Minggu, 12 Mei 2019

Menjawab Keterpurukan Indonesia dalam Ketergantungan Ekonomi Liberal


[ SUARA MUSLIMAH ]

// Menjawab Keterpurukan Indonesia dalam Ketergantungan Ekonomi Liberal //
Oleh. Nida Husnia Ramadhani

Mediaoposisi.com-Sebuah kisah alur bisnis penguasa dan perjalanan panjang mengunjungi berbagai tambang dan menyaksikan kehidupan masyarakat sekitar telah dirangkum dalam dokumenter ekspedisi Indonesia Biru bersama tim yang dirilis pada April 2019. ‘Sexy Killers’ menjadi viral dengan beragam dokumentasi tanpa sensor dimana masyarakat bekerja untuk tambang milik penguasa yang sekaligus pengusaha. Sedang kualitas kehidupan mereka, tak kunjung membaik bahkan air minum mereka tak terjamin kejernihan warnanya.

Permainan bisnis SDA ini menjadikan rakyat seolah pion-pion yang bertugas menjaga raja dan paling dulu berkorban serta harus menanggung resiko terbesar yaitu mati. Rakyat senantiasa dihimpit kondisi dilema. Aksi, unjuk rasa, membela nasib para petani yang ladang dan hasil panennya dikhianati dengan impor, buruh kasar yang bekerja keras dengan upah tak seberapa, semua suara itu tumpul tak sampai masuk ke telinga pemegang kendali negara ini.

Tuntutan rakyat tak didengar, inginnya terus bekerja karena tahu SDA itu telah dikelola oleh kerjasama Indonesia dengan asing. Padahal, rakyat butuh menghidupi keluarganya sedang lapangan pekerjaan sempit dan berbatas. Setiap hari harus makan, setiap bulan harus bayar SPP, setiap tahun harus bayar pajak. Mau bagaimana lagi?

Hari ini, imperialisme ekonomi bahkan semakin jahat. Sebut saja, perputaran unicorn yang digagas Aileen Lee sebagai raksasa startup dengan syarat valuasi startup diatas US$ 1 milyar. Katanya, startup justru menjadi lapangan pekerjaan bagi masyarakat, namun ternyata tak sesederhana itu unicorn berputar. Pada hakikatnya, para elit kapitalis yang memegang kendali dunia bisnis online ini menghimpun segala data mulai dari penjual, lapak, pembeli, barang dagang yang laku, dst. Kemudian, data itu diserap untuk dibuat duplikat barangnya dan dijadikan barang “impor” dengan harga murah.

Sehingga, orang berebut membangun bisnis online dengan harapan bisa mendapat penghasilan darinya, padahal potensi kran impor semakin deras, menggeser usaha produksi lokal dengan iming-iming harga murah dan bentuk promo lainnya. Dengan itu, UKM dalam negeri malah tergeser dan akhirnya jatuh.

Sesungguhnya segala perputaran bisnis, baik online maupun offline, ditunggangi oleh ideologi kapitalisme dengan program liberalisasinya. Adi Sasono dan Sritua Arief dalam bukunya, 'Ketergantungan dan Keterbelakangan', membahas tentang hutang luar negeri yang dijadikan sebagai senjata paling mutakhir untuk mengikat negara target agar tunduk dan setia pada segala kebijakannya.

China dan Amerika berebut posisi di wilayah Asia, khususnya Indonesia, dengan saling mempropaganda hutang yang katanya demi memenuhi kebutuhan negara. Apa yang tidak dipunya oleh Indonesia akan dipenuhi oleh China, diproduksi dengan harga jual yang murah, sehingga Indonesia akan senantiasa tergantung pada kebutuhan pasar dengan cara impor.

Hutang luar negeri pun harus diawali dengan beberapa syarat, yaitu: Pembelian barang dan jasa dari negara pemberi pinjaman. Sebelum mengajukan nominal hutang, kita harus bersedia membeli barang atau menggunakan jasa luar negeri yang dengan ini mereka menggunakan kesempatan untuk memainkan ekonomi Indonesia. Kedua, peniadaan kebebasan dalam kebijakan ekonomi tertentu, hal ini sangat riskan terhadap negeri kita. Dari sini, kita mendapat tekanan hebat untuk tidak mengatur ekonomi kita sendiri karena kebebasan kebijkan telah ditiadakan.

Ketiga, permintaan untuk melakukan kebijakan-kebijakan ekonomi “yang dikehendaki” terutama dalam peran sektor swasta dan pembatasan campur tangan langsung pemerintah dalam bidang ekonomi. Dengan kata lain, hutang luar negeri mengajarkan sikap abai pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya dan mental ‘tidak mau tahu’ itu telah terbukti tak menggubris suara rakyat yang menuntut kembalinya kepemilikan SDA.

Tulisan ini hanya jawaban singkat dari se-abreg pertanyaan yang mempertanyakan, “Mengapa kekayaan negeri ini terkuras tapi tak ada satu langkah pun untuk memperbaikinya?” atau, “Mengapa begitu banyak bos-bos asing berseliweran dan negara diam saja?” Ingatlah, bahwa kapitalisme tak akan berhenti menjajah bahkan hingga hilang nama Indonesia dari peta dunia. Ideologi ini akan selalu mengeluarkan peraturan-peraturan baru guna menguntungkan dirinya sendiri dan sejahtera dibawah atap kapital-liberal murni omong kosong. [MO/ms]


0 komentar:

Posting Komentar