Kamis, 15 Agustus 2019

SUAMI ISTRI BERTENGKAR, SIAPA YANG HARUS MENGALAH?


[KELUARGA SAKINAH]

*SUAMI ISTRI BERTENGKAR, SIAPA YANG HARUS MENGALAH?*

Oleh : Faiqoh Himmah

Rumah tangga mana yang sepi dari masalah? Rumah tangga siapa yang nyaris tak ada persoalan? Rasa-rasanya tak ada. Bahkan tak mungkin ada. Karena rumah tangga yang paling mulia saja, yakni Rasulullah saw dan para istrinya pun pernah mendapatkan ujian.

Begitu juga pertengkaran, atau perdebatan antara suami istri, adalah hal yang “biasa” selama bisa disikapi dengan benar.

Seperti kata pepatah, tidaklah mudah menyatukan dua kepala. Dua pribadi dengan latar belakang berbeda. Dua selera. Dua karakter.

Ketika pertengkaran terjadi, siapakah yang harus mengalah? Apakah selalu harus istri yang meminta maaf? Apakah hal itu (meminta maaf) adalah “haram” bagi suami?

Logika manusia bisa saja berpendapat, suami sebagai pihak yang lebih dewasa dan bijak, haruslah mampu memaafkan. Mampu mengalah.

Namun di dalam Islam, istri haruslah taat pada suami dan mencari keridloannya. Bukankah Rasulullah saw bersabda, “Suamimu adalah surgamu atau nerakamu.”

Di tengah kebuntuan? Antara ego dan tuntunan Islam. Adakah jalan keluar?
Sungguh, Islam adalah jalan keluar yang hakiki. Ada konsep mendasar yang tidak banyak dipahami oleh pasangan yang berumah tangga. Wajar karena, selain jarang mendapat tempat di media. Konsep Islam tentang rumah tangga adalah salah satu yang paling banyak diserang oleh ide feminisme. Sehingga jarang umat Islam memahaminya.

*Suami Istri = Sahabat*

Pertama perlu dipahami bahwa hubungan suami istri dalam Islam adalah hubungan persahabatan. Bukan mitra kerja.

Suami adalah qawwam (pemimpin) namun kepemimpinan suami bukanlah kepemimpinan yang otoriter.
Kepemimpinan suami adalah kepemimpinan yang "ma'ruf".

Seperti perintah Allah di Al Quran :
وعاشوا هن بالمعروف...

Dan hendaklah (para suami) mempergauli mereka (para istri) dengan ma'ruf...

Ma'ruf disini, artinya adalah bergaul dengan penuh persahabatan, kelemahlembutan, cinta, kasih sayang, tolong menolong, memahami, peka, meringankan... dll

Sehingga terciptalah sakinah.

Dalam ayat lain, bahkan Allah menegaskan hak para istri atas suaminya.

وَلَهُنَّ مِثلُ الَّذِي عَلَيهِنَّ بِالمَعرُوفِ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf.”

Sahabat Ibnu Abbas ra., menyatakan : aku suka berhias untuk istriku sebagaimana aku suka meminta dia berhias untukku.

Hal ini karena sahabat Ibnu Abbas ra memahami ayat di atas.

Rasulullah saw pun telah memberikan banyak teladan, bagaimana bergaul dengan para istri beliau. Sungguh beliau bukanlah qawwam yang otoriter yang menggunakan ayat-ayat Alquran sebagai “senjata” untuk mengalahkan atau menundukkan para istri beliau.

Namun sungguh beliau telah memahamkan Alquran itu, dan mendidik mereka dengan cara yang sangat ma’ruf.

Bergaul secara ma’ruf ini bukanlah tentang karakter romantis atau tidak, tapi tentang kewajiban suami...

Sementara itu kewajiban istri adalah mencari ridlo suami dan taat pada hal-hal yg diperintahnya (selama tdk melanggar syariat).

