Sabtu, 11 Januari 2020

Reynhard Sinaga; Potret Akademisi Dalam Kubangan Liberalisasi





Oleh: Yulida Hasanah
(Aktivis Muslimah, Revowriter Jember, Jawa Timur)


#InfoMuslimahJember -- Jagad dunia dibuat geger, ketika Warga Negara Indonesia asal Jambi duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Manchester, Inggris. Pria bernama Reyhard Sinaga yang berasal dari keluarga kaya di Indonesia yang memiliki gelar master ini divonis penjara seumur hidup. Ya, vonis tersebut sebagai ganjaran atas perbuatan bejat tak manusiawi yang telah dia lakukan yaknikasus perkosaan terhadap 159 laki-laki dan serangan seksual terhadap 48 pria muda selama dua setengah tahun.

Aksi bejatnya tersebut terungkap pada tahun 2017 atas hasil laporan seorang korban remaja. Dari sinilah akhirnya polisi menemukan 3.29 terabyte konten grafis di telepon genggam Reynhard, yakni setara dengan 250 DVD atau 300.000 foto. Bahkan ada beberapa kasus pemerkosaan terjadi berjam-jam. Dan ada aksi yang juga berlangsung 8 jam. 

Saat kasusnya terungkap. Reyhard ternyata juga sedang menempuh pendidikan doktoral atau PhD di Universitas Leeds. Yang akhirnya dia diskors dari sana. Sidang terakhir pada 6 Januari 2020, dia akhirnya dijatuhi bui seumur hidup. Dan kemungkinan bisa bebas setelah menjalani 30 tahun penjara. (detikNews.com)

Fakta Manusia bejat seperti ReynHard ini, tentu tidak lahir dari sistem manusiawi yang menjaga manusia dari segala tindakan yang tak sesuai dengan fitrahnya. Artinya, sosok    manusia seperti Reyhard pastilah lahir dari penerapan aturan kehidupan yang tak manusiawi alias tak sesuai fitrah manusia. Dimana aturan tersebut menjadikan kebebasan sebagai jaminan yang harus dijaga.

Ide kebebasan inilah yang menjadi penyokong tegaknya pandangan hidup sekular kapitalis. Terjadilah disorientasi kebahagiaan hakiki yang akhirnya melahirkan manusia-manusia bejat seperti ReynHard saat ini.

Terlebih lagi, jika kita detili lagi. Ada tiga hal penting yang tegak di atas pandangan hidup sekular kapitalis, sekaligus telah menjadi bagian penting yang diterapkan masyarakat dunia hari ini, termasuk Indonesia.

Pertama, keberadaan sistem pendidikan berkurikulum sekular. Agama hanya diyakini namun tak boleh diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari generasi. Walhasil, generasi hanya berorientasi pada nilai akademik dan pencapain tingkat pendidikan formal semata. Buktinya, siapa yang mengira jika pelaku kebejatan bernama ReynHard adalah seorang akademisi?

Kedua, diterapkannya sistem pergaulan yang tak lagi manusiawi. Liberalisasi menjadi solusi masalah generasi yang justru telah menjerumuskan masa muda dan masa depan mereka ke jurang kehancuran, baik sadar ataupun tidak.

Ini adalah fakta. Di mana perzinahan atas nama pacaran telah menjadi budaya bagi para 'bucin' yang mayoritas kaum muda. Sedangkan LGBT diberikan ruang bebas mengekspresikan ketidakmanusiawiannya atas nama Hak Asasi Manusia. Inilah sebenarnya yang membuahkan kerusakan nyata di kalangan generasi muda kita.

Ketiga, ketidaktegasan sistem sanksi buatan manusia. Tidak dipungkiri bahwa penerapan hukum atas tindakan kriminal hari ini, lahir dari aturan manusia. Kita masih terbelenggu dengan hukum rimba kapitalistik. Termasuk juga, hukum yang terbukti tak mampu memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan seksual. Apalagi untuk menebus dosa-dosa mereka di akhirat nanti.

Manusia tak mampu keluar dari ketiga hal tersebut, tanpa mengganti sistem politik yang diterapkan negara sebagai wadah penerapan seperangkat aturan yang ada, baik dalam pendidikan, pergaulan maupun sanksi.

Adalah Khilafah, sebuah sistem politik yang ada dalam Islam. Institusi penerap sistem Kaffah yang tegak di atas landasan kokoh, aqidah Islamiyah.

Sebab Islam bukanlah pandangan hidup yang biasa. Namun darinya terpancar sistem kehidupan yang sempurna. Mulai dari aturan terkait ibadah, akhlaq, makanan, pakaian, sistem sosial pergaulan, sistem ekonomi, sistem sanksi dan  sistem politik. Melalui Rasul-Nya, Allah SWT turunkan sebagai jalan keluar bagi permasalahan hidup manusia. Bahkan penerapannya akan mampu membawa manusia dalam naungan Rahmat dan berkah dari Sang Pencipta.

Allah SWT berfirman: "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al A'raf ; 96)

Sementara di akhirat, Allah telah menjanjikan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Manusia bebas menikmati segala kesenangan yang telah Allah SWT sediakan di dalamnya.

Dan sungguh, kenikmatan di syurga jauh melebihi kenikmatan yang kita rasakan dalam kehidupan dunia. Sebagaimana yang telah Rasulullah Saw gambarkan dalam sabda beliau, "Demi Allah, tiadalah perbandingan dunia dan akhirat melainkan seperti perumpamaan seseorang di antara kamu sekalian yang memasukkan jari-jarinya ke dalam lautan, maka coba perhatikan apa yang dapat ia peroleh?" (Al Hadits).

Wallaahua'lam

0 komentar:

Posting Komentar