Jumat, 26 Juli 2019

Orangtua Hubbudunya, Anak Mati Rasa


Dari orangtua yang taat dan cinta bela agama akan lahir para ulama. Kecerdasan, himmah memuliakan agama, dan ihtimam/kepedulian pada umat akan tinggi, dan mereka mendahulukan urusan ini sebelum kehidupan dunia mereka. Umat akan mulia berada di tangan-tangan generasi seperti ini.
______________

/ Orangtua Hubbudunya, Anak Mati Rasa /

#InfoMuslimahJember -- Saat kehidupan rakyat tercekik, kemana anak muda negeri? Saat invasi negeri Tiongkok bancakan aset bangsa, dimana para pemuda?

Mengherankan dan memprihatinkan. Di tengah krisis parah yang membelit negeri, masyarakat tak melihat pergerakan pemuda apalagi mahasiswa. Mereka tampak kurang peduli membela nasib rakyat, apalagi membela umat Muslim dan para ulamanya. Kehidupan anak muda dan mahasiswa senyap dari perjuangan, kajian-kajian yang mati suri. Sebaliknya, mereka datang beramai-ramai ke istana negara, menikmati jamuan bersama kepala negara.

Imam Syaf’i rahimahullah sebenarnya sudah mengingatkan level kehidupan pemuda dengan maqolah-nya; “Hayatusy syabab bil ‘ilmi wa taqwa – hidupnya para pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.” Beliau berkeyakinan bahwa hanya para pemuda yang memahami ilmu – khususnya ilmu-ilmu agama – dan yang bertakwa yang hidupnya dinamis, penuh gairah dan punya keberanian.

Sebaliknya, ketika level keilmuan dan ketakwaan itu merosot, para pemuda akan terperosok dalam kejumudan, statis, minus kepedulian pada keadaan, berfoya-foya dan tak punya tujuan hidup. Jiwa-jiwa seperti itulah yang mendominasi anak muda kita hari ini. Mereka serius dalam urusan pribadi tok, tapi minus kepedulian dan perjuangan. Biasanya mereka baru berisik, turun ke jalan dan berjuang bila kepentingan pribadi atau kelompoknya terusik. Selama urusan mereka selesai, mereka sudah puas menjadi penonton atau malah tak peduli sama sekali.

===

Imam al-Ghazali dengan tepat menggambarkan keadaan para pemuda seperti ini dengan perkataannya:

الناس كلهم موتى إلا العلماء والعلماء سكارى إلا العاملين

Manusia seluruhnya mati kecuali yang berilmu, dan orang yang berilmu itu mabuk kecuali yang beramal

Namun tidak adil bila hanya menyalahkan mereka anak-anak muda seperti ini, yang study oriented, hedonis, dan mati rasa. Anak muda di belahan dunia manapun hakikatnya adalah produk dua pihak; negara dan orang tua. Di jaman sekarang, negara kapitalis punya kepentingan untuk terus memelihara iklim hedonis di kalangan anak muda, agar kekuasaan dan sistem rusak mereka tak diusik. Maka negara fasilitasi berbagai hiburan, sanjung-sanjung anak muda yang berprestasi, suap mereka dengan fasilitas termasuk beasiswa, asalkan mau menjadi anjing penjaga kebejatan kuasa mereka dan sistem yang durjana.

Cara ini berhasil. Banyak anak muda lupa kalau mereka harusnya cerdas tapi juga kritis, kaya tapi tidak cinta dunia, pejuang dan sedikit bersenang-senang. Akhirnya mereka mati rasa, dan baru mau berjuang hanya kalau kepentingan mereka diusik. Ketika SPP mahal, tarif parkir mahal, atau artis idola mereka dicekal, disitulah mereka baru mau berjuang. Negara kapitalis takkan pernah membiarkan ada anak muda yang kritis karena khawatir akan menumbangkan sistem yang rusak ini.

Anak-anak muda hedonis macam itu juga lahir dari rumah-rumah yang berorientasi hubbuddunya. Tengok saja, lebih banyak orang tua yang takut anak mereka di masa depan tak punya pekerjaan yang mapan, ketimbang menggadaikan iman. Hanya sedikit orang tua yang bersyukur anaknya aktif dalam perjuangan Islam, ketimbang yang menyuruh anaknya lekas lulus kuliah dan punya usaha yang cerah. Cukuplah bagi mereka anak-anak muda itu rajin beribadah, bersedekah dan menghafal al-Qur’an. Tak lebih dari itu.