Istri perlu memahami bahwa suaminya memiliki hak yang sangat besar atasnya.

Rasulullah saw bersabda, _“Di antara hak suami adalah seandainya dari hidungnya mengalir darah dan nanah, lalu istrinya menjilatinya, yang demikian itu belum cukup menunaikan hak-haknya. Seandainya seseorang diperbolehkan bersujud kepada sesamanya, aku pasti akan memerintahkan istri  bersujud kepada suaminya ketika dia masuk ke rumahnya karena Allah mengutamakannya atas istrinya.”_

Syaikh Nasi Asy-Syafi’i dalam kitabnya As’adu Zawjatin Fil Alami, menyakatan : Dengan demikian taat kepada suami adalah puncak ibadah. Apabila Anda melakukan segala kebaikan, tetapi Anda durhaka pada suami, Anda tidak akan mendapat wangi surga.

Wahai para istri... tidakkah kita menangis membaca ini?

*Istri Adalah Kelembutan*

Berumah tangga adalah berinteraksi setiap saat dengan pasangan kita. Karenanya, selain ilmu tentang hukum-hukum Islam dalam rumah tangga,  suami istri juga perlu belajar memahami karakter satu sama lain. Agar dapat  berkomunikasi dengan tepat.

Sehingga tercipta hubungan yang saling memahami, bukan menuntut. Apalagi menuntut (dengan emosi) menggunakan dalil-dalil... Yang terjadi justru “perang dalil” dengan dibimbing syaithon, bukan cahaya ilahi.

Dan perlu kita pahami bahwa Islam menghendaki kita (para wanita) sebagai sumber kasih sayang dan kelemahlembutan.

Rasulullah saw bersabda, _“Istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga adalah yang penuh kasih sayang, subur dan dekat dengan suaminya. Jika suaminya marah, ia datang dan meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata, ‘Aku tidak bisa tidur hingga engkau ridlo terhadapku’.”_

Artinya, banyak mendekat dan meminta maaf pada suaminya.

Hadist itu bukan mau merendahkan wanita atau bentuk diskriminasi/ketidakadilan bagi wanita.

Tp hadist itu.. menegaskan bahwa sifat wanita yang hakiki adalah lemah lembut dan lapang hatinya.

Dan kelemahlembutannya inilah yang akan membuat "suami takluk" padanya.
Banyak testimony dari para istri... bahwa ketika mereka menggunakan cara-cara lembut, mengalah, menunjukkan rasa cinta... suami menjadi lebih paham apa yg diinginkan wanita dan menjadi bersikap lebih baik.

Sayangnya... karakter hakiki wanita ini seolah sangat sulit kita wujudkan. Di tengah derasnya ide gender dan feminisme, sifat lemah lembut itu menjadi terkikis. Menjadi kompetisi dalam kesetaraan. Bukan sifat penyayang dan pemaaf,  yang ada adalah harga diri sebagai istri. Suami disayangi hanya sebatas materi.

Padahal sejatinya, berumah tangga adalah salah satu ibadah. Tujuannya hanya satu : mengharap ridlo Allah.

Dan ketaatan istri pada suaminya, bukanlah bentuk merendahkan diri di hadapan suami, namun ketinggian kedudukannya di hadapan Allah.  Karena Allah-lah yang memerintahkannya. Dia.. adalah Dzat yang Maha Adil, Maha Sempurna.

Semoga Allah lapangkan urusan keluarga kita, membukakan jalan keluar dengan jalan Islam. Dan menjadikan keluarga kita, jalan menuju jannah-Nya.
Wallahu a’lam.[]

===
INFO MUSLIMAH JEMBER
_Inspirasi Wanita Sholihah_

1 komentar:

  1. Menikah bukan hanya pemenuhan kebutuhan biologis semata tapi disini kita dituntut untuk dapat mengatasi perbedaan yg timbul dlm berumah tangga dan itu membutuhkan ilmu

    BalasHapus