada kekurangpedulian terhadap kondisi masyarakat, karena kita terlalu sibuk memikirkan diri sendiri, dan hanya memikirkan upaya membersihkan atau memperbaiki diri  pribadi,  dan  tidak  merasa  bertanggungjawab  dengan  kondisi  masyarakat  yang  semakin  jauh  dari penerapan  syari’at  Islam.  Dengan  demikian, sudah  seharusnya  kita  memahami  bagaimana  metode atau jalan shahih bagi tazkiyatu an-nafs itu sendiri, yaitu ; 

Pertama, nafsu harus dibentuk dan dibimbing agar tetap menjadi baik dan benar, yaitu dengan selalu mengikatkannya dengan seluruh syari’at Allah dan RasulNya. Hal ini tidak bisa diraih kecuali dengan meningkatkan tsaqâfah Islamiyah. Setiap  Muslim  mutlak  membimbing  pemikiran-pemikirannya  dengan  tsaqâfah  Islam,  dengan  suatu pembelajaran yang menjadikan pikirannya menyatu dengan perasaannya. Dengan begitu, selain akan membersihkan dirinya secara individu dengan meningkatkan ibadah ritual, dan menghiasi diri dengan akhlaq  terpuji,  lebih  jauh  lagi,  di  dalam  dirinya  akan  terbentuk  api  yang  membakar  kezaliman, kemaksiatan,  kefasikan,  kekufuran,  dan  segala  dosa;  sekaligus  menjadi  cahaya  yang  menunjuki masyarakat kepada hidayah dan risalah agung ini (Islam) hingga Islam diterapkan bukan hanya pada diri sendiri melainkan di tengah-tengah masyarakat secara total.

Kedua, tazkiyatu an nafs diwujudkan dengan taubah yang hakiki dan ketakwaan yang total. Di mana, taubat di sini mesti  dilakukan  dengan  cara  memperbanyak  istighfar,  memohon  ampunan  Allah  akan kelemahan  dan  ketidakberdayaan  kita,  menyesali  perbuatan  masa  lampau,  dan  bertekad  serta memohon  dikuatkan  tekad  kita  untuk  tidak  pernah  mengulanginya  lagi.  Hanya  saja,  kita  menyadari sepenuhnya, jika kita hanya mengandalkan pada benteng individu saja, ini sangatlah sulit. Oleh karena itu,  kita  membutuhkan  institusi  yang  akan  senantiasa  menjaga  masyarakat  untuk  tetap  berada  pada koridor syari’atNya. Untuk mewujudkan hal ini, kita pun akan berjuang keras demi tegaknya institusi yang  akan  menegakkan  syari’at  Islam  di  tengah-tengah  masyarakat.  Institusi  itu  adalah  Khilafah Islamiyyah.  

Inilah jalan shohih tazkiyatu an nafs yang semestinya menjadi ajakan diri dalam mengisi ibadah shiam di bulan suci penuh ampunan dan berkah Ilahi. Tak ada alasan untuk tidak mengambil dua jalan penyucian diri agar pribadi dan umat Islam seluruhnya benar-benar terlahir menjadi hamba yang bertaqwa dengan ketaqwaan total setelah sebulan penuh berpuasa. Semoga, bulan ramadhan yang akan kita jalani, menjadi moment membuang sekulerisme yang menjadi penghalang dalam mengajak diri memurnikan tazkiyatu an nafs. 
Wallaahu a’lamu bish shawab

Sumber : Fikh Puasa Praktis, Berpuasa Seperti Rasulullah Saw; Muhammad Ramadhanal Muhtasib

0 komentar:

Posting Komentar