COVID-19 : PAHLAWAN KEMANUSIAAN BERGUGURAN



Oleh Shafiyah Nurizzah
(Situbondo)

     
Virus corona yang sekarang lebih dikenal Covid-19 semakin merebak, sejak pertama kali terindikasi di Indonesia 2 Maret 2020, tepatnya ketika ditemukan 2 orang warga Depok, seorang wanita (30) dan ibunya (64) diketahui positif corona. Setelah ditelusuri mereka tertular oleh seorang WNA Jepang,  karena terjadi kontak pada tanggal 14 Februari 2020 di Jakarta pada sebuah acara pesta dansa. Sejak itulah virus corona semakin menyebar luas kepada orang-orang yang pernah berinteraksi dengan mereka, dan akhirnya dalam waktu kurang lebih 20 hari menjadikan Indonesia terpapar wabah COVID-19 ini.
      
Hingga hari minggu sore korban virus Covid-19 di Indonesia mencapai 514 positif, dan yang meninggal dunia mencapai 48 orang, disebutkan juga diantara korban yang meninggal terdapat tim medis yang menjadi garda terdepan untuk menghadapi virus mematikan ini. Sampai tanggal 22 Maret sudah 6 tenaga medis yang meninggal dunia. Sungguh ironis, penyebab kematian mereka adalah kurangnya sarana dan prasarana pelindung diri bagi tenaga medis. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  Daeng M Faqih menyatakan  ada tenaga medis yang terpapar virus Corona saat menjalankan tugas. Penyebabnya karena minimnya APD (Alat Pelindung Diri) dibeberapa rumah sakit rujukan, sedangkan pasien yang harus ditangani terus bertambah.
     
APD yang dibutuhkan oleh tenaga medis untuk menangani satu pasien positif corona sangat kompleks 10 sampai 15 macam, dan dipakai hanya satu kali saja, setelah bertugas diruang isolasi semua tenaga medis harus membuang semua alat pelindung diri diruang dekontaminasi. Bila stok terbatas, tenaga medis tidak dapat menangani pasien secara optimal. Seperti dikatakan oleh dr. Erlina Burhan pada acara ILC 24 Maret,  kami para medis siap melaksanakan tugas digarda terdepan asalkan pemerintah selalu menyiapkan peralatan yang kami butuhkan terutama APD karena kita juga manusia yang harus melindungi keselamatan diri. Oleh sebab itu, mereka berharap pemerintah dapat segera memenuhi kebutuhan tersebut, jangan sampai kehabisan karena akan  membahayakan keselamatan para medis itu sendiri, dan menghambat proses penanganan pasien positif Corona yang jumlahnya terus bertambah.
     
Penanganan wabah ini bukanlah hal yang bisa dianggap remeh, bila kita melihat langkah-langkah yang diambil oleh negara lain melawan penyebaran virus Corona, mereka telah serius dengan menggunakan kebijakan negara, contohnya menggelontorkan biaya yang sangat fantastis dalam memenuhi kebutuhan medis, seperti di China atau mengeluarkan kebijakan lockdown seperti di Malaysia dan Singapura. Kebijakan tersebut memang membutuhkan biaya yang sangat besar, namun bila untuk keselamatan rakyat konsekuensi itu harus dijalankan karena itulah tugas utama negara. 
     
Namun tidak untuk dinegeri ini, pemerintah nampak lamban dan terkesan kurang siap untuk menghadapi wabah virus Corona ini, padahal dalam waktu yang cukup lama dapat mempelajari keadaan virus tersebut dan bagaimana penanganan  dari negara lain yang lebih dahulu mengatasinya.Misalnya dalam penyediaan APD bagi para medis seharusnya pemerintah bertindak cepat selalu siap memenuhi alat pelindung ini, jangan sampai APD kehabisan stok karena itu alat yang paling urgent bagi para medis. Bila tanpa alat pelindung diri yang memadai mana mungkin mereka bisa bekerja secara optimal menangani pasien yang terpapar virus Corona. Bahkan karena keterbatasan APD ini mereka bertugas menangani pasien terinfeksi virus corona dengan alat pelindung seadanya, padahal itu sangat membahayakan keselamatan jiwa tenaga medis sendiri. Perlu juga diingat mereka melaksanakan tugas dengan mempertahuhkan keselamatan bahkan nyawa mereka. Tidak adakah hati nurani penguasa terusik disitu?
      
Itulah yang menjadi fenomena penguasa di negara kapitalis sekuler dalam mengambil kebijakan untuk kemaslahatan rakyat, pikir-pikir dulu. Kalau untuk kepentingan para konglomerat dan asing tanpa pikir panjang. Bertolak belakang dengan penguasa dalam Islam, yang akan mengutamakan kemaslahatan rakyat karena itu sebagai amanah terbesarnya. Dan pemimpin dalam islam sebagai pengayom dan pelindung seluruh rakyat dari berbagai ancaman dan kemudhorotan. Apalagi bila negara sedang dalam keadaan terserang wabah yang mengancam keselamatan seluruh rakyat, seluruh sarana dan prasarana yang sangat dibutuhkan akan diusahakan secara maksimal oleh penguasa. 

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW, bersabda "Sesungguhnya Imam / Khalifah itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang dibelakangnya dan berlindung kepadanya." (HR.Muslim). Oleh sebab itu kita butuh institusi yang dapat memberikan perlindungan secara maksimal kepada seluruh rakyat. Rakyatpun akan taat dan merasa tentram karena semua kebutuhannya ada dalam jaminan negara, sementara tenaga medis akan bekerja dengan tenang karena didukung segala fasilitas yang dibutuhkan intensif yang sepadan dengan pengorbanan yang diberikan.

Itu hanya ada dalam institisi Daulah Khilafah Al Islamiyyah.

Wallahu a'lam bishshowab.

0 Comments

Posting Komentar