Selasa, 19 November 2019

Festival HAM 2019; Bukti Membebeknya Penguasa pada Arahan Asing


Festival HAM 2019; Bukti Membebeknya Penguasa pada Arahan Asing


Oleh : Nauroh Alifah 

Hari ini penulis hadir dalam acara Festival HAM 2019 di Jember, kota tempat tinggal penulis. Sebuah event nasional yang juga dihadiri oleh beberapa pembicara luar negeri seperti Korea Selatan, AS, Turki dan beberapa negara lain. Tema yang diangkat tahun ini adalah Pembangunan Daerah Berbasis HAM dan Berkeadilan Sosial Melalui Pendekatan Budaya. Perlu digaris bawahi adalah kata-kata "pembangunan berbasis HAM" dan melalui "pendekatan budaya"

Menurut penulis, dua pendekatan itu aneh dilakukan di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku budaya namun mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Penulis coba simak pemaparan Bapak Ahmad Taufan Darmanik, ketua komnas HAM mengapa kita perlu menggunakan pendekatan HAM adalah karena pembangunan saat ini masih dipenuhi masalah-masalah seperti ketimpangan antar daerah, kelemahan kinerja aparat, desentralisasi korupsi, dan pemekaran daerah yang berlebihan. Dan masalah-masalah itu terjadi karena pembangunan tidak berlandaskan pada HAM.

Sesederhana itukah? Padahal kita tahu bahwa problem-problem itu justru terjadi karena sistem politik ekonomi  kita yang berkiblat pada madzhab sekuler-liberal. Dan madzhab sekuler liberal juga menjadi nafas dari konsep-konsep HAM.

Jadi, sebenarnya solusi HAM hanya akal-akalan mereka para penjajah untuk mengelabui rakyat. Lihatlah, bagaimana konsep-konsep HAM tidak pernah berpihak kepada rakyat. Kasus kemiskinan massal karena penguasaan asing dan aseng di negeri ini, kasus kerusuhan pemilu, petugas KPPS yang meninggal secara massal, pembantaian massal di Papua, DOM di Aceh dan lain-lain tidak pernah terselesaikan oleh HAM.

Dalam masalah dunia Islam, kasus Palestina, kasus Uyghur, Kashmir juga tak pernah terselesaikan dengan basis HAM. Paling-paling HAM hanya bisa digunakan untuk memperjuangkan kelompok LGBT, Kelompok gender dll itupun untuk semakin menyeret negeri ini pada solusi liberal ala mereka.

Keanehan selanjutnya adalah pada pendekatan budaya yang dilakukan. Budaya di Indonesia sangat beragam. Menonjolkan budaya justru akan membuat negeri ini semakin terkotak-kotak. Terjebak pada ashobiyah budaya. Hal yang harus dilakukan adalah mencari alat pemersatu yang mampu merekatkan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda-beda.

Untuk Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim, maka perekat itu sebenarnya sudah ada dalam diri masyarakat. Perekat itu adalah Islam. Agama yang memang diturunkan Allah SWT untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Agama yang pernah di terapkan dalam Khilafah Islamiyah yang menaungi masyarakat yang plural selama 1300 thn lama hingga hancur berkeping-keping tahun 1924 karena konspirasi penjajah. Selama peradaban Islam tegak berdiri, hak-hak dasar manusia terpenuhi dengan pemenuhi terbaik sepanjang sejarah peradaban manusia. Lalu atas dasar apa, hari ini kita diarahkan membangun berbasis HAM dan budaya dan justru diarahkan untuk meyakini bahwa tegaknya negara Islam adalah ilusi sebagaimana judul buku yg akan dibahas dalam salah satu sesi festival HAM tahun ini?? Sungguh semua ini adalah bukti bahwa penguasa kita adalah pembebek arahan asing.

Wallahu a'lam

0 komentar:

Posting Komentar