Kamis, 07 November 2019

Bersumpahlah, Wahai Para Pemuda!



Oleh : Fathimah Adz (Writer Milenial)

Diperingati setiap tangal 28 Oktober pada setiap tahunnya, Sumpah Pemuda memiliki maksud agar terus dikenang dan pahami setiap maksud dari bait2 kata sumpah dari para pemuda. Berawal dari para pemuda Indonesia yaitu PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia) serta para cendekia yang menginginkan suatu perubahan terhadap Indonesia. Merdeka!, inilah cita mereka. Pertemuan demi pertemuan terang-terangan dan sembunyi-sembunyi mereka lakukan. Akhirnya kongres sumpah pemuda menghasilkan rumusan yang menjadi pemersatu para pemuda di seluruh Indonesia.
            
Begitu lantangnya para pemuda kala itu berseru, bahwa mereka terikat dengan bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu. Mereka mempertahankan Indonesia dengan jiwa dan raga. Para pemudanya tak gentar ketika di cekal, tak takut walau di bilang radikal. Mereka memperjuangkan masa depan dan kebangkitan Indonesia.

And then, disinilah kita berdiri. Tanah Indonesia yang subur makmur. Hasil perjuangan dan tumpahan darah para mujahid Indonesia yang menggemakan takbir dan kalimat tahid disetiap lemparan bamboo runcingnya. 
            
Well,bagaimana kabar pemuda hari ini? Nyatanya,para pemuda masa kini, yang diharapkan jadi andalan dan penerus tongkat estafet kepemimpinan, banyak yang masih bermalas-malasan. Jangankan berani bersumpah untuk tanah air, mencoba berfikir tentang masalah remaja mereka ogah-ogahan. Mereka masih asyik dengan dunianya sendiri. Setiap harinya hanya sibuk berselancar di dunia maya, sibuk ngurusin ketenaran di social media, hanyut dalam cerita cinta drama Korea sampai varietynya. Sampai lupa, ternyata diri belum bisa menghasilkan karya apa-apa untuk bangsa. Apalagi agama. Wah, gila!
            
Bagaimana denga pemuda muslimnya? Eh, ternyata nggak jauh beda. Pemuda muslim masa kini sangat jauh dari nilai-nilai islam. Mereka tak bangga,bahkan merasa ribet menjadi ‘muslim’ seutuhnya. Kebanyakan dari mereka, atau bahkan kita hanya menjadi followers dari tren kehidupan barat. Mula dari gaya hidup yang tak au terikat hukum syariat, cara berbusana yang tak menutup aurat,pola pergaulan yang semakin tak bersekat,hingga urusan se-sakral agama bisa bikin curiga, bahkan muslim yang taat bia dituduh pelaku jahat. Gawat Darurat!
            
Padahal, perjuangan para pejuang muda indonesia dulu, tak jauh berbeda dengan para pejuang muda islam dimasa lalu. Sama. Mereka berjuang sekuat tenaga, bersumbah dengan jiwa dan raga, hingga titik darah penghabisan terus memperjuangkan tanah dan agamanya yang mulia.
            
Ingat kah kita? seorang As’ad bin Zurrah, diantara 12 orang yang bersumpah setia terhadap Allah dan rasul-Nya, adalah sosok pemuda yang paling muda usianya, namun dialah yang pertama kali menjabat tangan nabi. Ia lah yang paling petama kali ‘kepo’ tentang dakwah islam. hingga akhirnya Allah melembutkan hatinya, sepanjang hayatnya ia teguh membela Allah dan meninggikan kalimat-Nya.
            
Tak ingat kah kita? Sosok pemuda dambaan. Mus’ab bin Umair. Remaja Quraisy terkemuka. Gagah, tampan. Jiwanya penuh semangat kemudaan. Menjadi buah bibir para gadis-gadis bangsawan. Suatu saat ketika ia masuk islam,ia pulang kerumah dengan dada penuh keyakinan, sedang ibu dan para pembesar Makkah suda siap mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Sampai dihadapan mereka, Mus’ab dengan bangga membacakan kalimat syahadat dan ayat-ayat Al-quran. ‘Aku bersumpah, bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah,” ucapnya. Sudah tau jika sebentar lagi ia akan dipenjarakan, senasib dengan teman-temannya yang seiman.
            
Pada suatu hari ia tampil dihadapan kaum muslimin yang sedang melingkar bersama Rasul. Demi memandang Mus’ab, mereka menundukkan kepala, sebagian lainnya sudah berlinang air mata. Kenapa? Belum hilang diingatan mereka, pakaian Mus’ab dulu bak kembang di taman. Berwarna-warni dan menghamburkan bau wangi. Namun kini, ia hanya mengenakan jubah usang, penuh tambalan. Namun wajahnya berseri dan jiwanya tenang. Dada Mus’ab penuh dengan keimanan.
            
Begitulah, gereasi awal menginspirasi generasi selanjutnya. Para pemuda muslim dahulu tangguh-tangguh, hingga menjadi inspirasi bagi pejuang muda Indonesia. Di setiap peringatan sumpah pemuda, harusnya kita sadar kembali, bahwa posisi pemuda bukan hanya untuk menjadi budak dunia. Namun lebih dari itu, jiwa muda adalah pilar peradaban bangsa.

Maka stop! Pemuda bukan saatnya lagi hanya sibuk kesana kemari mencoba restoran-restoran baru, nongkrong cantik dengan obrolan seputar artis yang menarik. Stop! Itu udah udik. Kini saatnya remaja bangkit.

Maka, bersumpahlah wahai pemuda,bahwa kita akan menjaga negri ini sepenuh jiwa dan raga, sebagaimana para mujahid dan pejuang Indonesia sebelumnya. Mari berjuang dengan keimanan, karena imanlah yang mampu mencegah turunnya adzab dan malapetaka dari sang maha kuasa. Sebagaimana dalam firmannya, “Dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Al-A’raf: 96).

Bersumpahlah para pemuda,bahwa kita tak akan membuang-buang waktu dan usia kita untuk melakukan hal yang sia-sia. Kita yakin, ditangan kitalah kemenangan akan diraih. Dan kemenangan tak akan dapat diraih, kecuali dengan upaya yang gigih

Bangkitlah pemuda!jadikan kedamaian negri sebagai cita kita tertinggi. Hingga kita patut belajar dan mempersiapkan diri dengan ilmu ilahi. Hingga kelak kita tak akan main-main dan semena-mena dalam mengurus negri,atau bahkan bumi. Ingatlah!Allah menciptakan manusia dibumi untuk menjadi Kholifah,Pemimpin yang adil di muka bumi.
            
Ingatlah, syubbanul yaum,rijalul ghodd. Anak muda saat ini,adalah pemimpin dimasa nanti. Maka bersumpahlah, hidup dan mati kita hanya untuk berlaku adil dimuka bumi, mengerjakan seluruh aturan Pencipta Bumi. Hingga berkahlah negri ini, menjadi baldatun thoyyibah, wa robbun ghofur. Berkahlah negri ini, karena menjadi negri yang aman dan diberkahi, dan memiliki Rabb yang Maha Pengampun lagi Maha Suci.

Wallahu A’lam Bish Showwab.

0 komentar:

Posting Komentar