Rabu, 11 September 2019

Islam dan keberagaman



*Islam dan Keberagaman*
Oleh. Al faqirah, Ummu Fillah

“Kehadiran syekh Ibrahim,mantan rektor Universitas al Azhar Mesir. Di Banyuwangi khususnya dan Indonesia umumnya, akan memperkuat diskursus islam moderat yang ramah dan toleran dalam menghormati perbedaan dan keberagaman " ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anis pada senin kemarin ( 1/7/19) (beritajatim.com). Hal ini diungkapkan dalam pertemuan yang mendatangkan 400 undangan yang meliputi tokoh agama serta ulama yang akan di gelar di pendopo Banyuwangi.

Didalam islam seorang syaikhul islam(syekh) mempunyai  wewenang  dalam pemerintahan dan mengawasi seluruh aktivitas lembaga administrasi negara di wilayahnya sebagai wakil dari khalifah, kecuali urusan keuangan, peradilan  dan angkatan bersenjata. Apabila terdapat perkara baru yang tidak ditetapkan sebelumnya, ia harus  melaporkan kepada khalifah, kemudian baru dilaksanakan berdasarkan perintah  khalifah.

 Adapun tujuan Syekh ibrahim ke Indonesia,memperkuat Islam moderat yang ramah dan toleransi dalam keberagaman agama di Indonesia.  Faktanya Islam moderat, dewasa ini semakin memisahkan hal-hal yg sifatnya mendasar, yaitu lebih menjaga perasaan yang timbul di permukaan bukan menjaga aqidah masing-masing agama, suatu contoh kebiasaan umat muslim yg mengucapkan selamat Natal, merayakan tahun baru masehi dengan perayaan bunyi lonceng, pesta kembang  api, tiup terompet, dimana aqidah umat islam tergerus dalam adat kebiasaan umat Yahudi, Majusi dan Nashrani dalam satu malam. Astagfirullahal 'adzim.
 
 Allah  berfirman dalam Alqur'an, QS. al-Kafirun ayat 1-4 “Katakanlah (Muhammad) ‘wahai orang orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu  sembah, dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yg kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku"

Pada hakikatnya manusia pada setiap masa dan tempat predikatnya tetep manusia. Naluri dan kebutuhan manusia selamanya tidak akan berubah. Demikian pula hukum-hukum dan pemecahannya pun juga tidak berubah.Yang berubah hanyalah bentuk kehidupan manusia yang tidak berpengaruh terhadap pandangannya mengenai kehidupan. Adapun tuntutan kehidupan yang bermunculan berasal dari Naluri dan kebutuhan jasmani. Syariat secara luas telah mengatasi dan memecahkan tuntutan-tuntutan yang bermunculan dan berbeda-beda macamnya, bagaimanpun bentuk dan variasinya, dan bagaimanpun hebatnya tuntutan kehidupan.
  
Hal seperti inilah yang menjadi salah satu faktor perkembangan fiqih. Namun, keluasan dalam syariat tidak berarti syariat itu 'fleksibel' sehingga dapat disesuaikan dengan segala sesuatu walaupun bertentangan dengan syara'. Tidak berarti juga bahwa syari'at itu berubah secara berangsur angsur,sehingga dapat diubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Dari sinilah Islam sangat menghargai perbedaan, keberagaman dan pluralitas serta menjunjung tinggi toleransi. Dalam sejarah kekhilafan, telah diterapkan Islam dalam keberagaman dengan sangat baik tanpa mengubah hukum syariat yang telah di tetapkan oleh Allah sebagai pembuat hukum bagi kehidupan.

Jelas sekali disini, Islam telah mampu hidup dalam keberagaman di bawah kepemimpinan Rasulullah di madinah pada 623 M,yang kemudian diteruskan dengan kekhalifahan Abu bakar, Umar Bin Khattab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib hingga berakhirnya kekhalifahan Turki Ustmani pada tahun 1924.

Umat Islam saat itu telah menorehkan tinta emas kejayaannya di dunia, dalam setiap lini kehidupan. Kesejahteraan dalam bidang ekonomi, keadilan, pendidikan, teknologi, kesehatan, sosial sama-sama dirasakan tidak hanya oleh umat islam, tetapi juga non muslim.  Kesejahteraan yang sama tanpa  memandang, warna kulit, ras, dan bangsa diseluruh belahan bumi.

Maha  Benar Allah, dalam TQS. Al maidah ayat 48 Allah berfirman, “Dan Kami telah menurunkan kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak  menguji kamu terhadap  karunia yg telah di berikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat  kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan -Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan.”

Allahu a'lam bish showab.

*sumber Beyond The inspiration, ust Felix Y Siauw

0 komentar:

Posting Komentar