Jumat, 08 November 2019

Hilangnya Naluri Keibuan Dalam Sistem Kapitalisme


Hilangnya Naluri Keibuan Dalam Sistem Kapitalisme 

Salah satu kisah seorang ibu, Np (21) yang tega menggelonggong anaknya berinisial ZNL (2.5) hingga tewas mengaku menyesal tidak bisa mengontrol emosinya. Znl digelonggong air selama 20 menit, secara terus menerus di Jakarta barat, Jum'at pada tanggal 25 Oktober kemarin (detikNews).

Masalah ini dipicu karena kondisi jiwanya yang mengalami stres lantaran diancam akan diceraikan oleh suaminya, apabila anaknya dalam kondisi kurus tidak bisa gemuk. Np tidak bisa berpikir bagaimana cara bisa membuat anaknya gemuk karena dari masalah ekonomi saja, dalam rumah tangganya memang tidak bisa memenuhi gizi yang cukup, jalan pintasnya dengan menggelonggong air agar terlihat gemuk. Kata Kanit Reskrim polsek kebon jeruk AKP Irwandhy Idrus kepada wartawan di kantornya (Islampos.com). 

Tersayat hati ini, bagaimana bisa seorang ibu yang penuh kasih sayang bisa melakukan perbuatan hingga hilanglah nyawa dari putrinya. Dalam sistem kapitalisme, peran utama seorang ibu (sebagai pengatur rumah tangga, guru uatama bagi putra-putrinya) nyaris hilang beralih kepada tuntutan ekonomi yang menghimpit keluarga hingga ibu bekerja di luar rumah, gaji suami yang tidak mencukupi juga menjadikan keluarga  kekurangan gizi dalam tubuh anggota keluarganya. 

Pun seorang ayah. Hakikatnya dia adalah penanggung jawab rumah tangga. Jika istri wajib melakukan pengasuhan, ayah adalah wali yang bertanggung jawab atas harta dan jiwa. Jika ia tak mampu memberi nafkah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi anaknya,  atau tak memiliki cukup uang untuk memeriksakan tumbuh kembang anaknya,  sangatlah tidak manusiawi mengancam istri dengan perceraian. Bukankah kewajiban suami berlaku ma'ruf pada istri?

Dari sinilah hancurnya sistem masyarakat terkecil yg bernama keluarga, sistem kapitalisme telah memporak porandakan peran antara suami dan istri hilang tanpa arah, anak-anak jadi korban dari hilangnya peran orangtua.

Beda halnya dalam Islam yang mengatur peran ibu begitu sempurna, yaitu pemimpin dalam rumah tangga suaminya. Rasulullah bersabda "Seorang perempuan adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rumah suaminya dan anaknya, dan ia akan diminta pertanggung jawaban atas kepengurusannya" (HR. Muslim) 

Menjadikan aqidah sebagai standar berfikir dan berbuat, memahami bahwa anak adalah amanah sehingga ikhlas dan sayang dalam mendidik. Dari seorang ibu yg mempunyai  tolak ukur dalam berfikir Islam akan tubuh jiwa-jiwa yang paham akan potensi kehidupannya dalam menjalankan perintah Allah (beramal ma'ruf nahi mungkar), peka dan peduli terhadap lingkungan dan menjadikan ummat terbaik di masa yang akan datang. 

Allah berfirman "Kamu (umat islam) adalah umat terbaik yg dilahirkan  untuk  manusia, (karena kamu)  menyuruh berbuat yg ma'ruf, dan mencegah dari yg mungkar, dan beriman kepada  Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara meraka ada yg beriman, namun kebanyakan  mereka  adalah orang-orang fasik" (Qs. Ali imron : 110).

Jelaslah sudah bahwa anak adalah amanah (bagi kedua orangtua) yang tujuan utamanya adalah mendidiknya untuk menjadi sholih (taat kepada Allah dan Rasulullah, berbakti kepada orang tua). Serta menjadi khalifah di bumi, sebagaimana firman Allah "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kpd para malaikat "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. "Mereka berkata" Apakah Engkau hendak menjadikan  orang yg merusak dan menumpahkan  darah sana, sedangkan kami bertasbih memujiMu dan menyucikan nama-Mu? "Dia berfirman "Sungguh,Aku mengetahui apa yg tidak kamu ketahui" (Qs.  Al Baqarah :30).
  
Dipundak-pundak anak kitalah Allah menjadikan mereka khalifah yg memimpin peradaban islam ke depan, melanjutkan kehidupan Islam dengan Al qur'an dan as-sunnah sebagai pedoman. Wallahu a'lam bish showab

0 komentar:

Posting Komentar