Sabtu, 06 Juli 2019

Keadilan Islam untuk Wanita



Keadilan Islam untuk Wanita

Oleh : Faiqotul Himmah

Dunia sebelum Islam datang adalah kegelapan bagi wanita. Sejarah mencatat, dalam lintas peradaban nasib wanita tak ubahnya komoditi yang layak diperjualbelikan, diperbudak dan diperlakukan seenaknya. 

Dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi dan pendidikan, wanita diposisikan makhluk kelas dua. Tak punya hak yang setara dengan pria. Padahal baik wanita maupun pria adalah sama-sama manusia. 

Dalam sejarah China kuno, gadis-gadis dijual sebagai budak kepada keluarga kaya. Begitu pula sejarah wanita dalam peradaban Yunani kuno. 

Dalam peradaban Romawi, hak-hak seorang wanita berada pada kekuasaan suami, bahkan seorang wanita bisa dimiliki dan diperbudak oleh anaknya sendiri. Nasib yang sama pun dialami wanita di Eropa. Sejarah Arab pra Islam pun tak kalah mengerikan bagi wanita. 

Kegelapan yang menyelimuti wanita selama berabad-abad akhirnya sirna ketika Islam datang. Islam adalah cahaya yang menyibak kabut hitam yang menyelimuti umat manusia. Islam adalah cahaya yang menerangi peradaban manusia yang diliputi nafsu kedzoliman. Islam pun, menghantarkan cahaya kehidupan bagi wanita dan menghapus kisah suram tentangnya. 

Islam datang memberikan keadilan dan memuliakan wanita sesuai fitrahnya. 

Dalam Islam, wanita dan pria dipandang sebagai makhluk Allah SWT, sama-sama sebagai manusia. Tujuan penciptaan wanita dan pria sama yakni untuk beribadah kepada Allah SWT. 

Allah SWT berfirman: 

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Allah pun tidak jenis kelamin sebagai ukuran dalam menilai ibadah manusia.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat : 13)

Bahkan secara gamblang Allah menyatakan kesetaraan wanita dan pria ini dalam al-Quran surat An-Nahl ayat 97. 

“Barangsiapa mengerjakan amal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan kami berikan kepada mereka (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” 

Demikianlah, islam menetapkan standar kemuliaan dan kebahagiaan seorang muslim dalam hidupnya adalah teraihnya ridlo Allah. Bukan ukuran atau capaian yang bersifat fisik dan materi duniawi semata.

Wanita dalam Rumah Tangga

Pernikahan, sebagai awal terbentuknya sebuah keluarga merupakan syariah Islam. Secara umum, sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Pemberian peran kepada suami sebagai qawwam juga merupakan ketentuan Allah SWT. Peran qawwam ini membawa konsekuensi besar yakni pertanggungjawaban atas istri dan rumah tangganya dunia akhirat. Setiap suami yang melaksanakan amanah ini dengan baik akan bernilai ibadah dan mendapat pahala di sisi Allah.

Begitu pula seorang istri, ketaatannya kepada suami. Dan pelaksanaannya atas tugas-tugas rumah tangga juga merupakan ibadah dan mendapat pahala di sisi Allah.

Dua-duanya punya kesempatan yang sama meraih pahala dan keridloan Allah sesuai dengan fitrah kemanusiaannya. Bukankah ini adalah konsep yang paling adil?

Lebih dari itu, Islam mempunya konsep yang jauh melampui peradaban dan ideologi lain dalam hal kesetaraaan hubungan suami istri. Juga jauh melampaui apa yang dituntut oleh feminisme. 

Islam menetapkan hubungan suami-istri adalah hubungan persahabatan. Keduanya saling tolong menolong dalam ibadah bernama rumah tangga. Bekerjasama meraih ridlo Allah dengan melaksanakan kewajiban masing-masing. 

Dalam Islam, suami wajib bergaul dengan istrinya secara makruf penuh persahabatan. Bukan seperti majikan dan pembantu atau atasan dengan bawahan.

Shiroh Rasulullah memberikan teladan bagaimana Rasulullah bergaul secara makruf dengan istri-istrinya. Rasulullah bercanda dengan mereka, bercengkrama, berlomba dalam permainan bahkan meringankan tugas-tugas rumah tangga istrinya. 

Persahabatan yang makruf ini juga menafikan sifat otoriter seorang suami. Dalam Islam, seorang istri wajib taat kepada suaminya. Namun bukan berarti istri sama sekali tidak boleh berdiskusi dan memberi masukan pada suami. 

Sebagaimana kisah Umar bin Khaththab dengan istrinya. Dalam sebuah riwayat panjang mengisahkan Umar diberi masukan oleh istrinya terkait urusannya. Sehingga Umar bin Khaththab berkata,”Demi Allah, sesungguhnya kami pada masa jahiliyah tidak memperhitungkan posisi kaum wanita sedikitpun, hingga Allah menurunkan ketentuan tentang mereka dan memberikan kepada mereka bagian (hak-hak) mereka.”

Ummu Salamah r.a, istri Rasulullah saw juga memberikan masukan kepada Rasulullah dalam perkara yang bukan urusan wanita. Dan Rasulullah menerimanya, sebagaimana kisah masyhur pasca perjanjian Hudaibiyah. 

Ketetapan Allah yang mewajibkan suami memberi nafkah pada istri juga bukanlah diskriminasi kepada wanita. Bukan pula Allah memberi jalan bagi para suami untuk melakukan kekerasan dan kedzoliman kepada istrinya. Karena kewajiban memberi nafkah ini diiringi dengan kewajiban memberikannya secara makruf. 

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada istrinya dengan cara ma’ruf” (QS. Al Baqarah: 233).

Dengan demikian, penerimaan istri atas nafkah suaminya bukanlah bentuk ketidakmandirian ekonomi wanita. Namun penerimaan atas syariah yang agung. Qana’ah atasnya adalah pahala dan keridloan Allah. Dan penerimaan istri atas nafkah ini bukanlah sebuah kerendahan di mata Allah SWT. 

Disamping itu, Islam tidak mengharamkan wanita bekerja. Selama pekerjaannya tidak bertentangan dengan syariah. Dan bekerjanya wanita, tidak menggugurkan kewajibannya sebagai istri dan ibu. 

Pada masa Rasulullah saw, istri sahabat Albdullah bin Mas’ud, adalah wanita yang mampu menghasilkan uang dari keahlian tangannya. Karena suaminya termasuk golongan tak berpunya, jerih payahnya itu habis untuk kebutuhan rumah tangga sampai-sampai ia tak sempat bersedekah. 

Iapun gelisah dan mengadukan pada Rasulullah hal ini. Rasulullah pun mengatakan bahwa bagi wanita yang membantu kebutuhan ekonomi keluarga, terdapat pahala yang besar. MasyaAllah. Islam tak menyia-nyiakan amal sholih wanita. Sebuah pengorbanan bukan demi kesetaraan atau materi, namun karena dorongan iman dan kecintaan pada suami. 

Peran Negara

Sayangnya, syariah Islam yang sudah demikian gamblang dalam memberikan keadilan dan kesetaraan bagi wanita ini, belum mampu menghalau buramnya cara pandang Barat. Bahkan justru syariah Islam sering menjadi tertuduh penyebab kesengsaraan, kemiskinan dan ketertindasan perempuan. Mengapa?

Karena syariah yang demikian gamblang tadi membutuhkan institusi politik penerap aturan. Butuh adanya Undang-undang sosial dan yang mengatur tentang perempuan berdasarkan syariah Islam. Bukan undang-undang yang berkiblat pada konvensi-konvensi internasional (semacam CEDAW, dll) yang mengesampingkan wahyu.

Butuh adanya Undang-undang yang mengatur pendidikan sehingga mencetak individu-individu rakyat yang bertakwa yang menjalani kehidupannya sesuai syariah Islam. Jika dia suami, maka dia adalah suami yang takwa. Yang memperlakukan istri dengan indah. Begitu pula sebaliknya.

Butuh adanya Undang-undang ekonomi berdasarkan syariah Islam yang secara tidak langsung memberi jaminan kesejahteraan bagi wanita. Bukan aturan ekonomi kapitalis buatan Adam Smith yang diadopsi Barat.

Butuh adanya undang-undang sanksi dan hukum yang bersumber dari syariah untuk menjamin tidak adanya kedzoliman terhadap perempuan, baik di sektor publik maupun domestik. 

Singkatnya, keadilan syariah Islam bagi wanita akan benar-benar dirasakan dan nyata menghapus kegelapan wanita kini jika syariah Islam diterapkan secara sempurna dalam institusi negara.

Keadilan syariah Islam ini pula yang akan melahirkan keluarga-keluarga tangguh yang siap membangun bangsa.

InsyaAllah,  dengan ijin Allah, sebentar lagi cahaya syariah Islam akan menerangi dunia. Wallahu a’lam. []

0 komentar:

Posting Komentar