Selasa, 21 Mei 2019

NABI PUN TETAP TAK MAU KOMPROMI


#SirahPolitikNabi

NABI PUN TETAP TAK MAU KOMPROMI
Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Rasulullah saw. telah meninggalkan Syi’b Abu Thalib, dan mulai beraktivitas seperti biasa. Meski kaum Quraisy telah meninggalkan pemboikotan, tetapi mereka terus berusaha untuk menekan kaum Muslim dan menghalangi dakwah. Karena itu memang pekerjaan mereka. 

Pada saat yang sama, Abu Thalib tetap melindungi keponakannya, tetapi usianya ketika itu sudah lebih dari 80 tahun. Berbagai penderitaan dan peristiwa besar dan berat yang bertubi sejak beberapa tahun terakhir, terutama ketika diboikot di lembah [Syi’b], telah  membuat persendiannya lemah dan rapuh, ada bagian tulang pipihnya juga yang telah retak.  Hanya beberapa bulan setelah keluar dari Syi’b, Abu Thalib terus didera sakit. Ketika itu, kaum Kafir Quraisy khawatir, mengkhawatirkan posisi mereka di mata kaum Quraisy, andai saja Abu Thalib wafat meninggalkan mereka. Mereka pun berusaha sekali lagi mendatanginya, agar Abu Thalib mau membujuk keponakannya. Memberikan apa yang sebelumnya mereka tak sudi memberikannya kepada Nabi saw. Mereka pun mengunjungi Abu Thalib, dan ini merupakan utusan terakhir mereka. 
  
Ibn Ishaq dan yang lain menuturkan, “Ketika Abu Thalib mulai sering mengeluh sakit, dan berita semakin parahnya sakit Abu Thalib itu sampai kepada kaum Quraisy, maka kaum Quraisy itu berkata satu dengan yang lain, “Hamzah dan ‘Umar telah masuk Islam. Urusan [agama] Muhammad ini telah tersebar luar di kalangan seluruh kabilah. Mereka bertolak menemui kami untuk menemui Abu Thalib. Hendaknya segera ambil keponakannya, dan berikankan untuknya dari kita [apa yang sebelumya tak kita berikan]. Demi Allah, kita tidak bisa menjamin mereka akan mengalahkan kita dalam urusan kita.” Dalam redaksi lain dinyatakan, “Kita khawatir Syaikh ini meninggal dunia, sesuatu yang menjadi urusannya akan dikembalikan oleh bangsa Arab kepada kita.” Mereka berkata, “Biarkanlah dia, kalau nanti pamannya sudah meninggal dunia, maka ambillah dia.”    

Mereka menemui Abu Thalib, dan menyampaikan misinya. Mereka adalah para pemuka kaumnya, antara lain ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Abu Sufyan bin Harb, bersama kurang lebih 25 orang tokoh lainnya. Mereka mengatakan, “Wahai Abu Thalib, Anda adalah bagian dari kami. Anda tahu, Anda telah ditemui oleh apa yang Anda lihat, dan kami mengkhawatirkan dirimu. Anda tahu antara kami dengan keponakanmu, maka doakanlah dia, dan ambillah dari kami untuk diberikan kepadanya, dan ambillah darinya apa yang memang harus diberikan kepada kami, agar dia menghentikan permusuhannya terhadap kami, dan kami pun menghentikan permusuhan terhadapnya. Biarkanlah kami dengan agama kami, dan kami pun akan membiarkannya dengan agamanya.”

Abu Thalib pun mengutus orang untuk menemui Nabi saw. Baginda saw. pun datang kepada Abu Thalib, lalu berkata kepadanya, “Wahai keponakanku, mereka ini adalah pemuka kaummu. Mereka berkumpul untuk membahas kamu, memberikan kepadamu, dan mereka pun ingin mengambil darimu.” Abu Thalib pun memberitahukan apa yang mereka kemukakan, dan tawarkan, yaitu agar tidak saling menyerang. Maka, Rasulullah saw. bersabda kepada kepada mereka, “Bagaiman menurut kalian, jika aku memberikan satu kata, yang jika satu kata itu kalian ucapkan, maka dengannya kalian akan menguasai bangsa Arab, dan orang non-Arab pun akan tunduk kepada kalian?”  Dalam riwayat lain, baginda saw. menuturkan kepada Abu Thalib,  “Aku menginginkan mereka agar mau mengucapkan satu kata saja. Dengannya, bangsa Arab tunduk kepada mereka, dan non-Arab akan membayar jizyah kepada mereka.” 

Dalam redaksi lain, “Wahai pamanku, apa Engkau tidak minta mereka  untuk menyampaikan yang lebih baik untuk mereka?” Abu Thalib bertanya, “Apa yang kamu serukan kepada mereka?” Nabi saw. menjawab, “Saya ajak mereka untuk menyatakan satu kata, yang jika mereka mengucapkannya, maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada mereka, dan non-Arab pun akan mereka kuasai.” Dalam riwayat Ibn Ishaq, “Satu kata, yang jika kalian berikan, maka dengannya kalian akan menguasai seluruh bangsa Arab, dan orang non-Arab akan tunduk kepada kalian.”

Ketika baginda saw. menyatakan ungkapan ini, mereka pun terdiam dan bimbang. Mereka tidak tahu bagaimana caranya menolak satu kata yang sangat luar biasa dahsyatnya ini. Kemudian Abu Jahal bertanya, “Gerangan apakah itu? Demi Ayahmu, sungguh aku akan memberikannya sepuluh kali sepertinya.” Nabi saw. menjawab, “Katakanlah, La ilaha Illa-Llah [Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah], dan tinggalkanlah apa yang kalian sembah selain Dia.” Mereka pun ramai menepukkan tangannya, tanda sinis. Mereka berkata, “Apakah kamu, Muhammad, ingin menjadikan tuhan yang banyak itu menjadi hanya satu tuhan? Agamamu ini aneh.” 

Mereka pun saling berkata satu sama lain, “Demi Allah, orang ini tidak memberikan apapun manfaat yang kalian inginkan. Sudah, bubar, dan pergilah dengan agama nenek moyang kalian, hingga Allah memutuskan siapa yang menang, kita atau dia.” Mereka pun bubar, meninggalkan rumah Abu Thalib.

Allah SWT turunkan Q.s. Shad: 1-7 untuk mereka, “Shaad, demi Al Quran yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal (waktu itu) bukanlah saat untuk lari melepaskan diri. Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (rasul) dari kalangan mereka; dan orang-orang kafir berkata: "Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta". Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata): "Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir; ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” 

Dalam riwayat lain, Nabi saw. menuturkan kepada pamannya, “Wahai paman, andai saja mereka sanggup meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan urusan [dakwah]-ku ini, hingga Allah  memenangkannya atau aku binasa karenanya.” 

Begitulah keteguhan Nabi saw. Meski sebelumnya telah merasakan berbagai penyiksaan, persekusi, hingga upaya pembunuhan, tetap tidak menyurutkan tekadnya berdakwah, dan menyampaikan kebenaran. Upaya kompromi yang dilakukan oleh kaum Kafir Quraisy tak satu pun yang sanggup membuatnya meninggalkan dakwah.
This entry was posted in

0 komentar:

Posting Komentar