Sabtu, 28 September 2019

Millenial: Menyoal JFC Yang Kontroversial


[REPORTASE]
Millenial: Menyoal JFC Yang Kontroversial
(Forum Group Discussion, Back to Muslim Identity)

Komunitas BMIC (Back to Muslim Identity) cabang Jember kembali mengadakan kegiatan FGD (Forum Group Discussion) dengan judul yang bertajuk “Millenial: Menyoal JFC Yang Kontroversial”. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis (08/08/2019) di Jember. Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kepedulian Aktivis Mahasiswa terhadap berbagai masalah negeri terutama JFC yang menuai kontroversi, kemudian menganalisa akar masalah dan mencari solusi tuntasnya. 
Acara dimulai tepat pada pukul 15.30 WIB.

Peserta yang hadir dalam agenda ini berasal dari berbagai kampus di Jember. Acara dibuka oleh koordinator BMI Cabang Jember, Miftah Karimah Syahidah dengan menyapa para peserta dan membaca do’a terlebih dahulu sebelum acara diskusi dimulai, kemudian peserta dipandu untuk mengeluarkan pendapatnya tentang JFC yang menuai kontroversi di Jember kota santri. Ada pihak yang pro dan ada juga yang kontra dengan keberadaan JFC.


Berikut pendapat dari berbagai Mahasiswa yang hadir:
Dari pihak yang kontra beranggapan bahwa keberadaan JFC ini lebih banyak mudharatnya, mereka sangat menyayangkan adanya JFC (Jember Fashion Carnaval) di kota Jember yang lekat dengan julukan kota santri ini. Sebagaimana pendapat dari salah satu Mahasiswa, yakni Arifatul Hasanah, “Sebagai orang yang asli Jember, saya sangat miris dengan adanya JFC ini. Mengapa? Karena di dalamnya banyak sekali unsur kemaksiatannya, mulai dari pria yang berdandan seperti perempuan, tabarruj, ikhtilat, hingga meninggalkan sholat. Memang JFC sudah go International, tapi ini tidak membuat saya bangga. Bangga terhadap sesuatu harus melihat objeknya. Budaya buka-bukaan bukanlah budaya Indonesia, terutama kota Jember dengan identitas kota santri.” Ucapnya. Arifatul juga menyampaikan efek jangka panjang yang akan menimpa generasi yakni dengan bangga membuka aurat, dll.

Sedangkan di pihak pro beranggapan bahwa keberadaan JFC merupakan sesuatu yang luarbiasa karena sudah go international dengan konsep budaya yang ada di Indonesia. Sebagaimana pendapat dari salah satu peserta, Diana, menyampaikan bahwa “JFC itu membawa kebudayaan yang ada di Indonesia. Jadi kita harus biasa saja menanggapinya. Seperti kostum yang dipakai oleh Cinta Laura itu kan asalnya dari budaya Kalimantan yang merupakan budaya yang ada di Indonesia sendiri.” Ucapnya. Salah satu Mahasiswa juga menanggapi bahwa jikalau pun ada pelecehan seksual yang terjadi, maka bukan salah yang membuka aurat. Tetapi dikembalikan kepada individunya bagaimana memandang aurat.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ani Zahra yang merupakan pegiat media sosial. Ani Zahra menyampaikan terkait apa yang ada dibalik JFC, mulai dari akar masalah hingga solusi tuntasnya. Berikut sedikit cuplikan materi yang disampaikan, bahwa keberadaan JFC justru membawa banyak polemik di tengah masyarakat. Karena konsep dalam JFC tidak murni berasal dari budaya Indonesia melainkan sudah tersusupi oleh budaya liberal-sekuler Barat. Dimana didalamnya sudah tidak mengindahkan lagi norma agama, yakni buka-bukaan aurat, tabarruj, khalwat, ikhtilat, bahkan ternyata tidak sedikit yang bercerita kalau JFC digandrungi oleh LGBT.  Sehingga hal seperti ini akan menimbulkan efek jangka panjang bagi generasi, dengan mencontoh tontonan yang bangga dengan aurat dan pergaulan bebas. Tak hanya itu, bahkan efek besarnya adalah semakin maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan karena terangsang oleh pakaian minim yang dipertontonkan. Maka harus ada solusi tuntas untuk menyelesaikan masalah ini yakni dengan solusi kuratif dan preventif dengan tiga penjagaan (individu, masyarakat, dan negara yang bertakwa). Dan Islam sebagai agama yang sempurna sudah memiliki solusi tuntasnya, yakni mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan, aturan menutup aurat, tidak tabarruj, tidak berkhalwat/ikhtilat, serta pengaturan secara sistemik dalam negara.

Diskusi berakhir pada pukul 17.30 WIB dan diakhiri dengan seruan mahasiswa untuk bersama-sama bergerak, bersinergi, mewujudkan perubahan yang hakiki dengan kembali kepada Identitas kita sebagai muslim dan mengembalikan citra Jember sebagai kota santri. Aktivis mahasiswa harus berada di garda terdepan untuk melakukan perubahan. Acara FGD diakhiri dengan komitmen aktivis mahasiswa muslim untuk tetap istiqomah menyampaikan kebenaran, beramar ma’ruf nahi munkar serta membuat dakwah kreatif. Salam Perubahan!!! [Ulfiatul Khomariah]
.
#JFC #jfcjember #jfc2019 #jemberfashioncarnaval #jember 

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar