Minggu, 12 Januari 2020

Banjir Berulang Terjadi, Butuh Solusi Hakiki!



Oleh : Dwi Miftakhul Hidayah, S.ST 
(Aktivis Muslimah)

Ada yang berbeda dengan perayaan tahun baru kali ini. Malam pergantian tahun baru yang biasanya diwarnai dengan pesta kembang api tampaknya menjadi tak semeriah tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, sejak Selasa sore (31/12/2019) wilayah Jabodetabek terus menerus diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Meski hujan sempat berhenti menjelang tengah malam namun langit Jakarta pada dini hari (1/1/2020) kembali diguyur hujan hingga pagi hari. Banjir pun tak terelakkan. Dari data terakhir yang dihimpun BNPB per 4 Januari 2020, banjir kali ini merendam 308 kelurahan dengan ketinggian air maksimum mencapai enam meter. Sementara korban meninggal dunia mencapai 60 orang, dengan jumlah pengungsi sebanyak 92.621 jiwa yang tersebar di 189 titik pengungsian (www.tirto.id).

            Tahun berganti tahun ternyata tak kunjung menyolusi bencana banjir yang terjadi. Ini membuktikan bahwa sistem kapitalismehanya menyuguhkan solusi parsial lagi tambal sulam. Solusi tuntas mengatasi banjir hanya dapat dilakukan dalam sistem Islam yakni melalui Khilafah Islamiyah. Solusi yang diberikan bukan hanya berlandaskan pertimbangan akal manusia semata, tetapi juga disandarkan pada nash syara’. Kebijakannya pun tak hanya untuk menanggulangi banjir, tetapi juga mencakup langkah-langkah pencegahan dan pemulihan pasca banjir.Pelaksanaan kebijakan tersebut disokong oleh tiga pilar yang saling terkait satu sama lain yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan negara yang menerapkan hukum Islam.

1.             Adanya ketakwaan individu
Takwa adalah buah dari keimanan, yang darinya akan tumbuh rasa takut dalam diri orang tersebut, sebagaimana definisi takwa menurut Imam Ali RA. Adanya rasa takut dalam diri seseorang akan menjadikannya sangat berhati-hati dalam melakukan setiap perbuatan karena dia tahu bahwa segala yang dia perbuat akan dihisab oleh Allah SWT. Dengan adanya ketakwaan dalam tiap individu, maka lingkungan akan senantiasa terjaga kebersihannya misalnya saja dengan adanya kedisiplinan membuang sampah pada tempatnya.

2.             Adanya kontrol masyarakat
Menjadi individu bertakwa bukan lantas menjadikan seseorang ma’shum dari dosa. Ada kalanya seseorang melakukan suatu kesalahan sebab predikatnya tetaplah manusia bukan malaikat. Disinilah pentingnya peran masyarakat dalam melakukan kontrol antar sesama warga negara dengan saling mengingatkan satu sama lain seperti yang telah Allah firmankan dalam Surah Al-‘Ashr. Misalnya saja, saat ini banyak kita jumpai warga masyarakat yang enggan menasihati apabila menemukan terjadinya pembuangan sampah di aliran sungai. Inilah buah dari sistem kapitalisme yang meniscayakan adanya sikap acuh terhadap lingkungan sekitarnya.

3.             Adanya negara yang menerapkan hukum Islam
Adanya ketakwaan individu dan kontrol masyarakat saja tidak akan mampu menjamin terlaksananya setiap peraturan dalam usaha menjaga kelestarian lingkungan apabila tidak diformalisasi dalam bentuk peraturan perundangan oleh Khilafah, sebab hanya Khilafahlah yang berwenang untuk menerapkan hukum-hukum Islam, bukan individu maupun mmasyarakat. Mengutip dari mediaumat.news, kebijakan Khilafah terkait banjir dibagi menjadi tiga yaitu :

