Kamis, 21 November 2019

#MUATHEYE : Mata Kebenaran Tak Penah Terbutakan

Sumber Foto : middleeasteye


Oleh : Fathimah Adz
(Writer Millenial)


#InfoMuslimahJember -- Tau nggak, sobat milenial, apa yang lagi trending banget di social media? Yupz, pasti beranda instagram kalian juga penuh dengan hastag #muatheye kan? Kalian tau nggak, sebenarnya apa yang tejadi? Mu’ath Amarneh adalah seorang jurnalis foto Palestine yang terpercaya. Mu’ath yang saat itu meliput aksi bentrok antara pemuda Palestine dan militer Israel di daerah Khalil, tepi barat Palestina kini harus terancam buta dan kehilangan mata kirinya akibat terkena tembakan peluru tentara zionis Israel pada Jumat, 15 November 2019. Karena itulah, ramai orang mengadakan aksi solidaritas dengan menggunakan hastag #muatheye atau berfoto dengan mata kiri yang ditutupi atau diperban.

Awalnya, eskalasi militer Israel telah dilakukan selama 3 (tiga) hari, yaitu sejak 12 sampai 14 November. Serangan melalui jalur udara diluncurkan di Gaza, dengan roket-roket. Akibat serangan ini, ada 35 orang yang syahid dalam seharinya. Diantaranya 9 orang anak-anak, dan 3 orang wanita. Belum lagi yang luka-luka dan cedera. Tercatat ada 41 anak dan 16 wanita yang mengalami luka-luka. Setelah itu, keesokan harinya, tak cukup dengan  membunuh rakyat palestina, tentara zionis juga menembak Mu’ath yang notabenenya adalah seorang jurnalis yang harus dilindungi dan dijamin keselamatannya oleh pihak Negara. Padahal, dalam perjanjian setiap Negara menyebutkan, bahwa para jurnalis dan wartawan dilarang dihambat dan diberikan ruang gerak seluas-luasnya untuk meliput kondisi dunia atau negara dan menyampaikannya ke tengah-tengah publik. Nah ini, si zionis Israel udah kagak punya hati nurani banget, sampai-sampai Jurnalis aja di tembak. Wah, masyaAllah. Sadis pake’ banget ya, sobat!.

Apa Kabar Kita, Saudara Mereka?

Kejadian tersebut pasti membuat kita sebagai manusia (nggak perlu menjadi muslim untuk punya hati dan sikap peduli) prihatin. Apalagi yang menjadi korban mayoritas adalah anak-anak yang masih lucu dan ngegemesin. Banyak juga yang anak yang kehilangan orang tuanya, suami kehilangan istrinya, atau ibu yang kehilangan anak-anaknya. Coba temen-teman bayangkan ada diposisi mereka (memang seharusnya kita merasakan apa yang mereka rasakan)? Andai waktu kita se-singkat waktu mereka, andai malam kita se-pekat malam mereka, atau bahkan andai kehidupan kita se-mengerikan hidup mereka? Maka, kita bisa apa?

Yang lebih menyedihkan, apa yang terjadi atas Muslim Gaza berpuluh puluh tahun lamanya tertindas ternyata tak mampu menggerakkan hati nurani para generasi di negeri-negeri Muslim lainnya. Berkaca saja dengan diri kita, apa yang sudah kita perbuat untuk mereka? Kita disini, yang hidup dengan aman dan damai malah sering terlena, menunda-nunda berbuat taat dan malah nyaman berbuat maksiat. Jangankan jauh-jauh memikirkan saudara kita di palestina, ujian sekolah aja kita kadang masih nyontek temen sebelah. Ah!

Padahal, mereka adalah saudara kita. Anak-anak kecil disana adalah adik-adik kita. Bapak-bapak disana adalah bapak-bapak kita, yang harus kita perjuangkan kehormatan dan kedamaiannya. Padahal, generasi masa kini adalah pemimpin esok hari. Namun, kalau generasi saat ini sudah terbiasa santuy dan males mikir, maka siapa yang akan menolong dan menyelamatkan umat muslim yang lebih banyak tertindas lagi?

Lantas, bagaimanakah dengan lembaga-lembaga internasional semacam PBB dan lembaga HAM lainnya? Mereka pun jelas tak pernah bisa diharapkan. Telah begitu banyak fakta yang menunjukkan, bahwa hak asasi manusia yang selama ini mereka gembar-gemborkan ternyata tak berlaku untuk umat Islam.  Anak anak kecil jatuh bergelimangan akibat kebrutalan serangan Israel, tanpa penolong. Ribuan wanita muslim kehilangan kehormatannya, para lelaki tewas mengenaskan di dalam penjara mereka. 

Sungguh, dari kasus ini kita banyak belajar. Bahwa kepemimpinan sekuler demokrasi neoliberal telah mencampakkan persaudaraan karena iman. Dan bahwa paham nasionalisme serta konsep negara bangsa telah memutilasi tubuh umat ini hingga kehilangan rasa persaudaraan hakiki di bawah akidah Islam. Bahkan kehinaan demi kehinaan dengan telanjang ditunjukkan oleh para pemimpin Muslim di berbagai negeri Islam. Yang hanya demi secuil bantuan dan legalitas kekuasaan, mereka rela menggadaikan harga diri dan kedaulatan. Tak peduli bahwa kelak kepemimpinan mereka dan tumpulnya kekuasaan mereka dalam melawan kezaliman akan ditanya. Sungguh dari Palestina pula kita belajar. Bahwa umat ini butuh kepemimpinan yang berpijak pada akidah Islam. Kepemimpinan yang berfungsi sebagai pemersatu sekaligus menjadi pengurus dan penjaga umat.

Tagar #muatheye hanyalah suatu campaign kecil dari jutaan ketidakadilan yang terjadi di Palestine. Maka jangan diam! Segala nikmat yang Allah berikan pada kita bukan untuk mainan dan tanpa alasan. Allah mau kita yang berjuang. Tak perlu tempur ke medan juang, kita bisa berjuang lewat pemikiran, lisan, tulisan,bantuan, gerakan, atau minimallah panjatkan doa dan harapan. Apapun itu, lakukan!

Wallahu a’lam bish showwab



0 komentar:

Posting Komentar