Selasa, 21 Mei 2019

Benarkah Kita Takut Kepada Allah?


[CERMIN HATI]

/ Benarkah Kita Takut Kepada Allah? /

Oleh: M. Taufik NT

Sungguh kita tertipu oleh diri sendiri jika kita mengaku takut hanya kepada Allah, namun masih ringan kata untuk berdusta, hati masih merasa berat menerima hukum dan ketentuan Allah Ta’ala, mata masih lebih senang melihat aurat yang terbuka, gemerlap dunia masih lebih memukau kita daripada berjuang untuk merealisir ketaatan pada Sang Pencipta.

Tak peduli kita rakyat jelata ataupun penguasa, menentang syari’at Allah Ta’ala dan mempersekusi pejuangnya serta menyematkan tuduhan-tuduhan dusta kepada mereka merupakan bukti bahwa kita berani memerangi Allah walaupun mulut kita berbusa mengatakan “aku hanya takut kepada Allah”

===

Takut kepada Allah merupakan kewajiban. Siapa saja yang tidak takut kepada Allah di dunia, kelak dia dibuat ketakutan pada hari kiamat, sebagaimana hadits qudsi riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya:

وَعِزَّتِي لاَ أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِي خَوْفَيْنِ وَأَمْنَيْنِ، إِذَا خَافَنِي فِي الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِذَا أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا أَخَفْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Demi keagungan-Ku, tidak akan Aku kumpulkan dalam diri hamba-Ku dua ketakutan dan dua keamanan. Jika dia takut kepada-Ku di dunia maka akan Kuberi keamanan di akhirat, dan jika dia merasa aman dari-Ku di dunia, akan Aku buat dia ketakutan di hari kiamat”.

Hanya saja takut kepada Allah yang hakiki tidak sekedar di bibir saja, namun tercermin dalam hati, sikap, perbuatan dan ucapan.

===

Abu Laits mengutip perkataan Al-Rabî’ bin Khaitsam yang menyatakan:

عَلَامَةُ خَوْفِ اللَّهِ تَعَالَى يَتَبَيَّنُ فِي سَبْعَةِ أَشْيَاءَ:

Tanda bahwa seorang hamba itu takut kepada Allah Ta’ala nampak dalam tujuh perkara:

أَوَّلُهَا: يَتَبَيَّنُ فِي لِسَانِهِ، فَيَمْتَنِعُ لِسَانُهُ مِنَ الْكَذِبِ، وَالْغِيبَةِ، وَكَلَامِ الْفُضُولِ، وَيَجْعَلُ لِسَانَهُ مَشْغُولًا بِذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى، وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَمُذَاكَرَةِ الْعِلْمِ.

Pertama, nampak pada lidahnya, lidahnya akan tercegah dari berdusta, menggunjing, dan berlebihan bicara. Lisannya akan sibuk berdzikir, membaca Alquran, maupun mendiskusikan ilmu.

===

وَالثَّانِي: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ بَطْنِهِ، فَلَا يُدْخِلَ بَطْنَهُ إِلَّا طَيِّبًا وَحَلَالًا، وَيَأْكُلَ مِنَ الْحَلَالِ مِقْدَارَ حَاجَتِهِ

Kedua: dia takut dalam urusan perutnya, hingga tidak memasukkan ke dalam perutnya kecuali makanan yang baik dan halal, serta memakan yang halal sekedar keperluannya saja, tidak berlebihan.

===

وَالثَّالِثُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ بَصَرِهِ، فَلَا يَنْظُرَ إِلَى الْحَرَامِ، وَلَا إِلَى الدُّنْيَا بِعَيْنِ الرَّغْبَةِ، وَإِنَّمَا يَكُونُ نَظَرُهُ عَلَى وَجْهِ الْعِبْرَةِ.

Ketiga, dia takut dalam urusan pandangannya, hingga dia tidak memandang sesuatu yang haram dilihat, tidak pula melihat dunia dengan pandangan penuh ambisi. Pandangannya ke dunia hanya digunakan untuk mengambil ‘ibrah dari apa yang terjadi.

===

وَالرَّابِعُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ يَدِهِ، فَلَا يَمُدَّنَّ يَدَهُ إِلَى الْحَرَامِ، وَإِنَّمَا يَمُدُّ يَدَهُ إِلَى مَا فِيهِ طَاعَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
.
Keempat, dia takut dalam urusan tangannya, hingga tidak mengulurkannya kepada yang haram, hanya dia ulurkan tangannya untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.

===

وَالْخَامِسُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ قَدَمَيْهِ، فَلَا يَمْشِي فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ

Kelima, dia takut dalam urusan kakinya, hingga tidak melangkah dalam maksiat kepada Allah.

===

السَّادِسُ: أَنْ يَخَافَ فِي أَمْرِ قَلْبِهِ، فَيُخْرِجَ مِنْهُ الْعَدَاوَةَ، وَالْبَغْضَاءَ، وَحَسَدَ الْإِخْوَانِ، وَيُدْخِلَ فِيهِ النَّصِيحَةَ وَالشَّفَقَةَ لِلْمُسْلِمِينَ.

Keenam, dia takut dalam urusan hatinya, hingga dia membuang rasa permusuhan, kebencian dan kedengkian kepada saudara, dan memasukkan kedalam hatinya nasehat dan simpati kepada kaum muslimin

===

وَالسَّابِعُ: أَنْ يَكُونَ خَائِفًا فِي أَمْرِ طَاعَتِهِ، فَيَجْعَلَ طَاعَتَهُ خَاصَّةً لِوَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى، وَيَخَافَ الرِّيَاءَ، وَالنِّفَاقَ

Ketujuh, dia takut dalam urusan taat kepada Allah, hingga menjadikan ketaatannya ikhlas mengharap Allah semata, khawatir terjatuh kepada riya’ dan nifaq. (Abu Laits al-Samarkandi, Tanbîh Al-Ghâfilîn, Cet. III. (Beirut: Dâr Ibnu Katsir, 2000), hlm. 390-391).[1]

===

Sungguh kita tertipu oleh diri sendiri jika kita mengaku takut hanya kepada Allah, namun masih ringan kata untuk berdusta, hati masih merasa berat menerima hukum dan ketentuan Allah Ta’ala, mata masih lebih senang melihat aurat yang terbuka, gemerlap dunia masih lebih memukau kita daripada berjuang untuk merealisir ketaatan pada Sang Pencipta.

Tak peduli kita rakyat jelata ataupun penguasa, menentang syari’at Allah Ta’ala dan mempersekusi pejuangnya serta menyematkan tuduhan-tuduhan dusta kepada mereka merupakan bukti bahwa kita berani memerangi Allah walaupun mulut kita berbusa mengatakan “aku hanya takut kepada Allah”. Allâhu A’lam. []

0 komentar:

Posting Komentar