Selasa, 21 Mei 2019

Ramadan Bulan Mewujudkan Dua Junnah


Benar, bulan ini harus menjadi bulan peneguhan perjuangan sepanjang zaman. Terlebih, Ramadan tahun ini sungguh spesial. Di tengah banyaknya fitnah terhadap umat Islam di seluruh dunia -tak terkecuali di Indonesia-, maka puasa selayaknya mendorong ditingkatkannya kadar takwa umat. Hanya dengan spirit itu, perjuangan menuju tegaknya Khilafah Islam bisa segera terwujud dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala.
______________

/ Ramadan Bulan Mewujudkan Dua Junnah /

Oleh: Ustazah Noor Afeefa

Ramadan yang dinanti telah tiba. Kaum muslim tentu bergembira melaksanakan kewajiban puasa sebulan penuh. Meski pernah menjadi amalan para nabi dan kaum terdahulu, namun bagi kaum muslim puasa tentulah sangat istimewa. 

Hal ini karena puasa -yang menjadi amalan pokok di bulan Ramadan ini- memang memiliki banyak keutamaan. Salah satu keutamaannya adalah bahwa puasa merupakan perisai (junnah) bagi seorang muslim. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis Nabi shallallahu'alaihi wa sallam:

وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِم

“Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim).

===

Sebagai perisai (جُنَّة), maka puasa akan melindungi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa menjadi tameng bagi orang yang berpuasa dari perbuatan keji dan amalan yang bisa merusak ibadah dan pahala puasa. Puasa juga akan memupus syahwatnya dari perbuatan dosa. Adapun di akhirat maka puasa menjadi perisai dari api neraka. Puasa akan melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (HR. Ahmad).

Di riwayat yang lain dinyatakan: “Puasa adalah perisai dari neraka, seperti perisai salah seorang diantara kamu dari peperangan”. (HR. Ahmad, al-Nasai, dan Ibnu Majah).

Itulah puasa yang selalu kita harapkan kesempurnaan amalannya. Kita tentunya ingin agar puasa kita benar-benar menjadi pelindung di dunia dan akhirat.

===

Puasa dan Takwa

Keberadaan puasa sebagai perisai juga sejalan dengan hikmah disyariatkannya puasa, yakni agar terbentuk ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala (QS. Al baqarah [2]:183). Sebab, puasa sebagai junnah menjadi perisai bagi individu agar terhindar dari kedurhakaan yang bisa mencederai takwanya kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Hanya saja, tentu tak cukup hanya ketakwaan individu yang terbentuk dan meningkat. Yang dibutuhkan dan diwajibkan juga adalah adanya ketakwaan kolektif, yaitu ketakwaan keluarga, masyarakat dan negara. 

Sebab, mengutip pernyataan Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu anhu, “Takwa kepada Allah itu bukan dengan sering shaum di siang hari, sering shalat malam, atau sering melakukan kedua-duanya. Akan tetapi, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang Allah haramkan dan melaksanakan apa saja yang diwajibkan”. 

Sementara, perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta'ala tidak hanya menyangkut persoalan individu semata. Banyak sekali hukum-hukum yang berkaitan dengan keluarga, masyarakat bahkan negara. Contohnya, keharaman riba. Tentu, yang dimaksud tak hanya agar individu meninggalkannya, namun juga bagi masyarakat dan negara. Bahkan negara harus menegakkan sanksi bagi pelaku riba dan menjalankan sistem ekonominya berdasarkan Islam. 

Dan masih banyak lagi hukum-hukum yang memerlukan ketakwaan kolektif untuk melaksanakannya. Puasa itu sendiri akan benar-benar menjadi junnah hanya bila negara hadir dan berperan menegakkan hukum-hukum yang berkaitan dengan puasa ini.

Negara harus membangun suasana takwa bagi warga negaranya. Negara juga harus menegakkan aturan (sanksi) bagi mereka yang melanggar kewajiban ini. Artinya, ketakwaan hakiki bukan hanya pada individunya saja, namun juga keluarga, masyarakat dan negara. 

Walhasil, ketakwaan kolektif sangat penting dan diperlukan agar seluruh hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala ditegakkan. Inilah ketakwaan sesungguhnya yang diharapkan dari pelaksanaan kewajiban puasa Ramadhan.

===

Imam dan Perisai

Ketakwaan kolektif, akan termanifestasikan dalam sebuah masyarakat dan negara yang menjalankan seluruh hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala. Itulah negara Khilafah Islam. Pemimpinnya (al Imam) akan berfungsi juga sebagai pelindung bagi rakyatnya. 

Di sinilah, ternyata al Imam (pemimpim umat) yang memerintahkan takwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala juga dipredikati sebagai junnah (perisai) oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadis, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad).

===

Dengan demikian, di samping puasa, ternyata Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam juga menggunakan istilah perisai (junnah) bagi pemimpin yang bertakwa (Khalifah). Sebab, frase “Imam” dalam hadis tersebut bermakna al-Khalifah. Maka makna kalimat “al-imamu junnah” adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya. 

Al-Imam an-Nawawi menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim, “(Imam itu perisai) yakni seperti as-sitr (pelindung), karena imam (khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum muslimin, dan mencegah antar manusia satu dengan yang lain untuk saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam, dan manusia berlindung di belakangnya dan mereka tunduk di bawah kekuasaannya.”

Adanya indikasi pujian ini menunjukkah bahwa berita dalam hadis ini bermakna tuntutan (thalab), yakni tuntutan yang pasti hingga berfaidah wajib. Dalam hadis tersebut juga dipahami bahwa seorang imam (khalifah) diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan Rasul-Nya untuk memerintah manusia yang ada dibawah kekuasaannya dalam ketaatan dan berbuat adil yaitu dengan memberlakukan hukum-hukum Allah. 

===

Ramadan dan Dua Junnah

Demikianlah, dua buah perisai tersebut pada hakikatnya saling berkaitan satu dengan lainnya. Puasa dan kepemimpinan Islam (Khilafah) sesungguhnya bermuara pada ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Puasa menjadi perisai dari kedurhakaan agar terbentuk ketakwaan. 

Demikian pula Khilafah, merupakan manifestasi ketakwaan secara kolektif untuk memberlakukan hukum-hukum Allah subhanahu wa ta'ala. Kedua perisai tersebut tentu harus diwujudkan oleh kaum muslim.  

Oleh karena itu, Ramadan tentu akan memberikan spirit kuat kepada umat Islam. Sebab, hanya di Ramadan, kaum muslim sedunia serentak berpuasa. Serentak pula mereka menggaungkan doa dan menyerahkan urusannya kepada Allah. Serentak pula untuk meminta ampunan Allah subhanahu wa ta'ala atas dosa dan maksiat yang selama ini dilakukan. Maka selayaknya pula, umat serentak untuk memikul perjuangan menegakkan hukum-hukum Allah dalam sistem Khilafah Islam. 

Benar, bulan ini harus menjadi bulan peneguhan perjuangan sepanjang zaman. Terlebih, Ramadan tahun ini sungguh spesial. Di tengah banyaknya fitnah terhadap umat Islam di seluruh dunia -tak terkecuali di Indonesia-, maka puasa selayaknya mendorong ditingkatkannya kadar takwa umat. Hanya dengan spirit itu, perjuangan menuju tegaknya Khilafah Islam bisa segera terwujud dengan izin Allah subhanahu wa ta'ala. []

0 komentar:

Posting Komentar