KE CINA TAK TEGAS, KE RAKYAT BERINGAS



Oleh: Aara Eshal Firdaus (Aktivis Muslimah)

Indonesia adalah negara gemah ripah loh jinawi, Itulah gambaran betapa kayanya negeri ini bahkan ada yang mengatakan "Tanah kita tanah surga, batu dan tongkat jadi tanaman."

Ungkapan ini secara fakta memang benar. Bagaimana tidak, Indonesia memiliki beragam kekayaan alam yang melimpah ruah, baik dari dalam bumi yaitu tambang, hasil perkebunan Indonesia juga melimpah ruah, bahkan di antaranya menjadi salah satu yang terbaik di dunia, begitu pula buah-buahan, peternakan bahkan perikanan yang potensinya besar, begitu pula luas lautan Indonesia mencapai 70% dari luas keseluruhan wilayah Indonesia, sekitar 14% dari terumbu karang dunia juga ada di Indonesia, diperkirakan 2500 jenis ikan dan 500 jenis karang, dan masih banyak lagi  potensi yang dimiliki oleh Indonesia.

Dikutip Kompas.com dari data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM), Indonesia memiliki cadangan gas bumi mencapai 144,06 triliun kaki kubik (TCF), terdiri dari cadangan terbukti (P1) sebesar 101,22 TSCF dan cadangan potensial (P2) 42,84 TSCF.

Cadangan gas terbesar di Indonesia berada di Natuna, tepatnya berada di Blok East Natuna 49,87 TCF. Selanjutnya disusul Blok Masela di Maluku 16,73 TCF, dan Blok Indonesia Deepwater Development (IDD) di Selat Makassar 2,66 TCF.

Besarnya kandungan gas alam di Natuna tersebut, membuatnya disebut-sebut sebagai cadangan gas terbesar di Asia Pasifik. (5/1/2020, Kompas.com) 

Kekayaan yang melimpah ruah menjadikan banyak negeri menginginkan untuk memilikinya. Beberapa waktu lalu muncul perseteruan di blok Natuna dengan China berawal dari masuknya kapal patroli keamanan Negeri tirai bambu tersebut ke wilayah yang diakui Indonesia masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sekaligus pelanggaran tentang IUU fishing.

Surat kabar "The Jakarta Post" hari Minggu (29/12) mengutip keterangan Bakamla yang mengatakan “antara tanggal 19 hingga 24 Desember setidaknya 63 kapal ikan dan kapal penjaga pantai China telah memasuki perairan Natuna di Kepulauan Riau, tanpa ijin.” Taufik mengatakan puluhan kapal penjaga pantai China mengawal kapal-kapal nelayan trasional yang diduga menangkap ikan secara ilegal di perairan, yang diklaim China sebagai bagian dari kawasan perikanan tradisionalnya.

Kenapa Cina bersikukuh mengklaim perairan Natuna merupakan wilayahnya?

Bagi Cina harus melakukan cara tersebut agar secara de facto bisa menguasai satu teritorial. Teroterial perairan Natuna dipandang strategis dari sisi politik kemaritiman dan sangat kaya dari Sumber Daya Alam yang terkandung di dalamnya.

Pernyataan pemerintah pun dalam hal ini meski menurutnya sudah tegas, namun Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto menilai bahwa China tetaplah negara sahabat.

Hal ini disampaikan di hadapan awak media usai Prabowo bertemu Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan
"Ya saya kira kita harus selesaikan dengan baik. Bagaimanapun China adalah negara sahabat," kata Prabowo di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi, Jumat (3/1/20) petang.

Ditanya mengenai dampak memanasnya hubungan ini terhadap investasi China di Indonesia, Prabowo punya pendapat tersendiri. "Kita cool saja, kita santai ya," tutupnya. (4/1/2020, CNBC Indonesia)

Dari sini kita dapat menilai bahwa sebenarnya sikap pemerintah terlihat lembek atau lunak dalam menghadapi masalah Natuna terhadap Cina, Cina tidak akan pernah mundur terhadap apa yang sudah mereka klaim.

Menjadi sebuah pertanyaan besar, Kenapa pemerintah Indonesia yang di dalam beberapa hal begitu kerasnya terhadap rakyatnya sendiri, misalkan terhadap isu radikalisme, terorisme bahkan terhadap mereka yang baru terduga teroris sudah langsung ditembak sementara terhadap invasi justru tidak tampak ketegasan atau kegarangannya?

Dalam hal ini kita bisa melihat, kenapa Indonesia lunak terhadap cina? yaitu karena dipengaruhi oleh dua hal, Pertama,  kenyataan bahwa Cina telah begitu banyak menanamkan budi baik kepada pemerintah Indonesia melalui berbagai investasi yang ditanamkan di berbagai sektor dan itu terkonfirmasi oleh pernyataan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan bahwa tidak boleh  bersikap terlalu keras karena itu mengganggu investasi, Jumat (3/1/2020)

Yang kedua, ketergantungan rezim ini terhadap Cina, bahwa rezim ini tegak karena diantaranya ada dukungan rezim pemerintahan China saat ini, sehingga Jika pemerintah Indonesia bersikap tegas khawatir dukungan dari China akan terganggu yang akan membahayakan rezim.

Dalam hal ini kita mendapati bahwa sistem saat ini tak akan tegas jika menyangkut kepentingan-kepentingan rezim, karena sistem buatan manusia ini (kapitalis) hanya berlandaskan kemanfaatan saja, berbeda jika sistem yang berasal dari Sang Pencipta manusia (Allah) yaitu sistem Islam, negeri kita akan terahmati karena sejatinya Islam adalah Rahmatan Lil Aalamiin.

Wallahu a'lam bish Shawab

0 Comments

Posting Komentar