Sekulerisme : Biang Keladi Remaja Tak Tahu Arah

 

Oleh: Suci Dwi Oktavianti 

#InfoMuslimahJember -- Kalau kita mendengar kalimat "Siswa Kalas 3" pasti yang terfikir dalam fikiran kita adalah mereka yang waktunya akan abis atas semua aktivitas-aktivitas belajar yang luar biasa penuh. Namun tidak terjadi pada salah satu siswa SMPN di Kota Tangerang. Siswa dengan inisial RR ini dengan tragis membunuh dirinya sendiri dengan cara menggantung menggunakan kabel listrik. Dugaan sementara, ia  melakukan tindakan ini karena ibunya menyita handphone selulernya, hal ini langsung di jelaskan oleh ibu RR yang berinisial M (Tribunnews.com).


Jika dugaan sementara yang disampaikan oleh ibu RR adalah benar, maka hal ini menjadi sebuah duka bagi Negara kita atas tindakan diluar batas normal untuk generasi pemuda masa depan bangsa. Senenarnya kasus bunuh diri ini bukan hanya terjadi saat ini saja, namun sudah sering kali kasus-kasus ini terjadi dari beberapa kalangan. Biasanya salah satu penyebab hal ini terjadi karena pelakunya yang putus asa terhadap apa yang telah menimpanya. Keputus-asaan ini biasanya disebabkan oleh beberapa hal, bisa dari himpitan ekonomi, bullying, putus cinta hingga merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya, objeknya bisa dari sebuah benda, ataupun makhluk hidup yang menjadi sebuah ketergantungan bagi diri seseorang. Dan yang terjadi pada kasus RR ini adalah karena sebuah Hendphone yang di sita oleh ibunya. Hal ini menjadi bukti bahwa sebuah Hendphone seluler menjadi objek ketergantungan RR hingga saat objek itu tidak dapat digunakannya untuk sementara waktu,  akhirnya ia merasakan keputus asaan yang luar biasa hingga berujung melakukan tindakan bunuh diri. 

Pada umumnya remaja-remaja seusia RR memang menganggap alat komunikasi canggih tersebut (Handphone) adalah hal yang sangat penting di kalangan anak-anak melenial saat ini. Namun hal itu bukanlah faktor utama sehingga membuat dirinya putus asa jika tidak menggunakannya. Terbukti dengan adanya anak-anak yang digembleng di dalam pesantren, mereka tidak diperbolehkan untuk membawa atau memiliki handphone pada saat ia berada dalam asuhan pesantren. Ada juga anak-anak yang masih berfikir bahwa pendidikan adalah hal yang utama sehingga belajar menjadi sebuah keharusan yang diutamakan oleh mereka, dan handphone bukan menjadi objek utama mereka, alat ini hanya menjadi objek selingan semata untuk dapat menjadi fasilitas terhadap objek utama. 

Dari semua hal yang harus patut disadari oleh semua kalangan, ini merupakan sesuatu yang terlahir dari sekularisme dimana prinsip ini membebaskan kehidupan dengan sebebas-bebasnya, dan akibatnya benar dan salah dalam kehidupan masyarakat menjadi relative, tergantung seseorang itu melihat dari sudut pandang mana. Sehingga akhirnya semua tak lagi diukur benar dan salah menurut Allah SWT. Padahal semua yang ada dilangit dan dibumi tak lain dan tak bukan adalah ciptaan-Nya.

Lalu kita sebagai makhluk-Nya merasa sombong hingga menganggap kita mampu mengatasi semuanya dengan menghilangkan nyawa dengan cara yang Allah laknati. Hal ini tertulis jelas di dalam Al-Qur'an yang artinya : “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. An Nisa: 29-30).

Hal ini juga langsung disampaikan oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, beliau bersabdah: “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan di adzab dengan itu di hari kiamat” (HR. Bukhari no. 6105, Muslim no. 110).

Maraknya sekuler ini dikalangan remaja dan masyarakat sangat mengkhawatirkan. Karena hal ini  terbukti melahirkan kasus-kasus yang semakin banyak di Indonesia. Contohnya yang terjadi pada  kasus ini, saat Allah SWT tak lagi menjadi rujukkan yang paling utama dalam semua aspek kehidupan, sehingga kesenangan hanya diukur oleh kepuasan nafsu semata. Padahal kebahagian seorang muslim itu terletak saat kita melakukan semua aturan Allah sehingga dapat melahirkan Ridho-Nya. Dan saat manusia mengalami keputus asaan atas sesuatu, ia akan tau seharusnya bagaimana seorang hamba bersikap. Karena ia yakin terhadap apa yang telah Allah janjikan. Sebab masalah yang kita hadapi itu pasti ada solusinya. Karena Allah Ta’ala tidak akan membebani sesuatu kepada kita kecuali masih dalam batas kemampuan kita. Allah Ta’ala berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 286).

Negara ini merupakan negara dengan mayoritas muslim terbanyak, seharusnya mudah saja bagi masyarakatnya untuk menghilangkan sekulerisme dan liberalisme, dan menjalankan semua aturan-aturan yang telah Allah beri, namun pada kenyataannya sekulerisme dan liberalisme telah masuk ke dalam sistem kehidupan kita. Hal ini karena tidak diterapkannya Islam secara Kaffah oleh negara, yang mampu melenyapkan kedua hal tersebut. Negara yang berkonstitusikan Islam merupakan pengawas yang paling besar untuk dapat mendorong masyarakatnya menjalankan semua aturan-aturan-Nya.

Wallahu'alam Bi Showab

0 Comments

Posting Komentar