Selasa, 22 Oktober 2019

Sulli (Mungkin) Tidak Bunuh Diri, Ia Dibunuh Demokrasi!!


Sulli (Mungkin) Tidak Bunuh Diri, Ia Dibunuh Demokrasi!!
(Blogger Profesional)

Satu lagi, Idol negeri ginseng meninggal karena bunuh diri. Yap! Seakan tak cukup setelah tahun lalu Kim Jong Hyun juga mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama. Beberapa hari lalu, juniornya juga menyusul.

Bagi kamu yang pernah jadi K-Popers atau masih, pasti tidak mungkin kalo tidak kenal dengan Choi Sulli. Maknae f(x) inilah yang saya maksud mengikuti jejak seniornya tsb. Polisi dan agensi menduga penyebab bunuh diri cewek cantik ini adalah hate comment atau komentar jahat para penggemar.

Sungguh sangat mengerikan, karena hate comment nyawa melayang. Kasus seperti ini memang tidak 1-2 di sana. Sehingga ketika Sulli meninggal, pemerintah Korea akan menggodok kembali RUU tentang komentar jahat.

Tapi kalo kita mau menelisik lebih jauh. Adanya komentar jahat melampaui batas juga karena sistem demokrasi yang sekarang dipakai di mana-mana. Salah dua dari 4 (empat) hal yang dijamin dalam demokrasi adalah kebebasan berpendapat dan kebebasan berprilaku. Saking bebasnya, sampai tak ada batas dan setara dengan kejahatan. Padahal kedua hal ini amat sangat kontradiksi.

Di satu sisi, demokrasi memberikan kebebasan berprilaku kepada individu, di sisi lainnya individu lain bebas berpendapat atau berkomentar tentang apa saja, termasuk atas prilaku individu lainnya. Masing-masing akan memegang klaim kebenaran atas kebebasan yang menurut mereka adalah hak mereka.

Dalam kasus bunuh diri Sulli, dia dikenal sebagai artis yang sangat terbuka atau blak-blakan kalau menurut istilah orang Indonesia. Ia mudah dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak sedang mengenakan bra atau mencium sahabat wanitanya. Laksana gula yang mengundang semut, tentu saja sikap Sulli mendapat respon netizen, baik dukungan maupun komentar jahat. Bagi Sulli, itu adalah hak dia melakukan apa yang dia suka, padahal bagi netizen pun itu adalah hak mereka berkomentar. Tanpa adanya aturan dan standar yang jelas, menjadi “tidak mengherankan” kalau hal ini pun kemudian berdampak pada “nyawa melayang” sang artis.

Karena kebebasan seperti ini dilindungi oleh Undang-undang, artis yang “ketiban” hate comment jadi susah mendapatkan perlindungan. Contoh kasus : Song Hye Kyo dan tim "menangkap" 50 orang yang melakukan hate comment terhadap dirinya dan melakukan penuntutan. Tapi, akhirnya yang bisa diproses hanya 2 (dua) orang.

Konsep kebebasan ala barat sendiri adalah kebebasan yang absurd. Karena sejatinya tidak ada kebebasan hakiki pada sisi manusia. Dunia barat tidak memiliki standar yang pasti menentukan mana yang baik dan mana yang benar. Sebagai contoh, bila kita belajar sosiologi, kita akan mendapati  perubahan masyarakat dari pertanian ke industri yang berdampak pada pergeseran hubungan sosial laki-laki dan perempuan. Budaya dansa dan pesta anak muda mulai dianggap biasa, ujung-ujungnya zina pun menjadi hal yang lumrah terjadi, bahkan dijadikan lifestyle (gaya hidup).

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa konsep kebebasan ala barat bersifat merusak, bukan memperbaiki manusia. Maraknya aksi bunuh diri adalah salah satu efek dari sekian banyak dampak yang terjadi akibat konsep kebebasan yang tidak jelas ini.

Berbeda dengan demokrasi yang merupakan bawaan dari sistem kapitalis. Islam sebagai sistem kehidupan mengatur segala sesuatunya sesuai fitroh manusia. Tidak terlalu mengekang, juga tidak membebaskan sampe kebablasan.

Di dalam Islam diwajibkan untuk beramar ma'ruf nahi munkar yaitu perintah untuk mengajak kebaikan dan mencegah keburukan. Islam melandasi pembangunan masyarakat dengan amar makruf nahi mungkar bukan kebebasan. Kebebasan manusia dibingkai oleh Islam dalam makruf dan mungkar. Bila sebuah aktivitas disebut makruf, manusia bebas disitu untuk berkreasi dan bila sebuah kegiatan disebut mungkar, maka manusia harus berhenti dan berusaha mencegahnya sekuat mungkin (hidayatullah.com).

Dengan kata lain, Islam mengajarkan agar selalu “berkomentar” terhadap suatu keburukan, sebagaimana dalam hadits, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim). 

Berkomentar di sini maksudnya adalah menyeru manusia pada kebaikan Islam (nasihat yang ahsan). Dimana hal ini merupakan kewajiban individu, kelompok (jamaah) dan negara. Dalam QS. An-Nahl ayat 125, dijelaskan bahwa hendaknya hal ini dilakukan dengan cara yang baik yaitu dengan lemah-lembut, tutur kata yang baik serta dengan cara yang bijak.

Syekh al-Misri mengungkapkan beberapa etika dalam berkomentar atau memberi nasihat pada orang lain diantaranya adalah : dilakukan dengan niat ikhlas karena Allah, berdasarkan ilmu, berhias diri dengan akhlak lemah lembut dan memilih cara yang tepat.

Di dalam kehidupan Islami, bila Sulli adalah seorang muslim maka ia memiliki hak untuk mendapatkan nasihat ahsan dari saudaranya. Sehingga seharusnya tidak ada istilah bunuh diri karena hate comment. Bila ia seorang kafir, maka ia akan mendapati bahwa Islam merupakan rahmatan lil alamin, yang membawa ketentraman tidak hanya bagi muslim, namun juga seluruh ummat manusia termasuk bagi yang kafir, bahkan bagi seluruh alam.

Tentu saja, pembangunan masyarakat yang Islami seperti ini tidak akan terjadi di dalam demokrasi yang begitu mengagungkan kebebasan. Ia hanya bisa diterapkan dalam sistem Islam yang menjadikan Islam sebagai problem solving segala problematika ummat.

Wallahu a’lam bis showab..

——————————
Silahkan share dengan mencantumkan sumber Info Muslimah Jember - Inspirasi Wanita Shalihah
——————————
Follow kami di:

Facebook: fb.com/InfoMuslimahJember

IG: instagram.com/InfoMuslimahJember

Youtube: https://www.youtube.com/channel/UCzg4c72yhNO7DwHUlR0_gtA

Website: www.infomuslimahjember.com

——————————
Grup WhatsApp: Inbox IG dan FP
——————————

0 komentar:

Posting Komentar