Selasa, 26 November 2019

Kesetaraan Perempuan, Senjata Kafir Barat


Sumber Foto : Tabloid Nova


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

#InfoMuslimahJember -- Ide kesetaraan bagi perempuan masih menjadi primadona. Banyak pihak yang menganggap belenggu agama (baca: Islam) dan adat budaya sebagai penyebab utama ketiadaan kesetaraan bagi perempuan. Terutama bagi perempuan yang sudah menikah. Berbagai upaya dilakukan. Hanya agar perempuan setara dengan pria.

Pergerakan kesetaraan ini sudah terhitung cukup purba muncul di Indonesia. Dengan menjadikan Kartini sebagai ikon kesetaraan meskipun pada faktanya samasekali tak ada. Sebab, bukan kesetaraan ala perempuan kapitalis yang Kartini gugat, tapi kesetaraan mendapatkan ilmu yang sama dengan laki-laki agar perempuan bisa melaksanakan tugas utamanya sebagai Ummu WA rabbatul bait ( ibu dan pengatur rumah tangga) dengan baik.

Karena tak kunjung mendapatkan kemajuan, masyarakatpun seperti terbelah.  Ada yang pro dan kontra.  Pada Era Orde Baru (Orba), pada tahun 1978 dibentuk Kementrian Urusan Peranan Wanita dalam kabinet.   Kemudian pada periode Habibie, dibentuk Komisi Nasional Perlindungan Kekerasan terhadap Perempuan yang dikenal dengan Komnas Perempuan pada tahun 1999 lewat Instruksi Preiden. Ini merupakan jawaban atas tuntutan sejumlah tokoh perempuan kepada Presiden Habibie pada waktu itu.

Selanjutnya dalam periode kepemimpian Presiden Abdurrahman Wahid, dikeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 Tahun 2000 tentang Program Pengarusutamaan Gender (PUG). Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan mulai gencar mengemukakan kampanye isu kesetaraan dan keadilan gender (KKG).

Pada masa kepemimpinan Megawati Soekarno Putri, Kementrian Negara Pemberdayaan Perempuan tetap melanjutkan Inpres No. 9 Tahun 2000 dengan fokus perhatian utama pada partisipasi perempuan dalam kehidupan publik dan jabatn politk-strategis. Terbukti dengan adanya tuntutan kuota kursi legislatif sebanyak 30 persen untuk calon perempuan dan disetujui dalam Undang-undang Pemilhan Umum yang baru pada Pasal 65. Kemudian pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudiono dan Wakil Presiden Yusuf Kalla mengangkat  empat orang perempuan dalam kabinetnya ( kompasiana.com, Yuliana Yuliana, 15/4/2017).

Banyak jalan ditempuh hanya dalam rangka mensejajarkan peran wanita dan pria.  Semuanya menemukan titik buntu, sebab hal itu hanyalah upaya kosong tanpa pendalaman fakta. Sejatinya masalah perempuan terus muncul tak berkesudahan sebab dilanggarnya ketentuan Allah dalam pengaturannya. Perempuan dianggap pihak yang termarjinalkan sehingga tak layak memperoleh kesempatan yang sama dengan pria diberbagai aspek. Mereka mati-matian menganggap perempuan perlu disejajarkan dengan pria.

Sementara Islam memandang perbedaan pria dan wanita adalah sunnatullah. Memang demikian adanya Allah menciptakan pria dan wanita, mereka mengemban amanah masing-masing sebagaimana bentuk penciptaan mereka sendiri.  Allah mempersiapkan keduanya untuk mengarungi kancah kehidupan dengan sifat kemanusiaannya.

Allah telah menjadikan pria dan wanita untuk hidup bersama dalam satu masyarakat. Allah juga telah menetapkan bahwa kelestarian jenis manusia bergantung pada interaksi pria dan wanita itu dan pada keberadaan keduanya dalam masyarakat. Karena itu, tidak boleh memandang salah satunya kecuali dengan pandangan yang sama atas yang lain, bahwa ia adalah manusia yang mempunyai berbagai ciri khas manusia dan segala potensi yang mendukung kehidupannya.

Allah telah menciptakan pada pria dan wanita kebutuhan jasmani serta berbagai naluri ada pada setiap jenis kelamin. Allah juga menjadikan pada keduanya daya pikir ( akal) sehingga keduanya sama-sama bisa berpikir. Maka, ditetapkanNya pula taklif syariah itu pada pria dan wanita adalah keniscayaan. Baik itu taklif ibadah, kewajiban berakhlak mulia, hukum-hukum muamalah dan sanksi adalah sama bagi pria dan wanita.

Allah berfirman dalam Quran surat Al-Ahzab 33:35 yang artinya: "Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar".

Dalil diatas hanya menegaskan bahwa seluruh hukum Syara' terkait manusia sebagai manusia apapun hukumnya serta bagaimanapun jenis dan macamnya sesungguhnya tak ada perbedaan bagi pria dan wanita. Ini bukanlah kesetaraan, namun hanya bentuk taklif kepada manusia sebagai manusia. Namun adakalanya hukum Syara' itu berkaitan dengan predikatnya sebagai pria atau sebagai wanita. Ini karena mereka berdua adalah anggota masyarakat. Dan itu menjadi solusi secara umum.

Seperti misalnya kewajiban berpakaian secara sempurna bagi wanita ketika keluar rumah, adalah solusi agar tak terjadi fitnah dan si perempuan tetap terjaga kemuliaannya.  Kewajiban mencari nafkah ada pada pundak pria itu juga merupakan solusi, sebab ibu atau perempuan adalah pengatur rumah tangga dan mafrasatul ula bagi anak-anaknya. Dan lain sebagainya. Maka akan runyam jika taklif ditukarkan atau justru dipersamakan. Misalnya, bagaimana jika syariat pengasuhan, kelahiran ada pada pria, padahal itu solusi bagi persoalan perempuan?

Tak akan tercipta kesejahteraan. Sebab, semuanya tak sesuai sunnatullah. Maka, apakah masih ada keraguan terhadap kemampuan Islam sebagai sebuah sistem aturan? jika masih muncul wacana kesetaraan, jelas,  itu merupakan bagian dari upaya kaum kafir untuk menjauhkan kaum Muslim dari pemahaman agama yang benar.

Wallahu alam biashowab.

0 komentar:

Posting Komentar