Dari rumah-rumah seperti itu takkan lahir seorang Shalahuddin al-Ayyubi yang berhasil menggulung pasukan salib di Perang Hittin. Lelaki muda bernama Shalahuddin ditempa oleh ayahandanya, Najmuddin Ayyub dan pamannya, Asaduddin Syirkah, untuk menjadi pejuang. Salahuddin muda ditempa ilmu kemiliteran dan politik. Membuatnya peduli dengan kondisi Daulah Khilafah yang sedang terancam oleh invasi Pasukan Salib. Kesadaran ini mendorongnya keluar dari istana dan hidup di tenda-tenda pasukan dalam rangka jihad fi sabilillah. Para ulama tarikh menggambarkan bahwa bila berbicara masalah jihad maka antusiasme Salahuddin amat berapi-api.

Ayah dan keluarga Salahuddin tak pernah cemas bila anaknya akan mati di medan pertempuran. Juga tak khawatir masa depan anaknya. Keluarga Salahuddin mengorientasikan putra mereka untuk menjadi pemuda yang cerdas dan berjuang di jalan Allah.

===

Baca juga bagaimana kisah Ummu Sulaim yang ‘mewaqafkan’ putranya, Anas bin Malik, untuk menjadi khadim Rasulullah ﷺ. Saat berjumpa utusan Allah, Ummu Sulaim, atau al-Ghumaisha setelah mengucapkan salam kepada Nabi lalu berkata, “Ya Rasulullah semua lelaki dan wanita dari Anshar memberimu hadiah, tetapi tidak mempunya appaun yang bisa aku jadikan hadiah untukmu selain anak lelakiku. Terimalah dia, dan dia akan berkhidmat kepadamu sesuai yang engkau inginkan.” Sejarah pun mencatat Anas bin Malik adalah sahabat yang banyak beribadah, beramal saleh, bersedekah dan berjihad di jalan Allah.

Banyakkah ibu-ibu yang memiliki visi seperti Ummu Sulaim? Merelakan anaknya untuk menjadi khadim Islam dan umat? Meski untuk itu sang bunda harus berpisah dengan putranya? Tak banyak. Naluriah orang tua, khususnya para ibu, adalah selalu mendekatkan anak-anak mereka di pangkuannya. 

Lihat lagi bagaimana dua orang remaja, Mu’adz bin Afra dan Muawwadz bin Afra, merapat ke medan Perang Badar dengan satu tekad; mencari dan menghabisi Abu Jahal. Mereka sering mendengar dari cerita orangtua mereka dan orang-orang dewasa bagaimana kejinya perlakuan Abu Jahal kepada Rasulullah ﷺ. hingga membuat mereka bersumpah takkan pulang dari Badar sebelum membunuh musuh Rasulullah ﷺ.

Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh Islam yang mendunia dan hingga sekarang tercatat dengan tinta emas sejarah, lahir dari rumah-rumah yang orangtua mereka mendahulukan Allah dan RasulNya sebelum kehidupan dunia.

===

Anak kita adalah bisa menjadi sebilah pedang yang tajam bila terus ditempa dan dibakar dengan besi panas. Tapi anak kita hanya teronggok menjadi besi rongsokan, atau sekedar peralatan makan bila kedua orangtuanya salah jalan dalam memberikan pendidikan.

Dari orangtua yang taat dan cinta bela agama akan lahir para ulama. Kecerdasan, himmah memuliakan agama, dan ihtimam/kepedulian pada umat akan tinggi, dan mereka mendahulukan urusan ini sebelum kehidupan dunia mereka. Umat akan mulia berada di tangan-tangan generasi seperti ini.

Tapi dari orangtua yang cinta dunia, akan memunculkan generasi muda yang mati rasa. Yang sibuk dengan urusan sendiri, dan baru marah bila kepentingan mereka yang diusik. Anak-anak muda seperti ini kelak akan tega memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri mereka sendiri dengan menipu dan memperdaya. Andaikan pun mereka memiliki jabatan dan kekuasaan, hakikatnya mereka hanya penguasa boneka; berkhidmat pada orang lain dan kaum penjajah. Wa iyyadzu billah.

===
Sumber: https://www.iwanjanuar.com/orangtua-hubbudunya-anak-mati-rasa/

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar