Kamis, 02 Mei 2019

Lubna, Pejuang Literasi dari Cordoba


[KAJIAN SIROH]

Lubna, Pejuang Literasi dari Cordoba

Oleh: Puspita Satyawati

Andalusia adalah salah satu kota di Spanyol yang memiliki sejarah peradaban Islam cemerlang. Salah satunya ditandai dengan kebebasan intelektual di berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Dari kota Andalusia, muncul sederet perempuan hebat yang memiliki kemampuan ilmu pengetahuan. Baik keislaman maupun ilmu lainnya. Salah satunya adalah Lubna.

Lubna dikenal sebagai penyalin naskah dan penulis. Pun mahir dalam bidang gramatikal, penyair, dan pakar ilmu matematika. Ia juga menguasai ilmu 'arudh (panduan menyusun syair Arab) dengan kecerdasan luar biasa.

Lubna tumbuh pada era pemerintahan khalifah Abdurrahman III (931-961) dari Bani Umayah. Seorang khalifah yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan.

Meskipun para khalifah sebelumnya juga memiliki kepedulian tinggi terhadap ilmu pengetahuan, tetapi perhatian terhadap proses penyalinan naskah kuno dan buku baru di berbagai perpustakaan dunia dimulai di eranya.

Tak pelak, situasi yang menunjukkan semangat tinggi terhadap ilmu pengetahuan di masa ini, memfasilitasi kesadaran Lubna menjadi salah satu pecinta ilmu pengetahuan.

Lubna pun disebut sebagai perempuan yang penuh dedikasi terhadap buku perpustakaan pada masanya.

Berjuang sebagai pustakawan kekhalifahan, Lubna berhasil mendapatkan koleksi buku hingga lebih dari 500 ribu buah.

Selama berabad-abad, perpustakaan yang dipimpin Lubna ini terbesar di Eropa dan hanya bisa dikalahkan oleh perpustakaan di Baghdad.

Selain kesuksesannya sebagai pustakawan, perannya sebagai juru tulis juga penting untuk dicontoh.

Juru tulis saat itu melampaui tugas standar seorang penulis dan penerjemah karena dia bertanggung jawab untuk menyalin banyak teks termasuk Euclid dan Archimedes. Apalagi, ia harus memahami sendiri teks yang sudah ada tersebut.
Bersama Hasdai bin Shaprut, Lubna juga menjadi inisiator pembangunan perpustakaan yang sangat terkenal saat itu, Madinah az-Zahra (‘Kota Kembang’).

Berdasarkan sejumlah riwayat dari sejarawan Arab, pada masa al-Hakam II tersebut ada lebih dari 170 perempuan terdidik yang bertanggung jawab untuk menyalin naskah-naskah penting.

Seorang sejarawan dan penulis sejarah Andalusia, Ibnu Bashkuwal mengatakan, Lubna merupakan wanita yang ahli di bidang tulis-menulis, gramatika, dan puisi. Keahlian di bidang matematika dan sainsnya juga luar biasa.

“Saat itu tak ada seorang pun yang lebih mulia dibanding dirinya,” kata Ibnu Bashkuwal. [Ibn Bashkuwal, kitab al-Silla (Cairo, 2008), Vol. 2: 324].

Sosok Lubna mungkin terlupakan dalam peradaban Islam. Namun, berdasarkan sumber yang mengungkap sosok Lubna, kini dia dapat menginspirasi perempuan Muslim yang hidup di zaman ini.

Tidak ada keterangan terkait nama lengkap Lubna. Ia hanya dikenal dengan ‘Lubna dari Cordoba’.

Lubna wafat pada tahun 984 dan belum diketahui penyebab kematiannya. Sebagai pejuang literasi, Lubna telah banyak berkontribusi terhadap peradaban Islam di Andalusia hingga menjadi Spanyol seperti saat ini.

*Ditulis dari berbagai sumber
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar