Mampukah, Mereformasi Kualitas Pendidikan Ditengah Wabah?

Menteri Pendidikan. Sumber Foto : TribunNews


Oleh : Watini Alfadiyah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan)

#InfoMuslimahJember -- Ditengah wabah pandemi virus covid-19 (Corona) yang masih menghantui pundi-pundi kehidupan tak tertinggal aspek pendidikan, kini Menteri Pendidikan Nadiem sengaja mempercepat target program kerjanya. Menurutnya lebih cepat lebih baik. Ini juga merupakan suatu bentuk realisasi dari upaya efisiensi itu sendiri.

Tidak hanya itu, bahkan Nadiem membuat gebrakan dengan meniadakan UN dan menggantinya dengan Assessment Competition yang juga dipercepat satu tahun. Gagasan besar pembuatan seri-seri kebijakan yang telah disusun oleh Nadiem tidak lain adalah untuk memerdekakan potensi guru, potensi kepala sekolah, dan meningkatkan relevansi pembelajaran kepada dunia nyata.

“Dunia nyata itu bukan hanya industri, tetapi dunia pemerintahan, dunia sosial sektor, dunia non-profit,” kata Nadiem. 

“Kalau kita ingin berstandar dunia, ya assessment untuk mengukur standar kita ya juga harus mengikuti standar dunia,” pungkas Nadiem Makarim.(PortalJember).

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat minta reformasi pendidikan yang akan dilakukan pemerintah harus tetap terukur. Hal tersebut terkait dengan rencana pemerintah yang akan melaksanakan reformasi pendidikan tahun depan.

"Sebelum melakukan reformasi harus ada pemetaan semua permasalahan sektor pendidikan, sehingga hasil dari reformasi bisa diterapkan sesuai kondisi yang ada," kata Lestari, dalam keterangannya, Rabu (6/5/2020).

Lestari mengungkapkan pengembangan sektor pendidikan harus dilakukan sesuai tahapan yang benar. Apalagi menurutnya sebelum terkena dampak wabah COVID-19, kondisi peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan survei 2018 berada di urutan bawah.
PISA sendiri merupakan metode penilaian internasional yang menjadi indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Untuk nilai kompetensi membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara.
Sementara untuk nilai matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Kemudian untuk nilai sains, berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai-nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 - 15 tahun terakhir.

Lestari pun mengatakan, dengan adanya gangguan wabah Corona perlu upaya yang lebih untuk memperluas jangkauan pemerataan pendidikan di Tanah Air. Hikmah yang bisa diambil dari wabah COVID-19 di sektor pendidikan menurutnya, adalah terbukanya mata kita bahwa sistem pendidikan nasional saat ini belum sepenuhnya mampu diakses dengan baik oleh semua siswa dari Sabang sampai Marauke.

"Karena belum ada kesetaraan dari sisi infrastruktur pendidikan dan kualitas guru di sejumlah daerah di Indonesia," pungkasnya (Tribunnews.Com 06/05/20).

Suksesnya pendidikan merupakan salah satu pilar kemajuan suatu bangsa. Dengan begitu aspek pendidikan tidak bisa diletakkan nomor belakang dalam urusan kehidupan. Lalu, bagaimana halnya dengan pendidikan di negara kita. Ternyata berdasarkan survei 2018 berada di urutan bawah. Ditengah wabah pandemi virus covid-19 (Corona) ini  Mendikbud membuat gebrakan untuk tetap mempercepat target program kerjanya.

Dilain sisi Wakil ketua MPR RI Lestari Moerdijat bisa mengambil hikmah kesadaran akan kualitas pendidikan yang ada. Fakta kini menunjukkan pendidikan yang ada tatkala di ukur ternyata jauh panggang dari api yakni masalah diurai namun jauh dari solusi. Bagaimana tidak yang dijadikan indikator penilaian untuk mengukur suksesnya pendidikan yakni Programmer for International Student Assessment (PISA). Yang dilaksanakan oleh OECD (Organisation For Economic Cooperation and Development) berpusat di Paris, adalah badan ekonomi dunia. Yang mengacu pada literasi membaca, menghitung, dan sains. Jadi ukuran kesuksesan pendidikan yang utama adalah untuk kemajuan ekonomi, dan terlihat mengedepankan pengetahuan mengesampingkan moral.

Sementara kita telah disuguhi fakta buramnya output pendidikan, akan krisis moral generasi kian mewarnai negeri meskipun punya kemampuan dari sisi pengetahuan. Hal ini merupakan permasalahan pendidikan yang belum tampak ada solusi. Terlebih dengan adanya wabah pandemi virus covid-19 (Corona) dunia pendidikanpun terasa terhambat dalam proses pembelajaran. Bagaimana tidak KBM secara daring butuh biaya besar, terkadang  ada kendala sinyal bahkan muncul kesulitan dalam pemahaman. sehingga  tujuan pembelajaran itu sendiri tidak tercapai secara optimal. Dengan demikian, sulit rasanya untuk mereformasi kualitas pendidikan di tengah wabah.

Lain halnya kualitas pendidikan dalam sistem Islam, akan  terukur dengan adanya tujuan. Adapun tujuan pendidikan dalam Islam yakni : Pertama, membangun kepribadian Islam, pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) yang islami bagi umat, yaitu  dengan cara menanamkan staqofah Islam berupa aqidah, pemikiran, dan perilaku islami kedalam akal dan jiwa anak didik. Untuk merealisasikannya negara akan membuat kurikulum yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Sehingga moralnya mencerminkan kepribadian atau akhlak yang islami.

Kedua, mempersiapkan generasi agar diantara mereka menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik ilmu-ilmu keislaman ( ijtihad, fiqih, peradilan dan lain-lain) maupun ilmu-ilmu terapan (teknik, kimia, fisika, kedokteran, dan lain-lain). Hingga akhirnya membawa kemajuan bagi sebuah peradaban. Karena dicetaknya individu-individu yang punya keahlian dan mempunyai jiwa kepemimpinan.

Dengan demikian, terukurnya kualitas pendidikan dalam sistem Islam yaitu tatkala tujuan dari pendidikan tersebut telah tercapai. Tercapainya tujuan pendidikan akan direncanakan dalam sebuah kurikulum oleh negara. Dimana keberadaan pemimpin negara dalam sistem Islam tatkala memimpin berangkat dari ketaqwaan. Dan memiliki kesadaran sebagaimana Rasulullah Saw bersabda: "Imam(pemimpin) itu pengurus rakyat maka akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus." (HR. al-Bukhari dan Ahmad). 

Sejarahpun telah membuktikan bagaimana sistem pendidikan dalam Islam yang mampu mewujudkan sebuah peradaban. Peradaban  gemilang  menjadi mercusuar dunia selama 1400 tahun lamanya. Menguasai 2/3 wilayah dunia dengan kecemerlangannya. Dengan demikian, saatnya kita menjadikan pendidikan dalam sistem Islam sebagai tolak ukur kualitas dalam reformasi pendidikan yang ada. 

Wallahu a'lam bi-ashowab.

0 Comments

Posting Komentar