Rabu, 27 November 2019

Sertifikasi Perkawinan; Efektihkan Mengatasi Persoalan Pernikahan?

Sumber Foto : Hipwee


Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Pernikahan adalah akad yang sakral. Sebab Allah saksinya, bahwa telah terjadi pemindahan hak dan kewajiban seorang perempuan dari walinya kepada pria yang sudah menjadi mahromnya tersebab telah adanya ijab qabul. Maka, sejak saat itu praktis Allah mewajibkan seperangkat syariat dalam berumah tangga. Bukan tak mungkin sebuah pernikahan tanpa masalah, namun dengan pengaturan syariat, Allah menghendaki beribu-ribu kebaikan dan keberkahan dari sebuah pernikahan.

Diantaranya adalah disyariatkan pernikahan sebagai satu-satunya jalan melanggengkan jenis manusia. Sebagaimana Allah SWT berfirman yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan" ( TQs ar-Ra'd 13: 38). Islam mengharamkan hidup selibat (membujang), zina, nikah kontrak dan nikah karena perjanjian sebab hal-hal tersebut hanya akan menimbulkan makin jauh dari kenikmatan pernikahan dan lebih buruknya akan menghancurkan tatanan sosial dan masyarakat.

Maka ketika muncul wacana baru dari Mentri Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) akan merancang program sertifikasi perkawinan. Hanya untuk memberantas KDRT, pernikahan dini, stunting dan lain-lain, dirasa sangat tidak solutif terhadap persoalan pernikahan (tribunnews.com).

Sebelumnya pula, DPR RI telah mengesahkan RUU Nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan menjadi UU baru. Terdapat perubahan pasal di dalam UU perkawinan yang baru, yakni pasal 7 tentang usia boleh kawin laki-laki dan perempuan menjadi setara 19 tahun. Sebelumnya, di dalam pasal 7 tersebut laki-laki dibolehkan menikah minimal berumur 19 tahun, sedangkan perempuan 16 tahun (radarlampung.com).

Kedua kebijakan diatas terlalu mubazir untuk diterapkan. Pasalnya keduanya sama-sama tak menyentuh akar persoalan kerap munculnya masalah dalam pernikahan. Dalam Islam jelas tertolak, sebab keduanya berangkat dari pemahaman sekuler alias pemisahan agama dari kehidupan. Persoalan yang munculpun akan disikapi dengan standar Islam.

Islam menganjurkan pernikahan dan tak ada syarat apapun di dalamnya. Sebagaimana diriwayatkan dari Ibn Mas' UD RA, ia menuturkan, "Rasulullah SAW pernah bersabda: " Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang telah mampu menanggung beban (Al Ba' ah), hendaklah segera menikah. Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa, karena puasa adalah perisai baginya" ( Muttafaq ' alayhi).

Namun tentu negara dalam hal ini harus hadir untuk memastikan seseorang itu menikah dan tanpa melalui proses yang ribet. Sebab ini adalah bagaian dari penerapan syariat Allah. Negara hadir dalam penjaminan kebutuhan pokok umat sehingga setiap orang yang telah menikah hanya akan terbebani mencari nafkah, bukan yang lain.

Bukan sebagaimana saat ini, dimana pernikahan adalah bagian dari investasi dan gaya hidup sekuler . Sehingga setiap sisi pernikahan akan selalu mencari manfaat dan untung ruginya. Sejak Prewed hingga pasca  pernikahan berlangsung . Tak ada bahasan melanggar saksi syariat, yang ada asal suka sama suka, bahkan hanya dengan mengedepankan fisik dan segala rupa hingga menjadikan pernikahan terasa berat bagi kebanyakan orang. Beberapa budaya setempat juga menempatkan pernikahan adalah bicara kepangkatan, siapa bicara kepada siapa.

Kebijakan itu kental bercorak sekulerisme. Muncul dari pemahaman memisahkan agama dari kehidupan.  Sebab Islam tak mengenal  adalah ideologi lain selain apa yang termaksud dalam  Alquran dan As-Sunnah. Maka masalah kesetaraan ( kafa' ah) antara suami dan istri yang seringnya menimbulkan masalah rumah tangga ini dalam Islam tidak ada. Suami bukan atasan istri dan istri bukan bawahan suami. Tapi pernikahan adalah persahabatan. Ajang saling mengingatkan dan tentu mengokohkan dakwah. Wallahu a' lam biashowab.

Maka setiap muslimah manapun layak untuk muslim manapun. Tak peduli harta, pekerjaan, garis keturunan atau yang lainnya sama sekali tak ada nilai. Allah SWT berfirman dalam Quran surat  Al Hujurat 49: 13 , "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling Bertakwa di antara kamu"  yang kemudian menjadi dalil penegasan tak ada sekufu (kesetaraan) diantara suami dan istri.

Selayaknyalah setiap Muslim paham syariat Allah. Bukan saja sebagai pedoman dalam hidupnya, namun juga demi berlangsungnya tujuan pernikahan dan sempurnanya beribadah kepada Allah SWT. Ulama dan negara adalah satu kesatuan untuk menjelaskan hal ikwal pernikahan. 

Wallahu a' lam biashowab.

0 komentar:

Posting Komentar