Sabtu, 28 September 2019

PARA ORTU PLEASE JANGAN LUGU


PARA ORTU plis JANGAN LUGU

by Hesti Rahayu

Anda pernah dengar nama Ted Bundy?
Aku tau nama itu pertama kalinya pas baca bukunya Mark B. Kastleman (2015) yang diterbitkan Yayasan Kita dan Buah Hati asuhan Bu Elly Risman.

Judul bukunya "The Drug of The New Millenium" (Narkoba Milenium Baru), membahas bagaimana pornografi di internet dapat mengubah otak manusia secara radikal.

Salah satu chapter di buku itu cerita tentang Ted Bundy. 
Siapakah dia?

Ted Bundy itu pembunuh terkenal di AS. Selama rentang 5 tahun dari 1974 hingga 1978, Bundy tercatat telah membunuh 30 wanita dan melakukan tindakan kriminal lainnya. Disinyalir angka pembunuhan yang telah dilakukannya lebih dari itu (mungkin hingga 40 wanita). Tidak hanya sekedar membunuh, tetapi juga sadis dan psikopat.

Lalu apa yang perlu diketahui para ortu?
Well... menurutku para ortu kudu ngerti tentang bagaimana melihat dengan analitis dan waspada kisah Ted Bundy ini.

Menurut buku The Drug of The New Millenium itu, Ted Bundy adalah salah satu contoh dari bagaimana kejahatan pornografi di media menjadikannya mempraktekkan apa yang dia lihat terhadap orang-orang di sekitarnya.

Ted kecil yang terbiasa membuka-buka majalah Playboy di sudut swalayan terdekat, menjadi pecandu pornografi sejak belia. Ketika kemudian gambar-gambar di majalah itu tidak mampu lagi memuaskan hasrat kecanduannya karena dia membutuhkan "dosis" yang makin tinggi, di saat itulah dia mencari mangsa wanita di dunia nyata. 

Inilah yang di buku itu disebut sebagai "disensitisasi" (merasa tidak sensitif lagi). 

Ted membutuhkan beberapa puluh tahun untuk naik dari level 1 disensitisasi, yakni saat Ted kecil membuka-buka majalah Playboy, hingga ke level 10, saat Ted dewasa membunuh puluhan wanita muda secara brutal.

Itu ketika di jamannya Ted Bundy belum mengenal internet, dan akses media masih sangat terbatas, bukan? Lha kalo sekarang??

Menurut Anda, berapa lama waktu yang diperlukan seseorang hari ini dengan media internet, untuk naik dari gambar dengan level negatif 1, ke tingkat 10?😥😰

Inilah yang menuntut para ortu jaman kini agar jangan lugu.
Jangan biarkan anak berkembang dalam asuhan gadget dan internet begitu saja. 

Dampingi anak anda dan tanamkan pemahaman yang benar mengenai internet sehat. No horor, no kekerasan, no pornografi. Kalo perlu, aktifkan safe filter dan pasang aplikasi proteksi. 

Buku tersebut mengakhiri uraiannya dengan memberikan 3 prinsip penting untuk melindungi keluarga dari wabah pornografi di internet.
Intinya sbb :

1) Ajarkan Intimasi Seksual yang Suci. Intinya tanamkan pendidikan moral, yang kalo saya bahasakan ya harus ditanamkan pendidikan akhlak dan pemahaman agama. Seks itu tidak kotor, tapi suci, makanya harus menikah dulu. Menikah itu penting dan sakral, jangan lakukan seks sebelum menikah. 

2) Buat dan Pelihara Keintiman Sejati dalam Hubungan Keluarga Anda.
Intinya : jalinlah dan penuhi kebutuhan batin keluarga kita untuk mencintai dan dicintai. Jangan sampai ada ruang kosong di hati yang mengakibatkan mereka lari ke pelampiasan seks terlarang ataupun pornografi internet.

3) Lakukan Perawatan Diri Setiap Hari.
Intinya :  jagalah keseimbangan hidup, jangan sampai Anda mengabaikan kebutuhan emosional diri sendiri hingga akhirnya perlu pelepasan"lelah" yang negatif.

Hmm...balik ke Ted Bundy, di tahun 2019 ini kisahnya difilmkan. Dua film sekaligus. Versi layar lebar dan serial Netflix.

Diantara ulasan film di internet, menurutku yang paling bagus adalah ulasannya bbc.com yang secara kritis menuliskan sosok sang pembunuh ini kok malah digambarkan sebagai sosok seksi di filmnya. (https://www.bbc.com/indonesia/vert-cul-48346718).

Aku sendiri belum nonton filmnya sih.
Agak ngeri, soalnya kata salah satu review film ini, yang versi Netflix disarankan agar "jangan sendirian menonton filmnya" karena dikhawatirkan brutalnya pemikiran Bundy bisa mempengaruhi penonton.😅😨

Nha ya ini.... Menurutku sih ketika 3 prinsip di atas diterapkan... Itu masih dataran individu yach.

Padahal memerangi pornografi tidak bisa hanya skala individu. Butuh juga dukungan masyarakat dan juga negara. Iya sih patut diapresiasi ketika kabarnya Kominfo udah memblokir lebih dari 1 juta situs porno di 3 tahun terakhir. Tetapi yang namanya pornografi itu udah jadi industri di negara asalnya. Jadi tentu saja mereka nggak akan tinggal diam. 

Nggak bisa masuk melalui website, ya masuk lewat game, aneka spam, dan bisa jadi melalui berbagai cara yang sebelumnya sebagai ortu tidak pernah kita sangka.

Nah, pak bu, mari yuk sama2 saling waspada, kritis bersikap, dan selalu belajar and saling mengingatkan.

Fastabiqul khairat....💗

0 komentar:

Posting Komentar