(1)     Kasus banjir yang disebabkan karena keterbatasan daya tampung tanah terhadap curahan air, maka Khilafah akan menempuh upaya-upaya sebagai berikut:

a)    Pada masa kegemilangan Islam, bendungan dengan berbagai macam jenis dibangun untuk mencegah banjir maupun untuk keperluan irigasi. Pada 970 M, orang-orang Yaman berhasil membangun bendungan Parada dekat Madrid, Spanyol. Hingga kini, bendungan-bendungan yang dibangun pada masa keemasan kekhilafahan Islam, masih bisa dijumpai di Kota Kordoba (www.muslimahnews.com).

b)   Pemetaan daerah-daerah rendah yang rawan terkena genangan air, dan selanjutnya Khilafah akan membuat kebijakan melarang pendirian pemukiman di daerah tersebut.

c)    Pembangunan kanal, sungai buatan, saluran drainase, yang didukung dengan pengerukan secara berkala agar tidak terjadi pendangkalan serta diberlakukannya sanksi bagi siapa saja yang mengotori atau mencemarinya. Pada 370 H/960 M, Buwayyah Amir Adud al-Daulah membuat bendungan hidrolik raksasa di sungai Kur, Iran. Insinyur-insinyur yang bekerja saat itu menutup sungai antara Shiraz dan Istakhir dengan tembok besar (bendungan) sehingga membentuk danau raksasa. Di kedua sisi danau itu dibangun 10 noria (mesin kincir yang di sisinya terdapat timba yang bisa menaikkan air). Dan setiap noria terdapat sebuah penggilingan. Dari bendungan itu air dialirkan melalui kanal-kanal dan mengairi 300 desa (www.muslimahnews.com).

d)   Membangun sumur-sumur resapan di kawasan tertentu yang juga berfungsi sebagai tandon air yang bisa digunakan sewaktu-waktu, terutama jika musim kemarau atau paceklik air.

(2)     Dalam aspek undang-undang dan kebijakan, Khilafah akan membuat kebijakan tentang master plan sebagai berikut:

a)    Pembukaan pemukiman atau kawasan baru harus menyertakan komponen-komponen diantaranya drainase, penyediaan daerah serapan air, penggunaan tanah berdasarkan karakteristik tanah dan topografinya.

b)   Harus memenuhi syarat-syarat izin pendirian bangunan, dimana Khilafah akan menyederhanakan dan menggratiskan perizinannya dengan catatan bangunan tidak didirikan di lahan yang bisa mengantarkan pada bahaya (mudlarah). Khilafah juga akan memberi sanksi bagi siapa saja yang melanggar kebijakan tersebut tanpa tebang pilih.

c)    Pembentukan badan khusus penanganan bencana alam yang siap sedia dengan dilengkapi peralatan-peralatan berat, evakuasi, pengobatan, dan alat-alat yang dibutuhkan, seta dari segi personal memiliki pengetahuan yang cukup tentang SAR (Search And Rescue), serta keterampilan yang dibutuhkan untuk penanganan korban bencana alam.

d)   Penetapan daerah cagar alam yang harus dilindungi, kawasan hutan lindung dan kawasan buffer yang tidak boleh dimanfaatkan kecuali dengan izin. Khilafah menetapkan sanksi berat bagi siapa saja yang merusak lingkungan hidup tanpa pernah pandang bulu.

e)    Sosialisasi pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, serta kewajiban memelihara lingkungan dari kerusakan. Hal ini dilandaskan pada syariat mengenai perilaku hidup bersih dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Khilafah juga mendorong kaum Muslim untuk menghidupkan tanah-tanah mati (ihyaa’ al-mawaat) atau kurang produktif, sehingga bisa menjadi buffer lingkungan.

(3)     Penanganan korban bencana alam dilakukan Khilafah dengan menyediakan tenda, makanan, pakaian, dan pengobatan yang layak. Khalifah juga akan mengerahkan para alim ulama untuk memberikan tausiyah bagi para korban untuk menguatkan keimanan mereka agar tetap tabah, sabar, dan tawakal kepada Allahsepenuhnya.

Dengan adanya integrasi antara ketiga pilar tersebut, maka hujan yang diturunkan oleh Allah akan benar-benar dirasakan sebagai rahmat sebagaimana firman-Nya

Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy Syuura: 28).


0 komentar:

Posting Komentar