Sabtu, 06 Juli 2019

Berlaku Adil


/ Berlaku Adil /

Oleh: M. Taufik NT

#InfoMuslimahJember -- Salah satu sikap yang dekat dengan takwa adalah sikap adil.

وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُواۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (al Maidah : 8 )

===

Adil terlaksana jika memenuhi dua hal:
1) memosisikan siapa saja sejajar di hadapan hukum, baik orang tersebut dicintai atau dibencinya.

2) hukum yang dipakai adalah hukum Allah Ta’ala.

Ketika menjelaskan ayat al Ma’idah ayat 2, Imam Ibn Katsir menyatakan:

لَا يَحْمِلَنَّكُمْ بُغْضُ قَوْمٍ قَدْ كَانُوا صَدُّوكُمْ عَنِ الْوُصُولِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَذَلِكَ عَامَ الْحُدَيْبِيَةِ، عَلَى أَنْ تَعْتَدُوا [فِي] حُكْمِ اللَّهِ فِيكُمْ، فَتَقْتَصُّوا مِنْهُمْ ظُلْمًا وَعُدْوَانًا، بَلِ احْكُمُوا بِمَا أَمَرَكُمُ اللَّهُ بِهِ مِنَ الْعَدْلِ فِي كُلِّ أَحَدٍ

“Jangan sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum yang dahulunya pernah menghalang-halangi kalian untuk sampai ke Masjidil Haram yang terjadi pada tahun perjanjian Hudaibiyah mendorong kalian melanggar hukum Allah terhadap mereka. Lalu kalian mengadakan balas dendam terhadap mereka secara aniaya dan permusuhan. Tetapi kalian harus tetap memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kalian, yaitu bersikap adil dalam perkara yang hak terhadap siapa pun.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/12. Maktabah Syamilah)

===

Menentang Hukum Syari’ah: Tidak Adil

Adil bukanlah semata-mata memberikan perlakuan yang sama kepada setiap orang, namun adil adalah ketika menjalankan hukum Allah kepada setiap orang.

Seseorang tidak bisa disebut adil kalau dia tenggelam dalam kubangan dosa-dosa besar: biasa meninggalkan sholat wajib, bergelimang riba, zina, mendzolimi hak orang lain, menebar fitnah, dll, atau terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil, orang seperti ini dalam Islam disebut fâsik.

Seorang hakim/qodhi tidak bisa disebut adil jika dia memutuskan perkara dengan menggunakan hukum yang bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, misalnya memutuskan pembagian harta waris secara merata kepada seluruh ahli waris, karena hukum Allah telah menentukan bagian masing-masing, tidak disamakan antara ahli waris.

Seorang penguasa juga tidak bisa disebut adil, walaupun dia memutuskan dengan hukum Allah di satu sisi, namun di sisi lain melanggar proses hukum yang telah Syara’ tentukan, seperti menyelesaikan sengketa diantara manusia tanpa proses pengadilan, hanya lewat konferensi pers, atau keputusan sepihak, tanpa pembuktian dan atau sumpah dari pihak yang bersengketa. Rasulullah menyatakan:

قَضَى رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَنَّ اَلْخَصْمَيْنِ يَقْعُدَانِ بَيْنَ يَدَيِ اَلْحَاكِمِ

“Rasulullah ﷺ menetapkan bahwa dua pihak yang berselisih keduanya duduk didepan hakim” (HR. Abu Dawud dari Abdullah bin Zubair, dishahihkan oleh al Hâkim)

===

Khalifah Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu pernah membeli seekor kuda dari seseorang, kemudian beliau mengendarai kuda tersebut, namun tidak berapa lama kemudian kuda itu cacat. Umar bermaksud mengembalikan kuda tersebut ke pemiliknya, namun pemiliknya menolak.

Maka Umar berkata: “Pilihlah orang yang akan memutuskan antara aku dan engkau”

Penjual menjawab: “(Aku ingin) Syuraih al Iraqy (menjadi hakim bagi kita berdua).”

Maka mereka berdua mendatangi Syuraih untuk memutuskan masalah mereka. Setelah mendengar alasan kedua belah pihak, Syuraih memutuskan: “Wahai Amirul Mukminin, ambillah (kuda) yang telah Anda beli, atau kembalikan (kuda tersebut) dalam keadaan seperti tatkala Anda membelinya.”

Umar berkata: “Hanya beginikah pengadilan ini?”, yakni sederhana saja penyelesaiannya, tidak bertele-tele. Umar lalu mengangkat Syuraikh menjadi Qadhi di Kufah dan beliau menjabat Qadhi di sana selama 60 tahun.” (Dr. M Husain Haikal, Al Faruq ‘Umar, hal 204).

Bayangkan, Umar saat itu adalah khalifah, menguasai negara yang membentang luas meliputi 7 negara di jazirah Arab, lalu Mesir, Suriah, Palestina, Irak, Iran, dll, namun tidak semena-mena, beliau mengikuti proses pengadilan walaupun hanya dalam urusan seekor kuda.

===

Hilangnya Sikap Adil: Penyebab Kehancuran

Ibn Katsir mengutip pernyatan sebagian ulama salaf:

‎مَا عَامَلْتَ مَنْ عَصَى اللَّهَ فِيكَ بِمِثْلِ أَنْ تُطِيعَ اللَّهَ فِيهِ وَالْعَدْلُ بِهِ، قَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ.

“Selama kamu memperlakukan orang yang durhaka kepada Allah terhadap dirimu dengan perlakuan yang berlandaskan ketaatan kepada Allah, dan selalu berlaku adil dalam menanganinya, niscaya langit dan bumi akan tetap tegak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/12. Maktabah Syamilah)

Bagaimana cara memperlakukan orang yang durhaka berlandaskan ketaatan kepada Allah? Tidak lain adalah dengan menerapkan hukum Allah kepada mereka, bukan hukum lain, tanpa pandang bulu.

Rasulullah pernah bersabda:

فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

“Sesungguhnya hancurnya manusia sebelum kalian (adalah) karena apabila ada yang mencuri dari kalangan bangsawan mereka, mereka membiarkannya, dan apabila yang mencuri dari kalangan lemah, mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi dzat yang diri Muhammad di tangan-Nya seandainya Fathimah anaknya Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya. (HR. al Bukhari).

Tidak menerapkan hukum Allah, atau menerapkan hukum Allah namun memilih-milih hukumnya, atau memilih-milih kepada siapa hukum itu diberlakukan dan kepada siapa hukum itu tidak dijalankan, adalah sikap tidak adil, yang akan berujung pada kehancuran. Allaahu A’lam. []

===
Sumber: http://telegra.ph/Berlaku-Adil-11-06

0 komentar:

Posting Komentar