Minggu, 22 Desember 2019

Perempuan Berdaya, Bangsa Sejahtera?




Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

“Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah….penuh nanah
Seperti udara….kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas….ibu….ibu

Penggalan lirik syair lagu karya Iwan Fals diatas mengisahkan tentang perjuangan seorang ibu dalam membahagiakan anaknya. Yang patut kita hargai disaat moment memperingati  Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember, dimana ibu adalah sosok perempuan yang sangat berarti dalam kehidupan ini.

Perempuan yang berarti klo  kita maknai sosoknya di era disrupsi RI 4.0, yakni kaum perempuan yang terlibat dalam roda perekonomian baik dikalangan emak-emak biasa, emak-emak milenial ataupun para sosialita disini sangat punya makna. Terlebih di era ekonomi digital serba online yang telah merambah diberbagai lini kehidupan akan memudahkan perempuan untuk diberdayakan. 

Semisal kontribusi perempuan banyak dijumpai disebuah instansi/perkantoran, pabrik-pabrik, pertokoan, pengrajin/usaha mandiri, dan sebagainya, dimana yang belum terlibatpun diajak untuk berperan dalam perekonomian agar berdaya. Seolah perempuan yang bekerja dan mandiri, adalah perempuan yang cerdas dan maju. Sebaliknya, perempuan yang hanya dirumah sebagai ibu rumah tangga adalah perempuan yang kurang berdaya bahkan dipandang sebelah mata. Inilah opini yang terus menerus digencarkan  dikalangan perempuan hingga terwujud pemberdayaan.

Pemberdayaan [empowerment] perempuan adalah usaha sistematis dan terencana untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Pemberdayaan perempuan “ sebagai sumber daya insani, potensi yang dimiliki perempuan dalam hal kuantitas maupun kualitas tidak dibawah laki-laki. Namun kenyataannya masih dijumpai bahwa status perempuan dan peranan perempuan dalam masyarakat masih bersifat subordinatif dan belum sebagai mitra sejajar dengan laki-laki”. Karenanya tujuan pembangunan pemberdayaan perempuan adalah untuk meningkatkan status, posisi dan kondisi perempuan agar dapat mencapai kemajuan yang setara dengan laki-laki.

Para pegiat kesetaraan gender berdalih bahwa pemberdayaan perempuan akan membuat posisi perempuan mandiri dan tidak terdiskriminasi. Perempuan diposisikan sebagai pejuang keluarga karena menggunakan pendapatannya demi menyejahterakan keluarganya. Bahkan perempuan berperan sebagai pencari nafkah utama, karenanya perempuan dianggap penting dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi  sehingga terwujud kesejahteraan suatu bangsa. Demi tujuan itu, mereka menciptakan definisi ‘kekerasan ekonomi ringan’. Seseorang terkena delik itu bila sengaja menjadikan perempuan bergantung atau tidak berdaya secara ekonomi jika tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya hingga dinyatakan keluarganya tidak sejahtera.

Agenda pemberdayaan perempuan untuk kesejahteraan bangsa tidak lepas dari implementasi program Millenium Development Goals [MDGs]. Melalui parameter pencapaian MDGs, khususnya tujuan pencapaian pendidikan dasar serta mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, negara diarahkan untuk menyediakan tenaga kerja perempuan sesuai tuntutan pasar dalam rangka menyambut Revolosi Industri [RI 4.0].

Esensi Pemberdayaan Perempuan


Perempuan memang bisa diberdayakan dalam  rangka  meraih kesejahteraan suatu bangsa. Namun dalam bingkai ideologi kapitalisme pemberdayaan perempuan justru fokus pada ranah publik dan perekonomian. Padahal sesungguhnya pemberdayaan yang utama adalah sebagai ibu untuk anak-anaknya[ummun] dan pengurus rumah tangganya[rabbatul bait]. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda : “Seorang wanita adalah pengurus rumah tangga suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepengurusannya.”[HR Muslim]

Saat ini pemberdayaan yang alami sesuai dengan fitrahnya perempuan justru tergeser dan teralihkan melalui pemberdayaan ekonomi perempuan dengan dalih untuk mengentaskan kemiskinan demi kesejahteraan bangsa. Padahal, kemiskinan merupakan masalah global akibat ketimpangan akses ekonomi yang dihadapi si lemah versus si kuat baik dalam tataran negara, masyarakat  ataupun individu. Lalu kenapa perempuan  yang harus berkorban meninggalkan fitrahnya sebagai ummun wa rabbatul bait?

Masalahnya, arus pemberdayaan perempuan dalam bingkai ideologi kapitalis justru menarik para ibu ke ranah publik dengan dalih kebebasan HAM demi kesetaraan untuk meraih kesejahteraan. Akibatnya ibu tidaklah bisa menjalankan secara optimal apa yang menjadi kewajibannya[ummun wa rabbatul bait], sehingga bukanlah kesejahteraan yang didapat tetapi justru kehancuran.

Perempuan diperbolehkan untuk menjalankan aktivitas di ranah publik yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat, namun tidak boleh diposisikan secara mutlak sebagaimana laki-laki hingga akhirnya keluar dari fitrahnya. Dan penyelesaian yang akan menuntaskan masalah kesejahteraan ekonomi bukanlah pemberdayaan perempuan di ranah publik, tetapi tidak lain dengan menghilangkan penyebab utamanya yaitu hapus sistem kapitalis kemudian ganti dengan sistem islam dalam bingkai daulah khilafah islamiyah. Karena pada dasarnya, tatkala menegakkan sistem islam  dalam institusi khilafah, selain  konsekwensi dari keimanan, juga akan merealisasikan kesejahteraan semua bangsa sebagaimana bukti sejarah peradaban islam yang jaya selama 14 abad lamanya.

Allahu a’lam bi as-showab.

#HidupBerkahDenganSyariahKaffah
#SyariahSejahterakanPerempuan
#hariibu
#jember
#gender
#jemberbanget
#jemberhits
#kajianjember
#kajianislamjember  


0 komentar:

Posting Komentar