Sabtu, 06 Juli 2019

Salahkah pernikahan dini?


[KAMPANYE SISTEM ISLAM WUJUDKAN KETAHANAN KELUARGA] 
/Salahkah pernikahan dini?/

Oleh: Novia Roziah

“Masih anak jangan punya anak” begitu bunyi salah satu jargon pengusung kelompok kontra pernikahan dini.

 Masih banyak juga meme yang mereka buat untuk mempromosikan kepada masyarakat tentang buruknya pernikahan dini. Child not bride, anak kecil bukan pengantin. Dalam pandangan mereka , kasus pernikahan dini yang kuartal akhir ini makin marak, menambah daftar kekhawatiran keluarga Indonesia.

Pada tahun 2017, di Jember,  dari 19.119 pernikahan, 29 persennya merupakan pernikahan usia dini. Faktor yang memicu tingginya jumlah pernikahan dini di Kabupaten Jember, yakni masalah ekonomi keluarga, adat budaya setempat, serta rendahnya pola pikir dan pemahaman hukum masyarakat khususnya masyarakat pedesaan. (sbctv.co.id)

Di Surabaya, masih banyak ditemukan fenomena pernikahan dibawah umur. Hal ini diungkapkan oleh Dinda Ayu Mutiara, Penanggung Jawab Tim Konseling Sebaya Jawa Timur. Pernikahan dini, kata Dinda, terjadi karena banyak faktor mulai dari salah pergaulan hingga perjodohan dengan latar belakang masalah ekonomi. 

Namun saat ini yang paling banyak dijumpai adalah kasus pernikahan dini imbas salah pergaulan. ''Pacaran kebablasan sehingga perempuannya hamil, mau tidak mau ya harus melakukan pernikahan. Ini yang paling banyak kami jumpai di kalangan remaja saat ini,'' tukasnya. (kumparan.com)

Saat ini batas usia nikah diatur dalam Pasal 7 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 1974 adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun untuk perempuan. 

Pertanyaannya kini, benarkan permasalahan pernikahan itu murni dipicu oleh usia pengantin yang masih dianggap dibawah umur?

Padahal fakta dilapangan menunjukkan, pergaulan bebas dikalangan remaja menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan. Tingkat sadisme dan seks bebas di kalangan remaja Indonesia kian memprihatinkan.

 Hal ini ditandai makin tingginya angka pembuangan bayi di jalanan di sepanjang Januari 2018. Ada 54 bayi dibuang di jalanan di Januari 2018. Pelaku umumnya wanita muda berusia antara 15 hingga 21 tahun. Ind Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai, sepanjang Januari 2018 bayi yang dibuang di Indonesia ada sebanyak 54 bayi. Angka ini mengalami kenaikan dua kali lipat (100 persen lebih) jika dibandingkan dalam periode yang sama pada Januari 2017, yang hanya ada 26 kasus pembuangan bayi (telusur.co.id)

Bukan Salah Nikah Dini

Bukannya menyelesaikan problematika pergaulan bebas dikalangan remaja, pemerintah justru membuat aturan yang tidak menyentuh akar masalah. Parahnya, yang dijadikan kambing hitam justru usia pengantinnya. Padahal dengan menikah, bisa menutup salah satu sumber kerusakan remaja.

 Agaknya tidak berlebihan jika masyarakat seakan dihadapkan pada pilihan sulit dengan kebijakan dari pemerintah ini. Ikut aturan pemerintah, mati ibu. Pakai aturan islam, mati ayah. Kedua nya pilihan yang tidak enak. Dan akhirnya masyarakat yang menjadi korban. 

Jika syariat dijadikan standar maka menikah akan menjadi solusi pergaulan remaja saat ini. Ketimbang terjerumus ke dalam lembah perzinahan, maka lebih baik selamat dengan memilih jalur pernikahan. 

Namun, derasnya arus liberalisasi membuat yang halal tampak buruk dan yang haram tambak begitu mempesona. 

Pernikahan dini dianggap biang perceraian dini, sehingga lebih baik menunda menikah. Disisi lain masifnya pengaruh eksternal, memicu remaja kita memilih jalur haram untuk memenuhi rasa ketertarikannya kepada lawan jenis.

 Tak ayal, banyak terjadi kasus yang sangat memprihatinkan. Contohnya, hamil diluar nikah, aborsi, bunuh diri, pembuangan bayi dan banyak kasus lain yang disebabkan pergaulan bebas di kalangan remaja.

Menikah vs Zina

Menikah adalah salah satu perkara yang status hukumnya halal dalam pandangan islam. Sedangkan zina adalah perkara yang status hukumnya jelas di haramkan dalam islam. Allah berfirman;

وَلَا تَقْرَبُوا۟ ٱلزِّنَىٰٓ ۖ إِنَّهُۥ كَانَ فَٰحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra’ : 32).

Meski dianggap pernikahan dini mendatangkan dampak negative, bukan berarti status pernikahan dini menjadi haram. 

Tambahan embel-embel dinipun tidak otomatis membuat status hukumnya berubah. Karena dalam islam tidak ada batas usia dalam berbuat taat dan berbuat maksiat. Yang ada setiap individu terkena beban hukum jika sudah mukallaf (telah memasuki usia baligh).

Penutup 

Begitulah kiranya jika agama di jauhkan dalam ranah publik (baca: sekularisme). Agama dijauhkan dari kehidupan. Yang terjadi adalah kerusakan tatanan kehidupan. Yang halal diharamkan, yang haram di halalkan. 

Menikah apapun embel-embelnya apakah dini atau  normal, status hukumnya halal, jika seluruh syarat nya telah terpenuhi.

Sekularisme menjadi sumber permasalahan. Masyarakat menjadi rancu dalam menghukumi semua aktivitasnya. Oleh karenanya sebagai seorang muslim sudah selayaknya jika kita tinggalkan sistem kehidupan yang merusak ini dan kembali menerapkan aturan islam secara sempurna agar tercipta tatanan kehidupan yang benar dan terhindar dari kerusakan. Allahua’lam

#IslamMenjagaKeluarga 
#InfoMuslimahJember 
@infomuslimahjember 
#jember #islam #keluarga #family #harganas 
——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar