Selasa, 03 Desember 2019

Pendidikan Era Disrupsi Tersandra Kepentingan Industri, Pendidikan Islamlah Solusi


REPORTASE

Pendidikan Era Disrupsi Tersandra Kepentingan Industri, Pendidikan Islamlah Solusi

Perkembangan teknologi, perubahan sosial dan politik telah mengubah karakter generasi ke generasi. Generasi X mampu menerima perubahan dengan baik, generasi Y  sangat reaktif terhadap perubahan lingkungan, sedangkan generasi Z cenderung kurang dalam komunikasi verbal karena mereka lebih akrab dengan  berbagai aplikasi digital.

Hal tersebut disampaikana ustadzah Watini dalam sebuah diskusi  “Tantangan Di Era Disrupsi Dan RI 4.0 Bagi Para Guru”, Ahad (24/11) di Jember.

Ustadzah Watini menjelaskan perbedaan  karakter ini menjadi tantangan bagi para guru dalam mendidik.

Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser. Kehadiran guru di ruang kelas akan berkurang karena tergantikan dengan aplikasi-aplikasi pembelajaran.
Bukan hanya itu. Perbedaan karakter generasi ini telah membuat pemerintah melakukan perubahan kurikulum yang sesuai zamannya.

“Mengapa harus merubah kurikulum sesuai dengan RI 4.O? Agar dengan kurikulum yang baru dunia pendidikan mampu menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kepentingan industri 4.0.”, kata Ustadzah Watini.

Dunia pendidikanpun terutama SMK dituntut untuk menjadi BLUD. Dengan membentuk BLUD sekolah diharapkan tidak perlu lagi meminta modal kepada Negara dan justru melaporkan pendapatnnya kepada kas Negara. Inilah yang disebut kapitalisasi pendidikan dimana dunia pendidikan dikomersilkan. Negara ibarat perusahaan penyedia layanan pendidikan, dan rakyat sebagai konsumen!

Lantas seperti apa sistem pendidikan seharusnya?

Islam sebagai agama yang sempurna pasti punya jawabannya. Ustadzah Endah Nabihah pun menjelaskan solusi “Sistem Pendidikan Islam Teladan bagi Kemajuan Teknologi”.

Syariah islam memiliki sistem yang lengkap mulai dari sistem pendidikan, ekonomi, sanksi, politik, sosial. Islam memiliki metode baku dalam pengajaran yaitu metode “talaqqiyan fikriyan” yakni proses penyampaian ilmu kepada siswa ditujukan agar siswa memahami ilmu tersebut dan mampu menggunakannya sebagai landasan sikap dan perilaku.

Pendidikan harus memiliki tujuan membentuk murid bersyaksiyah islam (berkepribadian islam), menciptakan pemimpin, faqih fiddin dan generasi pengemban al qur’an.

Khilafah islamiyah sudah pernah membuktikannya yaitu tumbuhnya universitas Baghdad, Gudishapur,Kufah, Isfahan,Cordoba, Kairo, Damaskus telah melahirkan ilmuwan penemu sains teknologi.

Ustadzah Endah Nabihah juga menjelaskan bagaimana cara Rasulullah mendidik dengan berbagai macam cara dalam mencapai tujuan pendidikan. Tetapi metode pengajarannya tetap, yaitu talqiyan fikriyan.

Beberapa cara Rasulullah diantaranya Komunikasi Efektif, Teknik Diskusi, Metode Berkisah, Teladan, Isyarat, Sarana untuk memperjelas  dan  Bertanya. Untuk pembelajaran diera 4.O internet hanyalah bagian dari sarana saja. Bukan sebagai standar menetapkan kurikulum.

Setelah penyampaian dari pemateri, para guru yang hadir berbagi pengalaman dan bertanya kaitan antara syariah dengan sengan sistem pendidikan, apa yang bisa kita lakukan sebagai guru di era disrupsi R.I 4.0, karena guru adalah penopang generasi, cara jitu agar anak punya adab kepada gurunya.

Ada juga yang membagikan pengalaman  kesibukan administrasi sekolah, sampai meninggalkan tugas mengajar dan kenapa pendidikan di Indonesia dikapitalisasi.

“Kita tidak bisa menghindar dari pembelajaran menggunakan teknologi, namun ia bukan tujuan.  penggunaannya tidak boleh menghilangkan peran guru sebagai pendidik generasi yang bertujuan membentuk syakshiyah Islamiyah,” tukas Ustadzah Endah.[Yuni]

0 komentar:

Posting Komentar