Sabtu, 06 Juli 2019

Petuah Mbah Hasyim Asy’ari: Jaga Persatuan Di Atas Asas Alquran dan Al-Sunnah, Bukan Ashabiyyah


[CERMIN HATI] 

/ Petuah Mbah Hasyim Asy’ari: Jaga Persatuan Di Atas Asas Alquran dan Al-Sunnah, Bukan Ashabiyyah /

Editor dan Penerjemah: Irfan Abu Naveed, M.Pd.I

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Dari makhluk-Nya yang paling kecil (dihadapan-Nya), bahkan hakikatnya bukan apa-apa; Muhammad Hasyim Asy'ari -semoga Allah mengampuninya dan mengampuni kedua orang tuanya dan semua kaum Muslim, Amin-, kepada saudara-saudara kami yang terhormat dari masyarakat jawa dan sekitarnya, baik kalangan ulama maupun awam. 

Telah sampai kepada saya, bahwa di antara kalian berkobar api fitnah dan perselisihan. Maka saya memikirkan penyebab hal tersebut, yakni apa yang terjadi dalam masyarakat saat ini, bahwa mereka telah mengganti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman "Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, maka damaikanlah antara dua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah, mudah-mudahan kalian dirahmati.” tapi kenyataannya mereka menjadikan saudara-saudara mereka sesama orang beriman sebagai musuh. Mereka tidak berdamai dengan mereka, bahkan justru melakukan kerusakan terhadap saudara-saudaranya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: "janganlah kalian saling mendengki, membenci, berselisih, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara". (HR. Al-Bukhari dan Muslim, lafal Muslim). 

Tetapi kenyataannya mereka saling mendengki, membenci, berselisih, dan bermusuhan. 

===

Wahai para ulama dan mereka yang fanatik terhadap sebagian mazhab atau terhadap sebagian pendapat, tinggalkanlah kefanatikan kalian terhadap persoalan-persoalan cabang agama, dimana para ulama terbagi menjadi dua pendapat: pihak yang mengatakan bahwa setiap mujtahid adalah benar, dan pihak lain yang mengatakan bahwa yang benar hanya satu tetapi yang salah tetap diberi pahala. 

Jauhilah sifat fanatik dan tinggalkan lah hembusan-hembusan seruan penyakit ini, serta bela Din Islam. 

Berjihad lah terhadap orang yang melecehkan Alquran dan sifat-sifat Allah Yang Maha Pengasih, juga terhadap siapa saja yang menyerukan (menganut dan menyerukan-pen) ilmu-ilmu batil dan akidah yang sesat. Berjihad terhadap mereka adalah wajib. Mengapa kalian tidak menyibukkan diri dengan jihad tersebut? 

===

Wahai manusia, di tengah-tengah kalian orang-orang kafir telah merambah ke segala penjuru negeri-negeri, maka siapakah di antara kalian yang mampu bangkit tegak untuk peduli membimbing mereka ke jalan petunjuk? 

Maka, wahai para ulama, dalam keadaan seperti ini kalian harus berjihad dan fanatik. Kefanatian kalian dalam persoalan-persoalan cabang agama, dan perbuatan kalian menggiring manusia kepada satu mazhab, dan kepada satu pendapat ulama, maka hal itu tidak diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala dan tidak diridhai oleh Rasulullah ﷺ. 

Tidak ada sebab yang menggiring kalian kepada sikap tersebut kecuali karena sikap fanatik, perselisihan dan saling mendengki. Seandainya Imam al-Syafi'i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad bin Hanbal, Ibn Hajar al-Ramli hidup, mereka pasti sangat kuat mengingkari kalian, dan berlepas diri atas apa yang kalian perbuat, lalu apakah kalian persoalan-persoalan dimana para ulama berselisih pendapat? 

===

Kalian melihat banyak orang awam, dimana tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah subhanahu wa ta'ala, mereka yang tidak melaksanakan shalat, dimana sanksi hukuman atas orang yang meninggalkan shalat menurut Imam al-Syafi'i, Malik, dan Ahmad adalah dipancung lehernya dengan pedang, namun kalian tidak mengingkari perbuatan mereka. 

Bahkan jika salah seorang dari kalian melihat banyak dari tetangganya tidak melaksanakan shalat, maka ia hanya diam, kemudian mengapa kalian mengingkari persoalan-persoalan cabang agama ini, dimana para ahli fikih berbeda pendapat, akan tetapi kalian tidak mengingkari berbagai keharaman yang disepakati keharamannya, seperti zina, judi, dan minum minuman keras. 

Jika demikian, maka kalian tidak memiliki ghirah (kecemburuan membela Din-pen.) untuk Allah didalamnya. Ghirah kalian hanya untuk al-Syafi'i dan Ibn Hajar, sehingga hal ini menyebabkan perpecahan kalian, terputusnya silaturrahim, dan penguasaan orang-orang jahil terhadap kalian, dan jatuhnya wibawa kalian di mata orang banyak. 

Hingga hal itu pun menyebabkan orang-orang jahil berani melecehkan kalian, maka mereka celaka dengan perkataan-perkataan mereka terhadap kalian, karena daging kalian beracun dalam setiap keadaannya, karena kalian adalah para ulama, sedangkan kalian celaka karena ”menunggangi” persoalan-persoalan besar (perdebatan, perpecahan-pen.).

===

Wahai para ulama, jika kalian melihat ada seseorang yang mengamalkan suatu amalan berdasarkan pendapat seorang imam yang boleh diikuti dari imam mazhab yang mu'tabarah sekalipun pendapat tersebut lemah, jika kalian tidak sependapat dengan mereka, maka kalian tidak boleh bersikap kasar terhadap mereka, melainkan tunjukilah mereka dengan cara yang lembut, dan jika mereka tetap tidak bersedia mengikuti kalian maka jangan jadikan mereka sebagai musuh. 

Jika ini dilakukan maka ia bagaikan orang yang membangun sebuah istana, pada saat yang sama menghancurkan kota. Maka janganlah kalian menjadikan perbedaan tersebut sebagai sebab perpecahan, pertentangan, perselisihan dan permusuhan. Karena sungguh hal itu termasuk kejahatan umum dan dosa besar yang dapat menghancurkan bangunan umat dan menutup setiap pintu kebaikan. 

Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari perpecahan, dan Dia memperingatkan dari hal-hal yang berakibat buruk dan menyakitkan. 

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: “Dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian.” (QS. Al-Anfal: 46)

===

Wahai kaum Muslim, sesungguhnya di balik peristiwa yang terjadi selama ini sungguh terdapat banyak pelajaran dan pesan mendalam, dimana seseorang mampu mengambil faidah petunjuk lebih banyak dari apa yang bisa diraih dari khuthbah dengan beragam petuah dan nasihat dari mereka yang memberikan petunjuk. 

Peristiwa-peristiwa itu sesungguhnya merupakan ujian dalam setiap saat. Apakah (bukankah-pen) sudah saatnya bagi kita mengambil pelajaran dan peringatan? Dan apakah sudah saatnya bagi kita kembali tersadar dari mabuk dan kelalaian, dan menyadari bahwa kemenangan kita bergantung kepada sikap saling tolong-menolong dan persatuan di antara kita, begitu pula ketulusan hati satu sama lain? 

Atau jika tidak, kita akan tetap dalam perpecahan, saling menghinakan, perselisihan, kemunafikan, kebencian, kedengkian serta kesesatan. Pada hal agama kita satu yaitu Islam, mazhab kita satu yaitu Syafi'iyah, daerah kita satu yaitu jawa, dan kita semua termasuk Ahl al-sunnah wa al-jama’ah. Maka demi Allah sungguh ini adalah bencana yang nyata dan kerugian yang besar. 

===

Wahai kaum Muslim, bertakwalah kepada Allah, kembalilah kepada Kitab Rabb kalian (Alquran), beramalah sesuai dengan Sunnah Nabi kalian. Teladani lah orang-orang shalih sebelum kalian, niscaya kalian akan beruntung sebagaimana mereka telah meraih keberuntungan, dan niscaya kalian akan berbahagia sebagaimana mereka berbahagia. 

Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara kalian. Dan tolong-menolonglah kalian dalam menunaikan kebaikan dan takwa, dan janganlah tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran, niscaya Allah melimpahkan rahmat dan ihsan-Nya kepada kalian, janganlah kalian seperti orang-orang (kafir dan munafik-pen.) yang berkata: “kami mendengar” padahal mereka tidak mendengarkan.

===
Sumber: http://www.irfanabunaveed.net/2017/11/petuah-mbah-hasyim-asyari-jaga.html

—————————————

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar