Sabtu, 06 Juli 2019

Hari Raya


/ Hari Raya /

Oleh: Arief B. Iskandar

Ramadan telah kita tinggalkan. Idulfitri telah menghampiri. Hari Raya telah menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa. Bukan kembali berkubang dalam dosa. Begitulah seharusnya.

Puasa sejati pasti berbekas dalam diri. Kembali suci saat tiba Idulfitri. Kembali tunduk dan patuh kepada Ilahi. Bukan kembali mengotori diri dan ingkar kembali. 
Sebagian ulama menyebut Hari Raya Idulfitri sebagai Hari Kemenangan. Menang melawan hawa nafsu. Menang melawan setan. Menang melawan setiap kecenderungan dan perilaku menyimpang. Inilah yang sepantasnya dirayakan oleh orang yang berpuasa.

Karena itu Hari Raya bukanlah diperuntukkan bagi mereka yang memiliki segala hal yang serba baru. Baju baru, perhiasan baru, kendaraan baru, atau rumah baru. Hari Raya hanya layak dipersembahkan kepada mereka yang ketaatannya ‘baru’ (bertambah). 

Dalam bahasa sebagian ulama dinyatakan, “Laysa al-‘id li man labisa al-jadid, innama al-‘id li man tha’atuhu tazid (Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang ketaatannya bertambah).”

Dengan kata lain, pasca puasa seorang Muslim selayaknya menyandang predikat takwa. La’allakum tattaqun (QS al-Baqarah [2]: 183). 

Tentu bukan takwa yang pura-pura. Sekadar demi citra. Demi meraih tahta dan kuasa. Namun, takwa yang bertambah sempurna. Takwa yang makin paripurna. Takwa yang sebenarnya (haqqa tuqatih) (QS Ali Imran [3]: 102). 

Mereka inilah yang layak bergembira di  Hari Raya. Demikian sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa al-jadid, innama al-‘id li man taqwahu yazid (Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang ketakwaannya bertambah).”

Salah satu definisi takwa yang sebenarnya dinyatakan oleh Imam al-Hasan. Kata Imam al-Hasan, sebagaimana dikutip oleh Imam ath-Thabari di dalam tafsirnya, kaum yang bertakwa adalah mereka yang senantiasa takut terjerumus pada apa saja yang telah Allah haramkan atas mereka dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan kepada mereka. 

Sebagaimana orang akan selalu berhati-hati berjalan dengan kaki telanjang di jalanan yang penuh duri karena khawatir kakinya terluka sebab tertusuk duri, begitulah sejatinya orang yang bertakwa. Orang yang bertakwa tentu selalu berhati-hati dalam hidupnya karena khawatir bahkan takut akan terjatuh pada segala perkara yang haram. Sebab setiap keharaman yang dilakukan pasti menuai dosa. Setiap dosa bakal mengundang ancaman berupa murka-Nya. Inilah yang ditakutkan orang yang bertakwa. Jika pasca puasa rasa takut terhadap ancaman murka-Nya ini selalu melekat dalam diri seorang Muslim, maka dia layak bergembira di Hari Raya. 

Sebab, sebagaimana kata sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa al-jadid, innama al-‘id li man ittaqa al-wa’id (Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan sesuatu yang serba baru. Hari Raya hanyalah untuk orang yang takut terhadap ancaman [murka-Nya]).”

Sayang, hari-hari ini, selepas puasa Ramadan, kita masih menyaksikan sebagian Muslim seperti hilang rasa takutnya terhadap ancaman murka Allah SWT. Padahal mereka rata-rata berpuasa selama Ramadhan. Buktinya, selepas puasa Ramadan, dilanjutkan dengan berhari raya, banyak Muslim yang masih enggan meninggalkan dusta. Banyak yang tetap melanjutkan perbuatan tercela. Misalnya, meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara. Termasuk dengan mengorbankan jiwa manusia. Masih terus melanjutkan kezalimannya terhadap rakyat. Masih meneruskan kriminalisasi kepada para ulama atau pihak-pihak yang kritis terhadap dirinya. Masih tetap berupaya terus-menerus mendeskreditkan ajaran Islam, seperti Khilafah.   

Seolah-olah puasa sama sekali tak berbekas sedikitpun pada dirinya. Pada akal dan pikirannya. Pada jiwa dan perasaannya. Dia tak semakin tambah taat. Tak semakin tambah takwa. Yang ada malah makin jumawa di hadapan Allah ‘Azzawa Jalla.

Ya. Puasa sama sekali tak berbekas dalam jiwa dan raganya. Tak cukup menumbuhkembangkan keyakinan akan siksa neraka. Tak cukup menggerakkan tubuhnya untuk makin berupaya menjauhi dosa-dosa. Sekaligus mempercepat langkah kakinya untuk menggejar ridha dan maghfirah-Nya. 

Padahal jelas, puasa sejatinya melahirkan takwa. Takwa dicirikan oleh keyakinan sekaligus kekhawatiran dan ketakutan akan siksa-Nya. Itulah azab api neraka yang menyala-nyala. Mereka yang memiliki rasa takut terhaap azab-Nya inilah yang pantas bergembira di Hari Raya. Bukan yang malah bermegah-megah dan bermewah-mewah di Hari Raya. 

Sebagaimana kata sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa  al-fakhirah, innama al-‘id li man ittaqa adzab al-akhirah (Hari Raya bukanlah untuk orang yang bermewah-mewah. Hari Raya hanyalah untuk orang yang takut terhadap azab akhirat).”

Karena itu orang yang layak bergembira pada Hari Raya sejatinya bukanlah orang yang berpakaian serba halus (mahal seperti sutra), tetapi mereka yang memahami jalan meraih ridha-Nya. 

Sebagaimana kata sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa ar-raqiq, innama al-‘id li man ‘arafa ath-thariq (Hari Raya bukanlah untuk orang yang mengenakan pakaian yang serba halus (mahal). Hari Raya hanyalah untuk orang yang memahami jalan [untuk meraih ridha-Nya]).” 

Satu-satunya jalan untuk meraih ridha-Nya tidak lain adalah takwa. Muslim yang bertakwa tentu Muslim yang senantiasa taat kepada Allah SWT dan menjauhi maksiat kepada-Nya. Saat setiap hari seorang Muslim mampu untuk selalu taat dan menjauhi maksiat, saat itulah hari rayanya yang sesungguhnya. 

Sebagaimana kata sebagian ulama, “Kullu yawm[in] la na’shilLaha fihi fa huwa ‘iduna (Setiap hari yang di dalamnya kami tidak bermaksiat kepada Allah, itulah hari raya kami).” 

Karena itu marilah kita berhari raya. Bukan setiap tahun sekali. Pada setiap Idulfitri. Namun, setiap hari. Tentu saat kita di dalamnya sanggup tak banyak bermaksiat kepada Allah SWT. Tak banyak berbuat dosa-dosa. Baik dosa-dosa kecil. Apalagi dosa-dosa besar. Sebab bagi orang yang bertakwa, kata Imam Ali ra., masalahnya bukan pada besar-kecilnya dosa, tetapi kepada siapa kita berdosa. Tentu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Zat Yang selayaknya hanya pantas menerima totalitas penghambaan manusia berupa taat dan takwanya. Bukan maksiat dan dosa-dosanya. 

Semoga kita menjadi orang yang benar-benar bertakwa kepada-Nya. Hanya dengan itulah kita bisa meraih ridha-Nya. 

Wa ma tawfiqi illa bilLah. []

0 komentar:

Posting Komentar