Rabu, 15 Mei 2019

Nishfu Sya’ban dan Persatuan


/Nishfu Sya’ban dan Persatuan/

Oleh : Wardah Abeedah

Dalam sebuah hadist yang dikeluarkan oleh at-Thabrani dalam al-Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dan juga al-Bayhaqi, bahwasannya Rasulullah Saw. Bersabda,

يطلع الله إلى جميع خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن
Allah mendatangi seluruh mahluknya pada malam nishfu sya'ban dan mengampuni seluruh mahluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.

Hadits di atas merupakan dilalah keutamaan nishfu sya’ban, sekaligus menjadi informasi berharga bagi kita yang ingin meraih keutamaannya. Bagi siapapun yang menginginkan ampunan dari Allah, hendaknya menjauhi kedua maksiat yang disebutkan dalam hadits tersebut ; syirik dan bermusuhan.

Musyrik, artinya pelaku kesyirikan. Secara bahasa syirik diartikan persekutuan, penyertaan, pembandingan, pencampuran, penyamaan. Sedangkan secara istilah, definisi syirik menurut Syaikh Sulaiman bin Abdillah Alu Syaikh adalah, “(Syirik adalah) menyerupakan makhluk kepada Allah dalam kekhususan ilahiyah (sifat ketuhanan). Seperti dalam menguasai mudarat dan manfaat, memberi dan menghalangi; yang sifat ini menjadikan doa, rasa takut, rasa harap, tawakal dan seluruh macam ibadah bergantung hanya kepada Allah semata.” (Taisirul Azizil Hamid)

Adapun yang dimaksud dengan bermusuhan dalam hadits di atas konteksnya adalah permusuhan yang diharamkan syariat, bukan permusuhan yang dibolehkan bahkan diwajibkan syara', seperti hubungan permusuhan terhadap kafir harbiy, misalnya Akan tetapi permusuhan yang ditujukan pada sesama muslim.

Dalam banyak nash, Allah sudah menyebutkan bahwa sesama muslim adalah bersaudara. Bahkan dalam banyak nash, Allah dan RasulNya Saw menggunakan kata "akh" (saudara) untuk menyebut muslim lainnya. Sebgaimana dalam surat Al Baqarah ayat 178, dan dalam hadits keutamaan senyum,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu dihadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu” (HR.Tirmidzi-Shahih).

Atau hadits tentang keutamaan menolong sesama muslim,

اللهُ فِـي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ “

Dan Allah senantiasa menolong hamban-Nya selagi hamba itu sudi menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Persatuan antar muslim sangat penting. Allah telah menetapkan bahwa ikatan persaudaraan antar mukmin adalah didasari aqidah. Allah telah melarang keras orang-orang mukmin terpecah dan berselisih, bahkan memerintahkan mereka untuk mendamaikan kelompok-kelompok mukmin yang berselisih sebagaimana firman Allah dalam surat Al hujurat ayat 9-10

فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujuraat: 9-10).

Pada nishfu (pertengahan) sya’ban kali ini, dimana suhu politik sedang panas, adalah momen tepat untuk menguatkan tauhid dan menghapus kesyirikan. Hendaknya aqidah kita kokoh untuk menghamba, loyal, dan berharap hanya pada Allah. Hendaknya kita meyakini bahwa apa yang Allah tetapkan berupa syariat Islam adalah sistem kehidupan terbaik, dan kita harus memperjuangkannya. Haram hukumnya kita merasa ada hukum atau sistem hidup yang sama baiknya dengan hukum dan sistem hidup buatan Allah.

Momen nishfu sya’ban kali ini hendaknya kita mengokohkan persatuan umat Islam. Agar tak mudah terpecah belah, tak mudah dihasut untuk bermusuhan dengan saudara se aqidah, dan menjaga ukhuwah Islam. Siapapun orangnya, apapun kelompoknya, selama dia meyakini Allah sebagai Rabb dan Muhammad Saw sebagai utusan Allah, dia adalah saudara yang wajib kita jaga dan lindungi darah dan kehormatannya. Jika pun kita menunaikan hak saudara kita berupa nasihat dan amar makruf nahi munkar, lakukan karena Allah, dengan adil dan cara yang makruf (baik).

Kita perlu memahami bahwa musuh kita adalah kafir penjajah yang sedang mengadu domba umat Islam, menjajah negeri ini dan negeri-negeri muslim lainnya secara politik dan ekonomi. Yang memaksakan sistem hidup Kapitalisme jahat diterapkan di negeri kiaum muslimin.

Musuh kita adalah mereka yang merebut tanah kita di Palestina, mengobok-obok Suriah, Afganistan, Yaman melalui anteknya dengan memfitnah Islam dan yang menguras sumber daya alam kita. Mereka yang merusak moral generasi kita dengan menjajah pemikiran dan penjajahan budaya, sehingga generasi kita akrab dengan narkoba, miras, dan seks bebas. Musuh kita adalah kafir Barat yang mengemban dan mengekspor ideologi sekuler-kapitalis ke negeri-negeri muslim.

Mari bersatu, kokoh dalam persatuan dibawah kalimat tauhid. Bersatu untuk menghancurkan berhala-berhala Kapitalis dan ide-ide di dalamnya.

Alangkah celakanya jika kita terjebak pada propaganda penjajah yang membuat kita bergandeng mesra dengan musuh, tapi keras memusuhi saudara. Hendaknya pula, pemimpin negeri-negeri muslim menghamba dan loyal pada Allah dan Islam, bukan pada musuh-musuh Islam dan umat Islam.

Jangan sampai kita termasuk golongan celaka yang tak meraih ampunan di malam nishfu ya’ban ini. Malam dimana semua makmin berbahagia dengan ampunan Allah, Semoga, kita tak termasuk segelintir mahluk yang tak ikut mendapat ampunan di malam mulia ini. Allahu a’lam

0 komentar:

Posting Komentar