Sabtu, 28 September 2019

PETAKA UTANG BERDARAH


[SUARA MUSLIMAH] 
PETAKA UTANG BERDARAH 
Oleh Kholda Najiyah

Akhir nama Aulia Kesuma (35) alias AK akan dikenang sebagai istri keji. Dua nyawa dijagalnya. Bukan musuh bebuyutan, bukan orang asing. Korban adalah teman seranjangnya. ☹

Menyewa pembunuh bayaran, AK memerintahkan untuk mengeksekusi suaminya, Edi Chandra Purnama alias Pupung (54). Turut menjadi korban sang anak tiri, M Adi Pradana (23).

Keduanya dibantai, lalu dibawa ke Cidahu, Sukabumi. AK dan anak kandungnya sendiri, Kevin, lantas menyalakan bensin, membakar jasad kedua korban. 😣

Apa motifnya? Utang riba Rp10 miliar. Rinciannya, Rp7 miliar atas namanya, Rp2,5 miliar atas nama dia dan suami. Sisanya, Rp 500 juta berupa tagihan kartu kredit. 

Semula, uang itu untuk membuka rumah makan, namun gagal. Mereka harus membayar tagihan bank Rp200 juta perbulan. Untuk melunasi, AK membujuk suaminya agar menjual rumah. Namun suami menolak karena rumah itu warisan orangtuanya (tribun.com). 

Tak sampai 24 jam, perbuatan sadisnya terbongkar. Boro-boro bisa membayar utang, kini ia terancam hukuman mati. Harga yang pantas untuk sebuah pembunuhan terencana.

GAYA HIDUP

Semua terpana dengan tragedi ini. Bertanya-tanya, untuk apa sebuah keluarga memiliki utang sedemikian besar? Kalaulah buka usaha, haruskah sebesar itu? Lalu kartu kredit, apakah untuk membiayai gaya hidup? Entahlah. Hanya mereka yang tahu. Mari ambil pelajaran. 🤔

Pertama, tentang bahaya utang riba. 
Keluarga yang dihidupi dengan modal riba, sesejahtera apapun, ujungnya tidak akan berkah. Utang yang mulanya kecil, lama-lama akan membengkak. Mencekik keuangan rumahtangga. Mulailah percekcokan. Konflik antaranggota keluarga.

Tergeruslah nilai-nilai kemanusiaan. Banyak yang nekat membunuh, merampok, atau bunuh diri gara-gara terlilit utang riba. Itulah sebabnya Allah SWT mengharamkan riba. Mafsadatnya sungguh menyiksa.

Saat ini, jeratan riba demikian menggurita. Tawaran kredit berbunga begitu mudah masuk ke rumah-rumah. Bahkan melalui smartphone, cukup menjentikkan jari memencet aplikasi, uang pun datang.

Lalu mulailah berjatuhan para korban. Setelah menikmati utang riba yang tak seberapa, ujungnya dikejar-kejar debt collector. Hidup tak tenang. Diteror tagihan demi tagihan. Bahkan nama pengutang disebar. Nama baik pun tercemar.

Maka itu, utang yang dibolehkan dalam Islam adalah jika untuk memenuhi kebutuhan pokok yang mendesak. Utang dalam Islam didasari ta’awun, menolong orang yang kesusahan. Kepepet. Bukan untuk modal usaha, apalagi sekadar memenuhi hasrat belanja. 

Pelajaran kedua, tentang gaya hidup qonaah. Keluarga Muslim idealnya hidup dalam peradaban Islam yang menyuburkan sikap qonaah. Tidak ngoyo menjalani gaya hidup mewah, apalagi dibela-belain utang. Cukup hidup sesuai standar kelayakan dan kemampuan. 

Tak perlu berwewah-mewah jika tak berpunya. Malulah bergaya dari hasil utang. Malulah berpura-pura kaya. Toh gaya hidup mewah hanya menuai pujian manusia, tak bernilai di hadapan-Nya. 

Saat ini, godaan gaya hidup memang luar biasa masif. Individu terseret dalam arus konsumtif. Laki-laki atau wanita sama saja, dicekoki paradigma materialistis. 

Merasa perlu memiliki harta sebanyak-banyaknya, demi bisa menaikkan standar kehidupan. Tak merasa sejahtera jika belum memiliki rumah mewah, kendaraan pribadi, dll. 

Semua ini karena kita hidup di bawah naungan sistem sekular kapitalis global. Sadar atau tidak, sistem ini telah menjauhkan masyarakat dari hidup qonaah. 

INTERAKSI PASUTRI

Sungguh disesalkan, mengapa kejadian tragis ini harus terjadi. Seorang istri, mengapa bisa membenci suaminya sendiri. Selain masalah utang, AK memang mengaku ada KDRT. Bahkan keluarga besarnya sudah menyarankan untuk bercerai jika tak tahan. 

Namun, haruskah ia membunuh suaminya? Pemberinya nafkah dan tempatnya meminta keridhoan. Imamnya, kunci surganya. Ini tidak akan terjadi jika seorang istri memiliki kelembutan hati. Meridhoi setiap keputusan dan kebijakan sang suami. 

Bagaimana ia bisa membantah, benci dan kejam pada teman bercintanya? Hubungan suami-istri macam apa hingga terpikir untuk menghilangkan nyawa pasangan? 🤔

Tampaknya fungsi afeksi atau kasih sayang telah melayang. Masalah demi masalah bukan dihadapi bersama. Dipecahkan berdua dengan berserah pada-Nya. Namun justru dengan penuh kebencian. Bahkan hingga pertumpahan darah. 😣

Entahlah. Apakah potret pasutri saling benci ini hanya dialami AK? Jangan-jangan banyak kaum istri yang dalam hati kecilnya muncul benih-benih benci pada suami. 🤔

Mungkin karena rasa kecewa yang menggunung. Tidak puas dengan uang belanja. Tidak puas dengan kecuekan suami. Tidak puas dengan nafkah batin. Dan berbagai ketidakpuasan lainnya.  

Begitu pula sebaliknya. Jangan-jangan banyak para suami yang sejatinya memendam benih-benih kebencian pada sang istri. Capek dengan tuntutan istrinya. Kurang puas dengan pelayanan batinnya. Dan berbagai kekecewaan yang ditimbunnya diam-diam. Tak terungkapkan. Menumpuk. Mengundang perilaku setan.

Tampaknya, berita demi berita mengonfirmasi hal tersebut. Pembunuhan atau penganiayaan, hampir selalu dilakukan oleh orang-orang terdekatnya. Bahkan orang-orang yang seharusnya mengasihi, menyayangi dan melindunginya. 

Betapa banyak kasus suami menganiaya istri atau istri malah istri yang menganiaya suami.  Suami menelantarkan istri, istri kabur dari suami. Suami bunuh istri, istri bunuh suami. Na’udzubillahi minzalik.😖

Hubungan pasutri yang seharusnya interaksi kasih sayang, telah berubah menjadi interaksi saling benci. Ironisnya, kerap kali pemicunya adalah masalah-masalah yang bersifat keduniawian. 

Entah karena masalah ekonomi, uang, utang, hingga perselingkuhan. 
Inilah potret pasutri yang tidak menjalin hubungan pernikahan berdasar tali iman yang kokoh.

Pelajaran bagi pasutri untuk merevisi hubungannya kembali. Adakah benih-benih kebencian mulai tertanam? Jika iya, segera buang jauh-jauh hingga menghilang. Jangan biarkan masalah-masalah duniawi, menjadi titik-titik noda yang merusak hubungan cinta pasutri. 

Apalagi jika hanya masalah sepele, seperti kegagalan dalam memahami karakter pasangan, jangan sampai menjadi bibit-bibit kekecewaan.

Segeralah perbaiki hati. Ridhoi pasangan apa adanya. Syukuri kehadirannya. Belajar menyesuaikan diri untuk melengkapi kekurangannya. Bersama hadapi masalah dengan keterbukaan. Pecahkan dinding-dinding kekecewaan atas pasangan dengan cermin kewarasan. Boleh jadi kita juga kerap mengecewakan pasangan.

Hapuskan ketidakpuasan terhadap pelayanan pasangan dengan memberi pelayanan terbaik. Ungkapan bijak mengatakan, jika kita ingin diperlakukan baik, maka berlaku baiklah. 

Terakhir, di alam penuh tantangan dan fitnah, tak lupa senantiasa panjatkan doa. Memohon dan berlindung pada Allah SWT agar dijauhkan dari malapetaka rumah tangga. Menjadi pasutri yang terpelihara nama baiknya. Harum di dunia hingga ke surga. Aamiin.(*)

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: +628978632838
——————————

0 komentar:

Posting Komentar