Rabu, 02 Oktober 2019

5 Tips Menanamkan Aqidah pada Anak


[Keluarga Sakinah]

5 Tips Menanamkan Aqidah pada Anak

Oleh : Faiqoh Himmah

Menanamkan aqidah pada anak merupakan proses pendidikan pertama dan terpenting yang harus dilakukan oleh orang tua. Menanamkan aqidah pada anak bertujuan memahamkan anak akan hakikat dirinya, hakikat keberadaannya di dunia sehingga perilakunya sesuai dengan tujuan keberadaannya di dunia ini.
Berikut adalah 5 tips menanamkan aqidah pada anak.

Pertama, diktekan kalimat tauhid. Mendiktekan kalimat tauhid adalah dasar pendidikan yang dicontohkan oleh Nabi saw. Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw bersabda,”Ajarkanlah kalimat laa ilaaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama dan tuntunkanlah mereka mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah ketika menjelang mati.” (HR. Hakim)
Banyak riwayat yang mengisahkan bahwa para shahabat menyukai untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat laa ilaaha illallah sebagai kalimat yang pertama kali mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali. 

Mendiktekan kalimat tauhid tentu dengan cara yang menyenangkan, karena kesadaran anak usia dini adalah kesadaran emosional. Orang tua perlu menemukan cara-cara yang menarik. Misalkan dengan tepuk, nada, atau bercerita. 

Kedua, mengenalkan Allah adalah Sang Pencipta. Biasanya orang tua akan mengajarkan pada anak siapa namanya, nama ayah dan ibunya, saudaranya. Namun lupa mengajarkan siapa penciptanya. Alquran telah mengajarkan pada kita metode mengenalkan Allah sebagai Sang Pencipta. Yakni dengan mengaktifkan seluruh indra untuk mengamati alam semesta. Sebagaimana Alquran mengarahkan manusia untuk berpikir dan merenungi alam semesta untuk mendapatkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran) Allah bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah : 164)

Ketika anak makan buah pisang misalnya, orang tua bisa menjelaskan apa warna buah pisang, bagaimana teksturnya, apa rasanya, dan siapa yang menciptakan pisang?

Ketika sedang melihat langit dan awan, bulan, bintang, sinar matahari, orang tua bisa mengeksplorasinya. Matahari bersinar, tandanya hari telah pagi, rasakan hangatnya sinar matahari di kulit, Alhamdulillah Allah menciptkan matahari, sehingga ada cahaya dan kita bisa melihat benda-benda. Ketika langit gelap, dihiasi bulan dan bintang, ajak anak merasakan indahnya dan tanamkan bahwa Allah-lah yang menciptakan keindahan itu. Lebih bagus lagi jika orang tua membacakan ayat Alquran tentang benda-benda langit. 

Tanda-tanda kekuasaan Allah juga terdapat pada diri anak. Misal ketika anak menikmati es krim. Orang tua bisa menjelaskan, alhamdulillah Allah beri adek lidah, sehingga bisa merasakan nikmatnya es krim. Jelaskan pula bahwa Allah jugalah yang menciptakan tangannya, kakinya, dll. 

Semua tentu dilakukan dengan cara yang seru dan menyenangkan bagi anak.

Ketiga, tanamkan rasa syukur pada anak bahwa Allah menyayanginya. Misal, ketika kita memeluk anak atau sebaliknya, katakan Alhamdulillah Allah memberi umi tangan sehingga bisa peluk adek. Begitu pula ketika anak mendapatkan rizki berupa hadiah misalnya. Selalu tanamkan rasa syukur pada Allah.

Keempat, biasakan mendengar ayat-ayat Alquran dan mencintai Alquran. Alquran adalah kalamullah, perkataan Allah. Alquran adalah pedoman hidup setiap mukmin. Bukan sekedar bacaan biasa. Agar kelak anak terbiasa mengikuti petunjuk Alquran dalam hidupnya, harus dibiasakan dekat dan mencintai Alquran sejak dini.

Agar anak mencintai Alquran, orang tua pun harus mencintainya. Putar murottal Alquran di rumah sehingga Alquran menjadi hal yang biasa anak dengar sehari-hari. Buat target menghafal Alquran bersama anak. Ceritakan kisah-kisah dalam Alquran pada anak. Kaitkan ayat-ayat Alquran dengan fakta kehidupan sehari-hari sehingga mereka merasa bahwa Alquran adalah sesuatu yang hidup dan nyata. 

Kelima, dorong anak melakukan kebaikan dengan dorongan ruhiyah. Apa itu dorongan ruhiyah? Yakni melakukan kebaikan semata mengharap keridloan Allah. Mengapa harus dorongan ruhiyah? Karena ini adalah motivasi terbesar, terkuat manusia melakukan kebaikan dengan istiqomah. Ini pula yang sejalan dengan visi penciptaan manusia, yakni untuk beribadah kepada Allah SWT.  Sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat Adz-Dzariyat ayat 56.

Memberi dorongan ruhiyah misalnya, adek sholihah kalo pake kerudung nanti disayang Allah. Beri pemahaman tentang surga dan keindahannya dan itu adalah balasan untuk orang-orang yang senang melakukan perintah Allah. Beri pujian yang membangkitkan keinginan untuk lebih dicintai Allah. 

Semoga ikhtiar kita mendidik anak dengan Islam diridloi Allah dan terlahir dari tangan kita generasi Islam yang kokoh aqidah dan siap mengisi peradaban Islam yang sebentar lagi (dengan ijin Allah) akan tegak kembali. Wallahu a’lam.[]

0 komentar:

Posting Komentar