Sabtu, 06 Juli 2019

Wujudkan Kemenangan Hakiki Di Hari Yang Fitri


// Wujudkan Kemenangan Hakiki Di Hari Yang Fitri //
Oleh : Miftah Karimah Syahidah
(Koordinator Back to Muslim Identity Jember)

Takbir. Tahlil. Tahmid. Tak henti-hentinya meluncur dari setiap lisan kaum beriman. Menggetarkan dada. Menyentuh jiwa. Bergemuruh di langit. Menghujam ke bumi. Tak terasa Ramadhan telah usai. Hari Raya mulai menyapa. Puasa berganti dengan berbuka. Yang tersisa sejatinya tinggallah takwa. Biasanya, di saat seperti ini rasa gembira dan sedih bersatu membuncah ruah dalam diri setiap orang yang beriman. Gembira, karena bertemu dengan hari kemenangan setelah sebulan penuh berjuang menjalani ketaatan. Sedih, karena Ramadhan telah pergi, meninggalkan kaum muslimin bersama 11 bulan setelahnya.

Di sebelas bulan inilah, ketaqwaan sebagai hikmah puasa akan diuji coba. Tentu yang sanggup melewatinya hanya orang-orang yang benar-benar bertaqwa (haqqa tuqâtih), bukan takwa yang pura-pura. Sekadar demi citra. Demi meraih tahta dan kuasa. Namun, takwa yang bertambah sempurna dan semakin paripurna. Sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah SWT dalam QS Ali Imran [3] ayat 102. 

Namun sayangnya, tak banyak orang bisa melewatinya. Perubahan positif dan suasana religi yang terjadi di bulan Ramadan, ternyata berlangsung hanya sesaat saja. Sementara pasca Ramadan, semuanya kembali pada kebiasaan lama, pada habits semula. 

Masjid yang ramai dengan jamaah tarawih dan lantunan ayat suci, kembali menyepi, hanya dihadiri oleh aki-aki. Aurat yang tertutup hijab syar’i, kembali terbuka sebagai ajang aktualisasi diri. Program-program televisi yang bernuansa religi pun kembali sarat pornografi. Tempat-tempat hiburan yang tutup saat ramadhan, kembali terbuka dan ramai dikunjungi.

Inilah ironi negeri ini pasca bulan suci. Pasalnya,  ramadan hanyalah dijadikan sebagai bulan skorsing maksiat sementara. Ramadan yang sejatinya merupakan jalan menuju takwa, nyatanya semua itu hanyalah jargon semata.Tak heran, karena kaum muslimin kini hidup di sistem sekuler yang meminggirkan peran agama dari kehidupan, agama hanya boleh eksis saat Ramadan saja. Sementara di luar Ramadan, hawa nafsu dan akal manusialah yang menjadi kendali. 

Miris, sebagai negeri dengan jumlah kaum muslimin terbesar di dunia, negeri ini hanya berbasa-basi menghormati bulan suci, dan membiarkan 11 bulan lainnya terkotori. Negeri yang mengaku berketuhanan, namun menjadikan hukum Allah sebagai permainan dan olok-olokan. Bahkan tidak sedikit kaum muslimin yang menuding bahwa hukum-hukum Al-Qur’an hanya berisi muatan lokal, bersifat temporal dan kondisional. Dan hukum Allah tidak cocok diterapkan di negeri yang majemuk ini. Astagfirullah.

Padahal, menurut Imam Ali ra., sebagaimana dinukil dalam kitab Dalîl al-Wa’zh ilâ Adillah al-Mawâ’izh (1/546) danSubul al-Hudâ wa ar-Rasyad (1/421), taqwa memiliki empat unsur yaitu: Pertama, Al-Khawf min al-Jalîl, yakni memiliki rasa takut kepada Allah SWT. Orang yang bertakwa tentu selalu berhati-hati dalam hidupnya karena takut akan terjatuh pada segala perkara yang haram. Sebab setiap keharaman yang dilakukan pasti menuai dosa. Setiap dosa bakal mengundang murka dan siksa-Nya. 

Kedua: Al-‘Amal bi at-Tanzîl, yakni mengamalkan seluruh isi al-Quran yang telah Allah turunkan. Tentu dengan menerapkan semua hukumnya. Dengan melaksanakan dan menerapkan syariahnya secara kaffah (menyeluruh), bukan mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian. Ketiga: Al-Qanâ’ah bi al-qalîl, yakni selalu merasa puas/ridha dengan karunia yang sedikit. Qanâ’ah akan melahirkan sikap zuhud terhadap dunia. Zuhud terhadap dunia akan melahirkan sikap wara’, yakni senantiasa berhati-hati terhadap dosa. Keempat: Isti’dâd[an] li yawm ar-rahîl, yakni menyiapkan bekal untuk menghadapi ‘hari penggiringan’, yakni Hari Kiamat.

Sungguh Gempuran pemikiran sekularis telah menodai pemikiran kaum muslimin. Kaum muslimin  butuh institusi penjaga, agar ramadhan sebagai jalan taqwa tak jadi jargon semata. Namun benar-benar mampu melahirkan ketaqwaan hakiki, yang tak pudar meski hari berganti. Terlebih sejatinya Ramadan adalah bulan perjuangan dan bulan mengokohkan ketaatan. Sementara Idul Fitri adalah momentum merayakan kemenangan perjuangan umat Islam melawan kekufuran.
Penjaga itu, tidak lain adalah Khilafah. Yakni, institusi politik yang menjadikan Syari’at Islam sebagai pemegang kedaulatan tertinggi. 

Sebuah institusi yang menerapkan hukum-hukum Allah secara kafah dalam kehidupan nyata. Yang dengan semua hukum itu, fitrah manusia sebagai hamba Allah tetap terjaga. Dan umat bahkan dunia inipun akan terhindar dari kehinaan, kerusakan, segala fitnah dan bencana. Karena tujuan dari Syariah Islam untuk mewujudkan kemaslahatan [jalb al-mashâlih] bagi manusia dan mencegah kemafsadatan [dar’u al-mafâsid] hanya terwujud dengan (diterapkanya) syariah secara keseluruhan.

Untuk itu, kaum muslimin harus bersatu, menyamakan persepsi dan tujuan pergerakan menuju arah yang ditetapkan Allah dan Rasul. Kaum muslimin harus merapatkan barisan, menguatkan tsaqafah  (pengetahuan) Islam dengan melakukan pengkajian serius terhadap tsaqafah Islam agar tidak terjebak dengan pemikiran-pemikiran sekuler yang semakin menjauhkannya dari sang Pencipta. Selain itu, seorang muslim haruslah menjadi duta Islam politik, untuk menyuarakan kebenaran Islam, dan menunjukkan  bahwa penerapan Islam secara kaffah, mampu mewujudkan taqwa yang sebenarnya, hingga kaum muslimin berhak merayakan kemenangan di hari raya idul fitri. Allahu Akbar!!!

0 komentar:

Posting Komentar