Rabu, 10 Juli 2019

Sistem Ekonomi Islam Jaminan Keluarga Bahagia Sejahtera


[ KAMPANYE SISTEM ISLAM WUJUDKAN KETAHANAN KELUARGA ]

*Sistem Ekonomi Islam Jaminan Keluarga Bahagia Sejahtera*
Oleh: Laily Chusnul Ch. S.E
(Pemerhati Masalah Sosial Ekonomi)


Keluarga memiliki peranan yang sangat penting di dalam lingkungan, masyarakat dan negara. Karena itu pertumbuhannya diperhatikan oleh negara.

Di Indonesia, pembangunan keluarga diamanatkan dalam Undang-Undang No. 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas keluarga agar dapat timbul rasa aman, tenteram, dan harapan masa depan yang lebih baik dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan kebahagiaan batin.

Amanat UU tersebut diemban dalam setiap peringatan Hari Keluarga Nasional yang jatuh setiap tanggal 29 Juni. Seperti halnya di tahun 2019 ini Harganas mencapai peringatan "usianya" yang ke-26 tahun. Namun bagaimanakah kondisi keluarga di Indonesia saat ini?


*Impian Keluarga Bahagia Sejahtera*

Pepatah berkata, "Majunya suatu bangsa bergantung pada ketahanan suatu keluarga." Hal ini jelas tergambar bahwa kekuatan suatu negara bergantung pula pada kekuatan setiap keluarga. Jika negara itu maju, pasti fungsi keluarga berjalan dengan baik. Namun realitasnya kini menunjukkan keluarga berada dalam ancaman ketahanan. Rapuh, demikianlah gambaran kondisi keluarga saat ini. Tingkat perceraian yang berujung pada rusaknya generasi terjadi hampir setiap hari dan merata di seluruh negeri. Seperti halnya di Bogor, ada 28 wanita jadi janda setiap hari. Menurut psikolog Kasandra Putranto, pernikahan dini menjadi penyebab utama perceraian. Bahkan disinyalir karena tingginya tingkat pernikahan dini, Indonesia menjadi salah satu negara penghasil perceraian tertinggi (Indopos.co.id/2019).

Faktor kemiskinan juga menjadi salah satu penyebab kerapuhan bangunan keluarga. Sehingga berbagai upaya dilakukan guna mengatasinya. Program Keluarga Berencana dianggap cukup ampuh dalam mengatasi tingginya angka kemiskinan, sebab banyak anak dianggap makin banyak tanggungan bagi keluarga dan negara. Sehingga jumlah anak dalam satu keluarga harus dibatasi cukup dua saja. Tak hanya itu saja, program pemberdayaan perempuan (PEP) terus digencarkan hingga ke pelosok desa dalam rangka meningkatkan kemampuan sebuah keluarga dari sisi ketahanan ekonominya. Sebab, perempuan tak bekerja dianggap menjadi beban dan penyumbang tingginya angka kemiskinan.

Pertanyaannya, mampukah program keluarga berencana dan pemberdayaan perempuan ini menjawab tantangan ketahanan keluarga sehingga menjadikan keluarga-keluarga di Indonesia menjadi keluarga bahagia sejahtera?


*Kapitalisme Bikin Keluarga Sengsara*

Upaya masif mendorong para perempuan bekerja dengan harapan akan mengentaskan kemiskinan keluarga dan bangsa, hanyalah sekedar angan-angan. Meskipun program pemberdayaan ekonomi perempuan sudah berjalan selama puluhan tahun, kemiskinan yang terjadi di berbagai negeri kaum muslimin tidaklah berubah. Bahkan semakin parah.

Pada 2017, menurut Asian Development Bank: Di Indonesia, 10,9% populasinya hidup di bawah garis kemiskinan nasional. 10,4% populasi pekerjanya berpendapatan di bawah paritas daya beli $1,90. Fakta ini bukanlah suatu kebetulan semata. Ini adalah hasil kebijakan buatan manusia dan cacatnya ekonomi kapitalisme yang diterapkan. Berdasarkan laporan Oxfam Indonesia bersama International NGO Forum on Indonesia Development (INFID) ketimpangan di Indonesia menunjukkan bahwa harta dari 4 orang terkaya Indonesia setara dengan gabungan dari harta 100 juta orang miskin di Indonesia.

Ketidakadilan pengelolaan sumber daya alam dalam hegemoni peradaban Barat inilah yang membuat kekayaan alam tersebut hanya tersedia untuk kalangan elit dan kaya. Sementara, kalangan miskin kelaparan dan amat menderita.

Padahal, pada kenyataannya sumber daya yang ada di dunia cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap manusia, karena Allah (SWT) berfirman, "Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya." [TQS Fussilat 41 : 10]


*Islam Jaminan Keluarga Bahagia Sejahtera*

Dalam kehidupan Negara Khilafah, bekerja bagi seorang perempuan betul-betul hanya sekedar pilihan, bukan tuntutan keadaan. Jika dia menghendaki, dia boleh melakukannya. Jika dia tidak menghendakinya, dia boleh untuk tidak melakukannya. Pilihan ini bisa diambil perempuan secara leluasa, karena Islam menjamin kebutuhan pokok perempuan dengan mekanisme kewajiban nafkah ada pada suami/ayah, kerabat laki-laki bila tidak ada suami/ayah atau mereka ada tapi tidak mampu, serta jaminan Negara Khilafah secara langsung bagi para perempuan yang tidak mampu dan tidak memiliki siapapun yang akan menafkahinya seperti para janda miskin. Semua pembiayaan dilakukan oleh negara melalui pengelolaan APBN yang berlandaskan pada syariat islam oleh lembaga struktur negara Khilafah yang bernama Baitul Mal.

Baitul Mal telah dipraktekkan dalam sejarah Islam sejak masa Rasulullah, diteruskan oleh para khalifah sesudahnya, yaitu masa Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali Bin Abi Thalib, dan khalifah-khalifah berikutnya, hingga kehancuran Khilafah di Turki tahun 1924. Gagasan konsep Baitul Mal yang ideal perlu disusun dengan merujuk kepada ketentuan-ketentuan syariah, baik dalam hal sumber-sumber pendapatan maupun dalam hal pengelolaannya.

Berbeda dengan Baitul Mal, APBN dalam Sistem Kapitalisme sangat mengandalkan pajak dari rakyat dan utang, terutama dari luar negeri jika tidak mencukupi. Hal ini bisa dilihat  dari Pendapatan Negara dan Hibah dalam APBN-P 2008 Indonesia sebesar Rp.894,9 triliun. Enam puluh delapan persennya adalah dari pajak yaitu sebesar Rp.609,2 triliun. Sedangkan penerimaan dari sumber daya alam indonesia adalah sebesar Rp.192,8 triliun (21,5 % dari total pendapatan Negara dan Hibah), padahal menurut S. Damanhuri potensi pendapatan dari sektor kelautan saja sekitar Rp.820 triliun pertahun. Sedangkan hasil hutan dalam bentuk kayu pada tahun 2005 sebesar Rp.250 triliun. Belum lagi dari sektor yang lain, dari emas saja rata-rata produksi pertahun 126,6 ton (Al-wai’e No 62 tahun 2005:34), kalau dikalikan dengan harga emas Rp.245.460/gram (Running Text TV One, 19/08/08) maka akan diperoleh pendapatan Rp.31,07 triliun sungguh fantastis. Ternyata hanya dari pendapatan tiga sektor saja yaitu dari sektor laut Rp.820 triliun+Hutan Rp.250 triliun+Emas Rp.31 triliun maka diperoleh Rp. 1.101 triliun sudah mencukupi bahkan surplus anggaran untuk membiayai Belanja negara indonesia dalam APBN-P 2008 yang hanya Rp. 989,5 triliun. Belum lagi penerimaan dari Migas dan barang tambang lainnya yang jumlah penerimaannya tidak kalah fantastis (www.anggaran.depkeu.go.id).

Fakta di atas telah mengingatkan kita, bahwa kalau di dalam sistem Khilafah justru lebih dahulu mengandalkan pengelolaan sumber daya alam yang tidak membebani masyarakat yang ternyata menghasilkan potensi pendapatan negara yang sangat besar dan mencukupi pembiayaan negara, sehingga mengutang ke luar negeri tampaknya tidak akan dilakukan oleh Khilafah karena banyaknya bahaya yang akan didapat dari utang luar negeri. Rakyat tidak akan dibebani dengan pajak dan utang negara. Rakyat dijamin kebutuhan mendasarnya. Sehingga impian keluarga bahagia sejahtera hanya bisa diwujudkan dalam sistem ekonomi Islam dengan Khilafah sebagai pelaksananya.

Wallahu'alam bisshowab.

#IslamMenjagaKeluarga
#InfoMuslimahJember
@infomuslimahjember
.
#jember #islam #keluarga #family #harganas
——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber *Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah*
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

2 komentar:

  1. Sistem kapitalis menuntut perempuan bekerja karena kebutuhan primer yg cenderung mahal,hingga peran perempuan sbg sekolah pertama bagi putra putrinya tdk maksimal.Dari sini muncul kenakalan kenakalan remaja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benar ukh.. semoga kapitalis segera tumbang dan mengembalikan perempuan ke fitrahnya :)

      Hapus