Senin, 12 Agustus 2019

Kala Santri Hadang Liberalisasi


[SUARA MUSLIMAH] 
/ Kala Santri Hadang Liberalisasi /

Oleh: Wardah Abeedah

Apa yang terbayang di benak kita jika mendengar kata "SANTRI"? Apakah sekumpulan anak muda bersarung, mendekap atau mengkaji kitab kuning, berwajah teduh dengan adab yang luar biasa tawadhu'?

Yah, begitulah sejatinya mereka para pembelajar tsaqafah Islam. Ilmu yang dipelajari, menghiasi akal dan laku mereka.

Tak hanya itu, tsaqafah Islam yang telah merasuk dalam pemikiran para santri telah membuahkan jiwa kemandirian, tegas menolak kebathilan, bahkan ketangguhan dalam memperjuangkan Islam.

Hajatan JFC (Jember Fashion Carnival) yang sudah 18 tahun ada baru usai digelar. Namun pakaian Ambassador baru JFC, Cinta Laura dan beberapa busana yang diperagakan menuai kontra di kalangan ulama dan santri. 

Tak ayal, MUI bersuara mengecam. Beberapa tokoh pesantren juga menyatakan menyayangkan aksi tersebut. Terlebih ajang JFC ditonton masyarakat dengan berbagai usia dan catwalk terpanjang di dunia, yakni tiga kilometer lebih jalanan kota Jember.

Sebuah pamflet berisi seruan ajakan aksi dari kalangan santri menyusul muncul di grup-grup facebook yang beranggotakan warga Jember. Tanpa rasa takut, para santri mengkritisi ajang yang konon diapresiasi dunia itu. Yang mengbah wajah Jember dari Kota Santri menjadi Kota Karnaval dunia.

Meski sudah sejak lama di kalangan akademisi muncul perbincangan soal JFC yang dicurigai berkaitan dengan semakin maraknya grup-grup waria dan gay di media sosial Jember. Juga meningkatnya angka HIV-AIDS di Kota santri ini. Apalagi di setiap event karnavalnya, memang selalu ramai pemuda-pemuda gagah berlipstik dan berhighheels. Hal ini pula yang dikhawatirkan akan semakin mengukuhkan tersebarnya nilai-nilai liberal di Jember. Apalagi tahun ini Jember memperoleh predikat teladan kota ramah HAM.

HAM yang kita tau selalu menjadi jalan masuknya L*BT, Ahmadiyah, dan perilaku menyimpang dari syariat lainnya. Hal ini jelas mengkhawatirkan bagi kondisi umat Islam di Jember.

Ya, salah satu tugas terbesar santri adalah mengamalkan ilmunya. Amar makruf nahi munkar adalah bagian terpenting dari pengamalan ilmu tersebut. 

===

Abu al-Lais al-Samarkandi dalam kitab Tanbih al-Ghafilin menjelaskan bahwa untuk menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar dibutuhkan 5 hal, yang pertama beliau sebutkan adalah ilmu. Sedangkan para santri, mereka telah memiliki bekal penting dalam beramar makruf nahi munkar ini.

Dengan ilmu yang dimiliki, merekalah yang seharusnya menjadi penjaga masyarakat dari kefasadan. Termasuk kefasadan yang berupa faham dan budaya liberalisme, yang menjunjung tinggi nilai kebebasan. Bebas untuk berekspresi dan bertingkah laku dan menolak diatur syariatnya Allah. Apalagi kefasadan ini secara tertruktur, massif, dan sistematis diaruskan untuk menjauhkan kaum muslimin dari dienNya yang mulia

Entah itu di Jember, atau di bumi Allah manapun, adalah kewajiban santri untuk menjadi penjaga Islam dan umat. Mereka harus selalu peka terhadap pemikiran, budaya, aturan ataupun kebijakan yang memuat kemunkaran, dan akan berimbas pada kerusakan akidah dan ahlak masyarakat.

Lebih dari itu, sebagaimana perjuangan santri nusantara sebelum kemerdekaan, santri harus menjadi tonggak perubahan masyarakat menuju masyarakat Islam. Dengan berupaya menerapkan syariah Islam secara kaffah oleh institusi negara di bumi Allah. Allahu a'lam

0 komentar:

Posting Komentar