The Little Killer



Oleh : Veve Al-Fatih

Beberapa hari terakhir ini, negeri awak dikejutkan dengan adanya kasus pembunuhan sadis yang membuat para pendengarnya pun turut meringis. Pasalnya, tepat pada Kamis (5/3/2020) seorang siswa SMP di Jakarta Pusat berinisial NF berusia 15 tahun merasa puas telah membunuh balita berusia 5 tahun yang merupakan tetangganya sekaligus teman bermainnya. Mereka berdua sering bermain bersama karena ibu keduanya memiliki usaha bersama dalam menjual gorengan. Selain itu, pelaku juga dikenal bersikap sadis dan kasar terhadap binatang. 

"Dia biasa bermain dengan binatang dan diperlakukan dengan kasar. Ada kodok ditusuk pakai garpu. Dia punya kucing kesayangan, kalau lagi kesal dibuang dari lantai 2," kata Yusri. ( https://m.cnnindonesia.com )

Kasus pembunuhan ini tidak lain disebabkan oleh tontonan film, yang dikabarkan pelaku lebih suka menonton film "Slender Man" dan film "Chucky" yang dianggap menjadi pemicu tindak sadisnya terhadap balita. 

Di era digital saat ini, remaja agak sulit untuk menghindar dari adanya tontonan yang merusak mental generasi, hingga hal tersebut bisa saja menjadi ilusi. Sebab, film-film yang ditayangkan di media YouTube misalnya, walaupun umur penontonnya dibatasi semisal R18+ tidak dapat menjamin remaja yang usia dibawah umur tersebut tidak akan menontonnya. Hal tersebut dikarenakan hanyalah sebatas label dan tidak ada sensor karena ranah privat serta tidak diberikan penjelasan semisal film yang dipertontonkan salah disebut salah dan harusnya bagaimana. Sehingga, film-film yang mempertontonkan salah seperti tindak kriminal, pornografi, seks bebas, dan sebagainya malah mendapat dukungan dari banyak pihak.

Di sisi lain, sebenarnya ini tidak hanya salah pelaku yang berinisial NF saja. Melainkan karena retaknya bingkai rumah tangga dan ditambah lagi dengan dibalutnya sistem sekuler-liberal yang jelas dapat memungkinkan untuk mendukung terjadinya generasi rusak. Sebab, peran orang tua dalam keluarga salah satunya yakni harus mengawasi apa yang dilakukan anak pada saat di rumah dan memberi pemahaman ilmu terlebih juga ilmu agama terhadap anak, dan masih banyak peran-peran yang lain. Namun, jika orang tua misal tidak paham ilmu agama negaralah yang turut memperhatikan keluarga ini agar terwujud menjadi keluarga yang sakinah. Jika ada masalah dalam keluarga, negara pula lah yang memfasilitasi untuk mendakwahi mereka, memediasi, dan sebagainya. Sebab, keluarga merupakan sebuah kepemimpinan terkecil yang juga perlu diatasi.

Kemudian, terkait kasus pembunuhan sadis oleh NF ini merupakan sesuatu yang jelas melanggar norma kemanusiaan, dan terlebih lagi adalah norma agama. Hal ini bukanlah sesuatu yang pertama kali terjadi, dan bahkan ada yang jauh lebih sadis dari ini seperti saudara-saudara kita di negeri-negeri yang minoritas muslim, yang mana diluar sana banyak nyawa telah tergadai. Seharusnya, negara dapat bertindak tegas dalam menyikapi hal ini.

Didasarkan hal diatas, dapat disimpulkan bahwa sebagai anggota keluarga harus menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik dan tontonan dapat menjadi tuntunan. Sehingga, peran negara yakni memblokir situs-situs yang berbau akan merusak generasi. Tidak dapat dipungkiri pula lah bahwa tontonan yang rusak dilahirkan dari sistem sekuler-liberal yang rusak. Sistem inilah yang menghendaki adanya pemisahan agama dari kehidupan (fashluddiin 'anil hayaah) yang akhirnya memunculkan adanya pemisahan agama dari negara dan adanya kebebasan yang sebebas-bebasnya. Selain itu, tidak heran pula jika di sistem ini rasa kemanusiaan dan welas asih pada diri manusia pun mulai tercabut. Ironi bin miris bukan?.

Sehingga, dari sinilah kita perlu adanya penerapan Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah. Dimana dalam sistem ini seluruh problematika yang ada dapat diminimalisir dan bahkan terselesaikan. Hingga menjadikan bumi ini sejahtera karena Islam adalah Rahmat bagi seluruh alam. 

Wallahu a'lam bisshowab

0 Comments

Posting Komentar