Rabu, 15 Mei 2019

Merekatkan Hati Rakyat


[CERMIN HATI] 

/ Merekatkan Hati Rakyat /

Oleh: M. Taufik NT

Salah satu tugas berat pasca pemilu nanti, disamping membangun negeri yang makin terlilit hutang adalah tugas untuk merekatkan kembali hati-hati rakyat yang sudah terpolarisasi. Masing-masing kubu cenderung tidak percaya kepada kubu yang lainnya. Beberapa hal yang mesti diupayakan oleh setiap pihak yang ingin merekatkan hati rakyat, dan ini harus dimulai dari diri masing-masing pihak, terutama kalangan penguasa antara lain:

===

Mengikis Fanatisme

Fanatisme (ashabiyyah) yang tercela adalah sikap selalu berpihak dan membantu anggota kelompok, suku, partai ataupun bangsanya tanpa melihat apakah yang dibela benar ataukah salah. Bintu Watsilah Ibnul Asqa’ pernah mendengar Bapaknya bertanya kepada Rasulullah:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْعَصَبِيَّةُ؟ قَالَ: أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ

“Wahai Rasulullah, Ashabiyah (fanatik kesukuan) itu apa?” beliau menjawab: “Engkau tolong kaummu dalam kezhaliman.” (HR. Abu Dawud)

Sikap seperti ini dicela oleh Rasulullah dan diancam pelakunya dengan siksaan. Rasulullah bersabda:

دَعُوْهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ
“tinggalkanlah fanatisme kesukuan itu, karena fanatisme kesukuan itu busuk” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain Rasulullah bersabda:

وَمَنْ قَاتَل تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِل فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ [1]
Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau menyeru kepada kefanatikan atau menolong (berperang) karena kefanatikan kemudian dia terbunuh, maka matinya seperti mati jahiliyah. (HR. Muslim).

===

Bersikap Adil

Salah satu sikap yang menjadikan rusaknya suatu bangsa adalah ketika elit politik tidak dapat berlaku adil. Fir’aun, walaupun kekuasaannya sangat besar sehingga dia mendakwa dirinya sebagai tuhan, kekuasaan yang besar tersebut tiada berguna ketika dia memperlakukan rakyatnya dengan tidak adil dan memecah belah persatuan rakyat. Allah menyatakan:

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

“Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 4)

Dengan kekuasaannya, walaupun dia yang membuat kerusakan, namun dia malah berusaha memviralkan tuduhan bahwa Nabi Musalah biang segala kerusakan. Dia menebar hoax bahwa Musa, setelah berhasil mengalahkan sekaligus meyakinkan tukang-tukang sihirnya sehingga mereka beriman, justru Musa-lah yang dianggap gurunya tukang sihir tersebut, yang dengan semua tuduhan tersebut menurutnya Musa layak untuk dibunuhnya.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَى وَلْيَدْعُ رَبَّهُ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

Dan Fir‘aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (QS. Ghofir : 26).

Akibat prilakunya yang keterlaluan itu, Allah menggantikan kedudukannya, Dia berfirman:

وَنُرِيدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا فِي الْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَنَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِينَ

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (QS. Al-Qashash: 4)

===

Bersabar dan Lemah Lembut

Terkait dengan hal ini Allah berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ (159)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. {1} Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

===

Islam Mempersatukan

Ajaran Islam itu mempersatukan, maka janganlah diframing negatif ajaran-ajarannya, baik sebagian ajarannya seperti khilafah, apalagi seluruhnya. Islamlah yang telah menyatukan suku Aus dan Khazraj yang selama ratusan tahun mereka berperang, menyatukan jazirah Arab, juga menyatukan lebih dari separo bumi dan membawa mereka kepada peradaban yang tinggi selama berabad-abad. 

Tidak heran jika Gustave Lebon (w. 1931), ilmuwan Perancis: “Orang Arab(Islam) lah yang menyebabkan kita mempunyai peradaban, karena merekalah Imam kita selama enam abad..” (La Civilisation des Arabes).

===

Sementara lihatlah bagaimana rusaknya sisi kemanusiaan yang dihasilkan peradaban kapitalis saat ini, narkoba tidak terkendali, sekitar 50 orang mati over dosis tiap hari, penghuni penjara senantiasa bertambah sekitar 25 ribu per tahun, kriminalitas juga menjadi-jadi, rata-rata 10 ribu orang mati bunuh diri tiap tahun, itu belum terhitung pembunuhan 700.000 bayi lewat aborsi yang dilakukan remaja tiap tahun.

Kalau bukan ke Islam dan aturannya, apakah kita akan merujuk ke Amerika, yang dari sisi tersebut kondisinya juga tidak lebih baik dari Indonesia? Patut direnungkan kembali perkataan Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu anhu:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالإِسْلاَمِ فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ أَذَلَّنَا اللهُ

“Sesungguhnya kita dulu adalah kaum yang hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam, bilamana kita mencari kemuliaan selain dengan yang Allah telah muliakan kita, maka Allah pasti akan menghinakan kita.” (HR. Al Hakim dengan sanad shahih menurut syarat al Bukhory dan Muslim, disepakati oleh Adz Dzahabi).

===
Sumber: https://mtaufiknt.wordpress.com/2019/04/04/merekatkan-hati-rakyat/#more-2999

0 komentar:

Posting Komentar