Kamis, 05 Desember 2019

Perempuan Mulia Hanya Dengan Islam

Sumber Foto : RuangMuslimah


Oleh : dr. Erna Noviyanti


#InfoMuslimahJember -- Sebelum Islam datang, kaum perempuanberada pada posisi yang hina. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak. Sebagaimana yang terjadi di negara besar saat itu dan di tempat-tempat yang lain seperti Persia, Romawi, Yunani termasuk juga di jazirah Arab. Bangsa Arab pada waktu itu menganggap hal yang memalukan ketika mendapati istri-istri mereka melahirkan anak perempuan. Sebagaimana yang tertuang di dalam ayat AL-Qur’an :

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (TQS. An-Nahl [16]: 58)

Islam hadirmendobrak pemikiran, pemahaman dan aturan yang ada  di tengah-tengah masyarakat. Perempuan yang semula diletakkan di tempat yang hina, diangkat kedudukannya dan dimuliakan oleh Islam. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.”(HR Muslim). Dan di hadits lain Rasul bersabda, Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.”(HR Tirmidzi)


Kedudukan Perempuan di dalam Islam
            
Di dalam Islam perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki. Mereka sama dihadapan Allah SWT yaitu sebagai hamba yang wajib untuk taat dan patuh kepada hukum-hukum Allah. Perempuan memiliki peluang yang sama seperti laki-laki untuk melakukan amal shalih demi menggapai ridlo Allah.Allah SWT berfirman : Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (TQS. An Nisâ [4]: 124)

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. Al Taubah [9]: 71)

Syariat Islam yang diperuntukkan khusus bagi perempuan, diberikan oleh Allah untuk menempatkan perempuan di dalam kedudukan yang mulia dan terhormat. Diantaranya adalah syariat Islam mewajibkan perempuan untuk menutup aurat dihadapan laki-laki yang bukan mahram, memakai jilbab (QS. Al-Ahzab: 59) dan khimar/kerudung (QS. An-Nur: 31) ketika berada di luar rumah (kehidupan umum), tidak boleh bertabarruj (berdandan berlebihan sehingga menarik perhatian dan ketertarikan kaum laki-laki), meminta ijin suami ketika keluar rumah, safar (perjalanan) lebih dari sehari semalam harus disertai mahram dan lain sebagainya. Termasuk juga syariat Islam mengatur interaksi laki-laki dan perempuan dengan larangan berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram) dan ikhtilat (campur baur perempuan dan laki-laki tanpa keperluan yang diperbolehkan Islam). Ketika perempuan menjalankan semua syariat Islam tersebut dia akan berada pada posisi mulia dan terhormat tidak hanya dihadapan manusia tetapi juga di hadapan Allah.

Ketika perempuan menikah, menjadi istri dan ibu, syariat Islam juga mengatur tugas dan kewajibannya. Ketika dia menjalankan perannya sebagai ummun wa rabbatul bait (menjadi ibu dan pengatur rumah tangga) dengan ikhlas dan mendedikasikan pikiran, waktu dan tenaganya untuk mendidik anak-anaknya menjadi anak-anak yang sholih, maka Islam memberikan tempat terhormat dan mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : Seorang sahabat datang kepada Nabi Saw.. Kemudian bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk dihormati?”, Nabi menjawab:”Ibumu”, kemudian siapa Wahai Nabi?, “Ibumu” jawab Nabi lagi, “kemudian siapa lagi Wahai Nabi?:” Ibumu” kemudian siapa Wahai Nabi? “bapakmu”, jawab Nabi kemudian.” (HR. Bukhari Muslim)

Begitu mulia dan terhormatnya kedudukan ummun wa rabbatul bait, karena Islam menempatkannya sebagai peran penting dan utama untuk mendidik generasi emas yang akan menegakkan peradaban Islam. Dan Allah memberikan pahala luar biasa bagi para perempuan atas perannya ini.
Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq(Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik).


Kondisi Perempuan Saat Ini

Saat ini kaum Muslim berada di dalam cengkraman sistem kehidupan Kapitalisme. Tatanan kehidupan Kapitalisme ini lahir dari pemikiran-pemikiran yang bukan bersumber dari akidah Islam. Konsep-konsep mendasar yang menjadi asasnya adalah Sekulerisme-Liberalisme (agama dipisahkan dari pengaturan publik/negara sehingga memunculkan kebebasan dalam segala hal) dan Materialisme (hanya ber-orientasi kepada materi/manfaat). Asas inilah yang mendasari pandangan Kapitalisme terhadap perempuan. Perempuan dianggap mulia jika mendatangkan manfaat atau materi, seperti bekerja, menduduki jabatan tertentu dan lain-lain.  Bahkan eksploitasi tubuh dan kecantikan perempuan “di-halal-kan” oleh Kapitalisme selama itu mendatangkan materi/manfaat. Perempuan didorong untuk lebih banyak berperan di sektor publik dengan mengatasnamakan pemberdayaan perempuan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Peran domestik sebagai ummun wa rabbatul bait dimarjinalkan karena dianggap perempuan tidak produktif dari sisi ekonomi. Pandangan-pandangan yang salah tersebut diadopsi oleh kaum Muslim yang malah hal ini membawa kehinaan bagi perempuan.

Asas Sekulerisme-Liberalisme dan Materalisme ini juga yang menjadi asas di dalam semua tata aturankehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sehingga apa yang dilarang oleh Islam dianggap baik di dalam sistem Kapitalisme, sebaliknya apa yang diperintahkan oleh Islam dianggap buruk di dalam sistem Kapitalisme. Walhasilsistem Kapitalisme yang sudah buruk dari asasnya ini,ketika diterapkanpasti menimbulkankerusakan baik dalam tataran individu, masyarakat maupun negara. Sebut saja permasalahan kemiskinan, kekerasan seksual, kurangnya perlindungan terhadap perempuan dan masalah-masalahlainnyadaritahun ke tahunmalah semakin meningkat.



Solusi Permasalahan Perempuan

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf [7]: 96)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa” maknanya  adalah: “Kalbu-kalbu mereka mengimani apa saja yang dibawa oleh para rasul kepada mereka. Mereka membenarkan dan mengikuti para rasul itu. Mereka bertakwa dengan melakukan ragam ketaatan dan meninggalkan aneka keharaman…” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/404).

Tidak ada sistem kehidupan manapun selain sistem Islam yang jika diterapkan di dalam kehidupan masyarakat dan negara yang akan membawa berkah dari langit dan bumi. Jika kita berbuat dosa dengan meninggalkan aturan-aturan Allah maka  kerusakan yang akan terjadi, kemaksiyatan dan kemunkaran semakin merebak. Akar permasalahan yang melanda kaum perempuan saat ini bukanlahadanyadiskriminasi perempuan dan solusi yang dihadirkan adalah kemerdekaan perempuan dan kesetaraan gender.Tetapi akar permasalahannya adalah diterapkannya sistem Kapitalisme dan ditinggalkannya hukum-hukum Allah. Sehingga bukan malahmengambil narasi-narasi sesat yang menyatakan syariat Islam penyebab kemunduran dan sumber masalah bagi kaumperempuan,yang malah menjauhkan dari ketaatan kepada hukum-hukum Allah. Tetapi solusi yang benar dan menuntaskan semua permasalahan perempuan adalah denganmenerapkan sistem Islam. Dimana asas dari sistem ini adalah ketakwaan kepada Allahdan dalammengatur tata kelola bermasyarakat dan bernegara menerapkansyariat Islam secara kaffah.Dan penerapan syariat Islam kaffah ini hanya bisa dilakukan di dalam institusi Khilafah. Sehingga jelas,satu-satunya cara untuk mengembalikan perempuan pada posisi yang mulia adalah mencampakkan sistem Kapitalisme dan menerapkan sistem Islam dengan tegaknya institusi Khilafah.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.(TQS al-Baqarah [2]: 208).

0 komentar:

Posting Komentar