Sabtu, 06 Juli 2019

Angka Perceraian Tinggi, Adakah Solusi?/


[KAMPANYE SISTEM ISLAM WUJUDKAN KETAHANAN KELUARGA] 
/Angka Perceraian Tinggi, Adakah Solusi?/

Oleh : Novia Roziah

Katanya, Relationship goals dari sebuah hubungan adalah pernikahan. Tapi, ternyata  mempertahankan pernikahan lebih sulit.

 Pernikahan adalah jalan untuk membentuk keluarga. Melalui pernikahan akan menghasilkan keluarga yang bahagia.

 Harapan setiap keluarga ini di dukung oleh program pemerintah dengan menetapkan tanggal 29 juni sebagai hari keluarga nasional. 
Tahun ini tema Harganas adalah “Hari Keluarga, Hari Kita Semua”.

 Sejak dicanangkan pada tahun 1973, artinya 26 tahun yang lalu, program pemerintah ini belum menunjukkan korelasi dengan kebahagian dan keutuhan keluarga. Buktinya, angka perceraian dari tahun ketahun terus meningkat. 

Tidak hanya menjadi fenomena kota metropolitan, yang notabene dekat dengan gaya hidup individualistic. Angka perceraian juga merebak hampir di seantero nusantara.

Di jember, pada tahun 2017 tercatat ada 5.898 kasus perceraian. Sementara pada tahun 2018 jumlahnya meningkat hingga mencapai 6.326 kasus perceraian. Kasus perceraian gugatan yang diajukan pihak suami (laki-laki) Cerai Talak terdapat 1.745 perkara sedangkan Cerai Gugat pihak Istri terdapat 4.581 perkara. Hal ini disampaikan Ketua Pengadilan agama (PA) Jember, Drs. H. A. imron, AR,SH,MA melalui Humas pengadilan Agama Jember Drs Anwar SH,MH. Perlu juga diketahui selama rentang tahun 2018 Pengadilan Agama telah memutuskan sebanyak 13.193 perkara. Namun, masih ada tunggakan perkara belum terselesaikan sejumlah 889 untuk diselesaikan do tahun 2019. (majalahgempur.com)

Di jawa timur tercatat sekitar 121 ribu kasus perceraian. Ini sungguh angka yang tidak sedikit. Hal ini mendorong  gubernur jawa timur, Khofifah Indar Parawansyah melakukan koordinasi antar instansi, ormas dan lembaga perguruan tinggi untuk menekan angka perceraian yang terus meningkat. “Saya ingin ini menjadi starting point kami untuk mengintervensi semaksimal mungkin untuk menurunkan angka perceraian dan nikah dini di jatim” ungkap Khofifah.

Data tingginya angka perceraian di dunia juga lebih mencengangkan. Di Amerika angka perceraian mencapai 46 persen.  ketidaksetiaan, kemiskinan, alkoholisme, dan kecanduan narkoba menjadi penyebab tingginya tingkat perceraian.

Meski berbagai solusi diberikan, seperti program suscatin (Kurus Calon Pengantin)di Jawa Timur, nampaknya belumlah berhasil.

Tingginya perceraian yang terjadi massif dan merata di seluruh dunia menunjukkan bahwa problem ini bukan sekedar berakar dari kesalahan individu semata.

Masalah yang utama adalah disebabkan paradigma masyarakat dunia tentang kehidupan dan pernikahan, jauh berbeda dari paradigma (ajaran) Islam. Pernikahan dianggap sekedar formalitas atau penyatuan cinta, bukan difahami sebagai aktivitas ibadah. Padahal dalam Islam tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah, taat, patuh dan tunduk pada Allah. Maka dalam setiap aspek kehidupan termasuk pernikahan dinilai sebuah ibadah. Maka menjalani pernikahan harus dengan tunduk pada syariat Allah.

 Pemikiran menjauhkan agama dari ranah kehidupan (baca; sekularisme) ini, justru membuat keluarga jauh dari kebahagiaan. 

Ditambah dengan kebijakan pemerintah yang jauh dari politik Islam. Misal  pengarusan ide kesetaraan gender, kegagalan dalam menciptakan lapangan kerja bagi laki-laki, kebijakan ekonomi yang membuat pemenuhan kebutuhana semakin sulit,dll. 

Problem perceraian adalah problem sistemik yang tak bisa disolusi secara parsial.  Dibutuhkan perubahan mendasar secara sistemik untuk mewujudkan keluarga bahagia di Indonesia. Tentunya hal ini dengan membuang sistem kehidupan sekuler kapitalis yang diterapkan secara politik oleh negara. Lalu menggantinya dengan sistem hidup buatan Sang Pencipta manusia, Allah SWT. Yakni sistem hidup atau syariah Islam yang diterapkan secara sempurna oleh individu, keluarga muslim dan oleh negara. Allahu a'lam

0 komentar:

Posting Komentar