Rabu, 15 Mei 2019

KARTINI: KAPANKAH GELAPMU MENJADI TERANG?


KARTINI: KAPANKAH GELAPMU MENJADI TERANG?

Oleh : Miftah Karimah Syahidah
(Koordinator Back to Muslim Identity Jember)

“Habis Gelap Terbitlah Terang”, tak ada satu pun perempuan Indonesia yang tak kenal semboyan ini. Judul buku dari kumpulan surat RA Kartini kepada sahabat penanya di Belanda ini, menjadi semboyan pamungkas yang melecut semangat kaum perempuan untuk keluar dari keterpurukan menuju kemulian hidup. Bahkan tak hanya semboyan, bagi kaum perempuan, ini merupakan mimpi besar, yang hingga kini terus diperjuangkan.

Sayangnya, tidak banyak orang yang tahu isi pemikiran Kartini yang dituangkan dalam surat-suratnya. Tak banyak orang tahu kemana arah perjuangannya dan apa yang menjadi dasar perjuangnnya. Bahkan, tak banyak perempuan yang membaca buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Selama ini, perayaan Hari Kartini setiap tanggal 21 April selalu dirayakan dengan mengadakan lomba memakai konde dan kebaya saja. Sosok Kartini bahkan dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kampanye emansipasi yang menyalahi fitrah wanita, yakni mendorong kaum wanita agar diperlakukan sederajat dengan kaum pria, diperlakukan sama dengan pria, padahal kodrat pria dan wanita berbeda, demikian pula peran dan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini. Karena itu, amat penting bila kaum perempuan mengetahui apa sebenarnya yang menjadi buah pikiran Kartini dalam surat-suratnya.

Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis:
Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.

Bahkan setelah mengenal Islam, pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon.
Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban.

Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis:
Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.
Telah nyata dari surat-surat yang ditulis, bahwa perubahan yang diharapkan oleh RA Kartini adalah perubahan menuju Islam. Perjuangan Kartini lahir dari semangat Islam. Bahkan Ayat-ayat Al Qur’an-lah yang menggugah semangatnya untuk berjuangan.
Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).
Dan harus disadari bahwa perjuangan ini belum selesai. Mimpi besar Kartini untuk mengembalikan kemulian Islam belum tercapai. Masyarakat muslim hari ini semakin menunjukkan kondisi kritis, jauh dari kata mulia. Kehidupan sekuler (baca: memisahkan agama dengan kehidupan) yang lahir dari ideologi kapitalisme menjadikan kaum muslimin jauh dari syariat Islam. Budaya food, fun, fashion yang diusung oleh barat, sudah menjadi life style yang mendarah daging dalam tubuh kaum muslimin. Kaum muslimin hari ini telah menjadikan peradaban barat sebagai kiblat. Agama bukan lagi menjadi hal yang urgent, yang dijadikan sebagai pedoman hidup dan standar kebenaran.

Lebih parahnya, kehidupan kapitalis sekuler, juga menjadikan perempuan, mau tidak mau harus tunduk pada kapitalis. Perempuan dipaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan keluarganya. Perempuan dieksploitasi dengan murah meriah, bekerja dengan gaji rendah. Pekerjaan laki-laki juga kadang digantikan oleh perempuan. Perempuan dituntut menjadi tangguh seperti menjadi tukang parkir, satpam, penambal ban, kuli bangunan dan sebagainya. Bahkan untuk sebuah iklan komersial di dalamnya juga ada eksploitasi wanita seksi. Perempuan dalam kapitalis kerap sekali menjadi sasaran empuk kriminalitas, dibunuh, dimutilasi, diperkosa dan dilecehkan.

Realita ini bukan merupakan kehidupan ideal kaum muslimin menurut Islam. Dan kondisi ini tentu tak bisa dibiarkan, karena akan menimbulkan kerusakan dan kekacauan yang semakin tak tersolusi. Oleh karena itu, millenials muslimah, lahirlah menjadi kartini-kartini zaman now, yang berjuangan mengembalikan kemuliaan Islam. Jangan terjebak pada kehidupan sekuler ala kapitalis yang semakin menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Tapi jadilah sosok millenials, yang mengambil Islam sebagai satu-satunya aturan kehidupan sebagai konsekuensi keimanan. Dan jadilah duta Islam politik yang menyuarakan ideologi Islam sebagai kunci kemuliaan serta menyerukan bahwa islam kaffah sebagai (penyelesai masalah) dalam berbagai problem ummat. Hingga “Habis Gelap Terbitlah Terang” tak hanya jadi semboyan, tapi benar-benar terealisasi dalam kehidupan.

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar