Sabtu, 06 Juli 2019

Dehumanisasi di Balik Emansipasi Atas Nama Perberdayaan Perempuan


[KAMPANYE SISTEM ISLAM WUJUDKAN KETAHANAN KELUARGA] 
/Dehumanisasi di Balik Emansipasi Atas Nama Perberdayaan Perempuan/

Oleh: Yulida hasanah

Tingginya kasus perceraian dan pernikahan dini yang terjadi di Jember mendapatkan perhatian khusus dari  Koordinator Pusat Pemberdayaan Masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Jember (Unej) Hermanto Rohman. Beliau berpendapat bahwa masalah yang menimpa perempuan tersebut akan berpotensi merugikan kaum perempuan itu sendiri. Di antaranya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), maupun kemiskinan. Sedangkan, kebanyakan kasus ini terjadi di perdesaan.

Menurutnya, tingkat pendidikan yang rendah serta kurangnya akses dan pendampingan bagi perempuan perdesaan menjadi salah satu musabab . Sehingga di kawasan desa, masih banyak ditemukan isu dan masalah terkait perempuan. “Ini yang menjadi alasan pentingnya pemberdayaan dan pendampingan terhadap perempuan di desa. Terlebih, banyak desa yang masih belum menyadari pentingnya memberdayakan perempuan. Padahal peran mereka sangat urgent,” jelasnya.

Masalah yang menimpa perempuan di Jember, juga mengundang tanggapan dari Koordinator Pusat (Korpus) Kuliah Kerja Nyata (KKN) LP2M Unej Ali Badrudin. Bahwa, bertolak dari tingginya persoalan perempuan di desa ini, pihaknya bakal mengusung program pendampingan perempuan dalam pelaksanaan KKN bagi mahasiswa pada tahun ini. Sejauh ini, LP2M Unej masih menyusun program tersebut. (radarjember.com)

Dari dua pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa biang masalah yang menimpa perempuan khususnya perempuan di desa adalah karena tidak adanya pemberdayaan perempuan yang lebih dikenal dengan usaha untuk mewujudkan persamaan hak sosial ekonomi di masyarakat dan membebaskan kaum perempuan dari sistem aturan yang membuat mereka terbelakang dan tidak maju. 

Namun, apakah benar dengan adanya program pemberdayaan perempuan tersebut akan mampu mengentaskan masalah-masalah kaum perempuan, khususnya kaum perempuan desa di Jember?

Pemberdayaan Perempuan Merupakan Wujud Dari Emansipasi

Tak bisa dipungkiri bahwa program pemberdayaan perempuan bukan hanya ramai digalakkan di Kabupaten Jember saja. Namun, secara nasional bahkan internasional, program ini telah membuat sebuah gambaran bahwa perempuan akan terbelakang dan akan selalu menjadi makhluk nomer dua jika terus menerus diam tak berdaya. 

Selain itu, pemberdayaan perempuan yang mereka maksud adalah menjadikan para perempuan mandiri dalam segala hal (ekonomi, pendidikan, sosial, politik, dll)sebagaimana kaum laki-laki. Dan sesungguhnya pemberdayaan perempuan semacam ini tidak lain adalah wujud dari emansipasi yang telah lama disuarakan oleh kalangan Barat. Sedangkan emansipasi ini merupakan wujud nyata dari agenda feminisme.

Untuk mengetahui bagaimana feminisme itu lahir dan berkembang, kita harus melihat kondisi Barat (dalam hal ini Eropa) pada abad pertengahan, yaitu masa ketika suara-suara feminis mulai terdengar. Pada Abad pertengahan, gereja berperan sebagai sentral kekuatan, dan Paus sebagai pemimpin gereja, menempatkan dirinya sebagai pusat dan sumber kekuasaan. Sampai abad ke-17, gereja masih tetap mempertahankan posisi hegemoninya, sehingga berbagai hal yang dapat menggoyahkan otoritas dan legitimasi gereja, dianggap seabagai heresy dan dihadapkan ke Mahkamah Inkuisisi. Nasib perempuan barat  tak luput dari kekejian doktrin-doktrin gereja yang ekstrim dan tidak sesuai dengan kodrat manusia.

Menurut  McKay, pada dekade 1560 dan 1648 merupakan penurunan status perempuan di masyarakat Eropa. Reformasi yang dilakukan para pembaharu gereja tidak banyak membantu nasib perempuan.  Studi-studi spiritual kemudian dilakukan  untuk memperbaharui konsep   Saint Paul’s tentang perempuan, yaitu perempuan dianggap sebagai sumber dosa dan merupakan makhluk kelas dua di dunia ini. Walaupun beberapa  pendapat pribadi dan hukum publik yang berhubungan degan status perempuan di barat cukup bervariasi, tetapi terdapat bukti-bukti kuat yang mengindikasikan bahwa perempuan telah dianggap sebagai makluk inferior.  Sebagian besar perempuan diperlakukan sebagai anak kecil-dewasa yang bisa digoda atau dianggap sangat tidak rasional. Bahkan pada tahun 1595, seorang profesor dari Wittenberg University melakukan perdebatan  serius mengenai apakah perempuan itu  manusia atau bukan. Pelacuran merebak dan dilegalkan oleh negara. Perempuan menikah di abad pertengahan juga tidak memiliki hak untuk bercerai dari suaminya dengan alasan apapun. 

Ide ”kebebasan” atas nama emansipasi perempuan telah membuat perempuan barat mengingkari kodrat mereka sebagai perempuan  Melihat problematika sosial yang melanda masyarakat Barat saat ini, terutama kaum perempuannya, sangatlah berbahaya jika masih ada saja orang-orang yang menganggap bahwa feminisme  dapat memberikan solusi bagi  permasalahan perempuan di negeri ini, termasuk di Jember. Kita sepatutnya merasa iba kepada Barat karena tanpa sadar mereka telah menjadi korban ideologi  yang merusak tatanan sosial kemasyarakatan dan mencabut nilai-nilai religius dari peradaban mereka.

Terapkan Islam, Perempuan Dijamin Aman !

Sebab, sungguh sangat jauh berbeda perlakuan Syari’at Islam terhadap kaum perempuan. Syari’at Islam kaffah yang dijadikan sebagai aturan kehidupan yang mencakup didalamnya aturan terhadap kaum perempuan, telah terbukti bahwa Islam sangatlah memuliakan perempuan baik sebagai anak, ibu, istri dan sebagai bagian dari masyarakat.

Saat menjadi anak, kelahiran anak wanita merupakan sebuah kenikmatan agung, Islam memerintahkan untuk mendidiknya dan akan memberikan balasan yang besar sebagaimana dalam hadits riwayat `Uqbah bin ‘Amir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita lalu bersabar menghadapi mereka dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya maka mereka akan menjadi penolong baginya dari neraka.” (HR. Ibnu Majah: 3669, Bukhori dalam “Adabul Mufrod”: 76, dan Ahmad: 4/154 dengan sanad shahih, lihat “Ash-Shahihah: 294).

Ketika menjadi seorang ibu, seorang anak diwajibkan untuk berbakti kepadanya, berbuat baik kepadanya, dan dilarang menyakitinya. Bahkan perintah berbuat baik kepada ibu disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  sebanyak tiga kali baru kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan perintah untuk berbuat baik kepada ayah. Dari Abu Hurairah berkata,

“Datang seseorang kepada Rasulullah lalu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk menerima perbuatan baik dari saya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu,’ dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah kembali menjawab, ‘Ibumu,’ lalu dia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah menjawab, ‘Bapakmu.'” (HR. Bukhori: 5971, Muslim: 2548)

Begitu pun ketika menjadi seorang istri, Islam begitu memperhatikan hak-hak wanita sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nisa’ ayat 19 yang artinya:

“…Dan pergaulilah mereka (para istri) dengan cara yang baik…”

Dan saat wanita menjadi kerabat atau orang lain pun Islam tetap memerintahkan untuk mengagungkan dan menghormatinya. Banyaknya pembahasan tentang wanita di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah menunjukkan kemuliaan mereka.

Inilah yang seharusnya kita perjuangkan, yaitu mengembalikan Islam dalam kehidupan. Dengannya mulialah para perempuan. Sebab Islam adalah syari’at manusiawi yang Allah SWT turunkan tak hanya sebagai rahmat bagi kaum perempuan namun juga untuk seluruh alam. Wallaahua’lam

#IslamMenjagaKeluarga 
#InfoMuslimahJember 
@infomuslimahjember 
#jember #islam #keluarga #family #harganas 
——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar