Sabtu, 30 November 2019

Dimana peran HAM untuk mengatasi Human Traficking?



Oleh: Umi Hanifah S.A.g (aktifis Muslimah Peduli Generasi)

*Kapitalisme memperlakukan wanita*

Berita mengejutkan terulang kembali, adanya kasus traficking atau perdagangan manusia dengan 15 wanita menjadi korbannya. Mereka dikirim ke Beijing Cina untuk dinikahkan dengan lelaki asal negeri Tirai Bambu tersebut dengan imbalan sejumlah uang. 

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membenarkan ada perempuan warga negara Indonesia (WNI) yang diduga menjadi korban perdagangan manusia di China. Ternyata benar, ada sebanyak 15 perempuan asal Indonesia yang diduga menjadi korban perdagangan manusia (kompas.com).

"Jadi, sekarang yang ada di KBRI Beijing ada 15 orang. Kami berdiskusi panjang mengenai kasus yang menimpa sejumlah wanita Indonesia yang sedang menunggu dipulangkan ke Indonesia. Prosesnya cukup lama," ujar Retno saat dijumpai wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (19/7/2019).

Mengapa kasus traficking seolah tak pernah berhenti? Padahal upaya telah dilakukan bahkan dengan diplomasi  seorang Menteri?

Wanita adalah sosok yang lembut dan penyayang sekaligus membutuhkan perlindungan dalam hidupnya. Kebutuhan dasar mereka juga harus terpenuhi sebagaimana masyarakat yang lain. Sandang, pangan, papan ditambah pendidikan, kesehatan dan keamanan haruslah mereka dapatkan agar mereka hidup bahagia, sejahtera dan kuat dalam menghadapi permasalahan kehidupan.

Ironi, wanita saat ini diperlakukan seolah benda/komoditas yang diperalat untuk memutar mesin kapitalis.. Dalam sistem Kapitalis Materialistik saat ini perempuan dihargai dengan nilai yang sangat rendah bahkan menjadi terhina. Keberadaan tenaga kerja yang mayoritas perempuan ada diberbagai bidang menunjukan hal tersebut. Upah yang murah dan karakter perempuan yang cenderung pasrah menjadi alasan para kapitalis lebih suka menggunakan jasa mereka. Kemiskinan struktural yang diciptakan sistem ekonomi Kapitalis Matrealistik memaksa perempuan terjun dalam dunia kerja.

Padahal pada saat yang sama, mereka tak bisa melepaskan peran kodrati sebagai istri bagi suami dan ibu bagi anak-anak mereka. Kehidupan yang keras ini menghilangkan kelembutan dan sikap kasih sayangnya, sehingga alih-alih kebahagiaan justru kerusakan yang ia dapatkan.

Sistem Kapitalisme juga memandang kesuksesan adalah tercapainya materi dan posisi public. Opini ini menjadikan wanita berbondong-bondong keluar rumah untuk mendapatkannya, tidak ada lagi ukuran  halal atau haram. Mereka hanya berfikir bagaimana mendapatkan limpahan materi walau itu membahayakan dirinya. 

Hal ini juga diperparah adanya racun kesetaraan gender, bahwa perempuan harus setara dengan laki-laki. Maka wajar dalam sistem ini perempuan tanpa sadar atau tidak mudah terjerumus dalam traficking, pornografi pornoaksi, industri hiburan yang menjual keindahan wajah dan tubuh semata yang semua itu justru menjadikan perempuan terhina.

Semua itu menunjukan bahwa sistem Kapitalis Materialistik tidak mampu menuntaskan permasalahan traficking, yang ada justru perempuan selalu akan jadi korban. Bahkan dalam sistem ini perempuan dijajah sekaligus sebagai alat penjajahan itu sendiri.

Jargon HAM juga hanya isapan jempol, pemberdayaan perempuan ala HAM nyatanya menjadikan perempuan keluar dari fitrahnya dan menyengsarakan. Festival HAM yang diselenggarakan di Jember baru-baru ini akan menambah panjang masalah yang dialami wanita. Ibarat pepatah "mengatasi masalah dengan membuat masalah baru" rumit dan pasti gagal.

*Islam penjaga kehormatan wanita.*

Perempuan dalam lslam mendapat posisi yang tinggi. Perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga sekaligus pencetak generasi yang tangguh dijaga oleh lslam. Hukum-hukum terkait mahram, wali, waris, pakaian, dan segala hukum yang terkait dengan fungsi ibu dan pengatur rumah tangga (misal, jaminan nafkah dan hadhanah atau pengasuhan anak), itulah yang membuat wanita berharga dan terhormat. Jika ia menjalankan semua itu dengan baik serta hanya mengharap ridlo-Nya semata maka ia adalah wanita yang sukses, baik di dunia maupun diakhirat kelak. Agar peran tersebut maksimal, maka lslam memberikan jaminan kebutuhan dengan menetapkan beban nafkah pada suami atau kepala rumah tangga, sehingga wanita tidak harus bersusah payah keluar rumah dengan berbagai resiko yang mengancam kehormatan dan keselamatan dirinya. 

Negara dalam lslam wajib memfasilitasi agar para kepala rumah tangga mudah mendapatkan nafkah sekaligus menindak dengan tegas jika mereka malas atau lalai menunaikan kewajibannya.

Negara juga mewajibkan wali perempuan untuk menafkahi apabila tidak ada suami atau suami tidak mampu melaksanakan kewajibannya. Bahkan jika pihak-pihak yang berkewajiban menafkahi tidak ada, maka negaralah yang wajib menjamin pemenuhan kebutuhan para perempuan atau ibu.

Islam memandang nilai kesuksesan adalah karena ketaqwaannya bukan karena wajah, materi dan kedudukannya dalam masyarakat sebagaimana dalam sistem kapitalis matrealistik. Sebagaimana firman Allah SWT: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (TQS al-Hujurat {49}:13).

Sungguh kehinaan yang dialami perempuan saat ini seperti traficking, pelecehan seksual dll adalah akibat mereka jauh dari aturan-Nya dan negara abai terhadap perannya sebagai pelindung. Sebagaimana sabda Rosulullah saw: "lmam (Pemimpin/Khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. al-Bukhari).

Hal itu pernah dilakukan oleh Rosulullah saw dengan mengepung Yahudi Bani Qainuqa selama 15 hari hingga menyerah kalah oleh pasukan Rosulullah saw. Itulah jawaban Rosulullah saw atas pelecehan yang mereka lakukan terhadap seorang muslimah dipasar mereka. Apa yang dilakukan Rosulullah saw adalah bentuk perlindungan beliau sebagai kepala negara dalam melindungi kehormatan rakyatnya.

Demikian juga peristiwa penaklukan Kota Amuria oleh tentara Khalifah Mu'thasim Billah yang dipicu oleh peristiwa pelecehan seorang muslimah oleh penduduk Amuria diwilayah tersebut. Itulah bukti yang menunjukan bahwa lslam dalam naungan lnstitusi negara Khilafah lslamiyah begitu memuliakan perempuan. Perempuan dan rakyat semuanya akan terbebas dari pelecehan dan penjajahan gaya baru karena negara melindungi mereka. Namun sayang, hari ini umat lslam tidak memiliki negara yang menerapkan hukum-Nya sehingga kehidupan perempuan dan umat lslam pada umumnya terhina dan tidak sejahtera.

Wallahu a'lam

0 komentar:

Posting Komentar