Berawal dari Feminisme


Oleh: Yulida Hasanah


#InfoMuslimahJember -- Riak-riak penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang Ketahanan Keluarga kembali membuka celah bagi kaum feminisme untuk lantang menyuarakan ide Kesetaraan gender yang sepertinya terhalang dengan adanya RUU ini. 

Mengutip pernyataan Komisioner Komnas Perempuan Bahrul Fuad bahwa substansi RUU Ketahanan Keluarga memakai perspektif budaya patriarki. Menurutnya, RUU ini spiritnya patriarki, menarik lagi perempuan ke ranah kerja-kerja domestik. Padahal di era sekarang kita bersama mendorong perempuan agar bisa setara dengan laki-laki, menempati posisi-posisi strategis di ranah publik. (Kompas.com)

Salah satu poin yang sangat disoroti dalam RUU tersebut adalah pembagian kerja antara suami dan istri yang hendak diatur oleh negara. Pengaturan tersebut tercantum dalam Pasal 25.
Pasal tersebut jelas mendesak suami sebagai kepala keluarga yang memiliki tanggung jawab lebih dan istri mengatur rumah tangga. Nah, inilah yang mereka sebut dengan perspektif patriarki. Dan hal ini jelas tak searah dengan pandangan feminis yang menginginkan kesetaraan antar suami istri dalam rumah tangga.

Yup, sebuah RUU yang dinisiasi oleh lima anggota DPR yakni Sodik Mudhajid dari Fraksi Partai Gerindra, Netty Prasetiyani dan Ledia Hanifa dari Fraksi PKS, Endang Maria Astuti dari Fraksi Partai Golkar, serta Ali Taher dari Fraksi PAN. Berawal dari niat baik menyolusi problem keluarga Indonesia yang nyatanya rentan mengalami kehancuran, ternyata tak semudah meneguk air di dalam sistem politik demokrasi sekular saat ini. 

Memang kita tak mungkin akan terus tutup mata dengan problem berat yang menimpa keluarga Indonesia. Adanya kabar terkait lahirnya janda baru yang tembus hampir setengah juta sepanjang tahun 2019 kemarin adalah fakta mengerikan sekaligus mengejutkan. Belum lagi berbiacara kasus perselingkuhan. Sebuah survei yang dilakukan JustDating aplikasi pencari teman kencan menemukan bahwa 40% laki-laki dan perempuan di Indonesia pernah mengkhianati pasangannya. Jumlah ini membuat Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara dengan kasus perselingkuhan terbanyak di Asia Tenggara setelah Thailand (suara.com)

Namun sayang, saat solusi bagi problem keluarga itu bernafaskan Syari’at Islam yang salah satunya adalah mengembalikan peran laki-laki sebagai qowwam, malah digugat karena tak sesuai HAM dan mengancam kesetaraan gender. 

Pandangan feminis inilah yang sebenarnya menjadi faktor utama kerentanan dalam keluarga. Dan justru pandangan ini tumbuh subur dalam sistem demokrasi sekular yang melepaskan peran syari’at (agama) dalam kehidupan, termasuk kehidupan berumah tangga. 


Tak bisa diabaikan, bagaimana feminisme ini mucul ke permukaan kehidupan kita dengan segala kecacatannya. Pada abad Pertengahan Masehi, kaum perempuan tidak memiliki tempat ditengah masyarakat, maka mereka diabaikan, tidak memiliki sesuatu pun, dan tidak boleh mengurus apapun. Sejarah Barat dianggap tidak memihak kaum perempuan. Dalam masyarakat feodalis (di Eropa hingga abad ke-18), dominasi mitologi filsafat dan teologi gereja sarat dengan pelecehan feminitas; wanita diposisikan sebagai sesuatu yang rendah, yaitu dianggap sebagai sumber godaan dan kejahatan.
Kemudian muncul renaisance, yang berintikan semangat pemberontakan terhadap dominasi gereja, kemudian diikuti dengan Revolusi Prancis dan Revolusi Industri. Inilah puncak reaksi masyarakat terhadap dominasi kaum feodal yang cenderung korup dan menindas rakyat, di bawah legitimasi gereja. Inilah pula awal proses liberalisasi dan demokratisasi kehidupan di Barat. Perubahan ini tidak hanya berpengaruh pada berubahnya sistem feodal menjadi sistem kapitalis sekular, tetapi ikut menginspirasikan kaum perempuan untuk bangkit memperjuangkan hak-haknya.
Kondisi ini dipermudah dengan seruan kaum kapitalis sebagai golongan pemilik kapital yang mendorong kaum perempuan bekerja di luar rumah. Ketika kaum perempuan bekerja di luar rumah, mereka merasa terasing dengan kondisi seperti ini. Mereka berurusan dengan pabrik-pabrik, pusat-pusat bisnis, dan dengan kaum lelaki sebagai pihak yang dianggap bertentangan dengan kepentingannya. Akhirnya, mereka bersaing dengan laki-laki dan berusaha merebut posisi kaum laki-laki untuk memperoleh kebebasan mutlak agar terlepas dari segala macam ikatan dan nilai serta tradisi. Kaum perempuan mulai menuntut persamaan secara mutlak dengan kaum laki-laki termasuk dalam urusan kebebasan hubungan seksual tanpa perkawinan.

Kafir barat berupaya untuk mentransfer kebobrokan perilaku masyarakat semacam ini ke Dunia Islam untuk menghancurkan sistem keluarga Islam dan menggantinya dengan perilaku yang sama dengan mereka. Menyebarnya ide feminisme di Dunia Islam didorong oleh banyaknya permasalahan yang dihadapi kaum perempuan, termasuk di yang ada di negeri-negeri Muslim. Kekerasan, kemiskinan, dan ketidakadilan/diskriminasi sering disebut-sebut sebagai permasalahan krusial yang dialami perempuan dari masa ke masa.

Dari fakta tersebut, muncullah berbagai tuntutan untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Pasalnya, perubahan masyarakat dari sistem feodal menjadi sistem kapitalis ternyata tidak serta-merta mengubah nasib kaum perempuan menjadi lebih baik. Bahkan dengan sistem kapitalis ini, nasib kaum perempuan semakin terpuruk. Kemiskinan struktural yang terjadi mengharuskan mereka ikut berperan dalam menopang ekonomi keluarga. Pada saat yang sama, mereka harus berperan dalam sektor domestiknya. Inilah yang menurut kalangan feminis dianggap sebagai sebuah ketimpangan, ketidakadilan, atau disparitas jender.
Untuk itu, salah satu perjuangan dari kaum feminis radikal adalah menyerang dan menolak institusi keluarga dan sistem patriarkal yang dalam pandangan mereka merupakan simbol dominasi kaum laki-laki atas kaum perempuan. Feminisme berupaya mengubah struktur pembagian tugas kehidupan menjadi kebebasan menentukan tugas antara laki-laki dan perempuan. Perempuan bisa memilih menjadi ibu, ayah, keduanya sekaligus, atau tidak sama sekali. Sebaliknya, seorang laki-laki bisa menjadi seorang ‘ibu’, ayah, keduanya sekaligus atau tidak sama sekali; tanpa ada batasan; tidak ada tolok ukur dan standar yang pasti.
Ukuran nilai dan kemaslahatan dikembalikan kepada masing-masing orang. Caranya adalah dengan mengubah tata nilai patriarkal di tengah masyarakat—seperti nilai kepatuhan, penderitaan tanpa protes, dan submissin (mental bawahan). Lalu konsep jender pun berubah. Pada akhirnya, pembagian peran pun akan berubah sehingga terwujud persamaan dan kesetaraan di tengah keluarga dan masyarakat. Itulah yang disebut dengan masyarakat ideal dalam kacamata kaum feminis, yaitu sebuah masyarakat yang berkesetaraan jender; laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam semua aktivitas di semua level (domestik atau publik) dan tidak mendapat halangan untuk menikmati hasil-hasilnya.
Akan tetapi, yang terjadi justru sebaliknya. Apa yang dihasilkan oleh feminisme telah membawa dampak buruk. Fakta menunjukkan, bahwa pengaruh feminisme sekular telah membawa kerusakan bagi tatanan fungsi dan peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat, sekaligus mengakibatkan hancurnya tatanan sosial masyarakat secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena kebebasan yang ditawarkan feminisme berakibat pada runtuhnya struktur keluarga, meningkatnya angka perceraian, fenomena un wed dan no-mar, merebaknya free sex, meningkatnya kasus aborsi, dilema wanita karir, sindrom cinderella complex, pelecehan seksual, anak-anak bermasalah, dan lain-lain. Walhasil, yang terbentuk tentu saja bukan masyarakat yang kokoh, tetapi sebuah masyarakat yang penuh dengan konflik yang tidak memberikan ketenangan dan kepastian, karena berbagai penyimpangan banyak terjadi di dalamnya.

Jadi, siapakah yang sebenarnya butuh dikritisi? Syari’at Islam yang memuliakan kaum perempuan dan para Istri, ataukah racun feminisme yang menggali jurang kesengsaraan bagi para pengikutnya?

#KhilafahSolusiPerempuan
#TolakFeminisme
#UnInstallFeminism

0 Comments

Posting Komentar