Bukan New Normal tetapi New System




Oleh : Suci Dwi Oktavianti 

New Normal akhir-akhir ini menjadi istilah baru yang sangat populer dikalangan masyarakat, setelah sebelumnya mengenal istilah-istilah baru lainnya, seperti sosial distancing, phsical distancing, karantina wilayah, PSBB, work from home, virus corona dan covid-19.


New Normal sendiri merupakan sebuah istilah yang artinya sebuah kebijakan yang membuka kembali aktivitas-aktivitas sebagaimana mestinya sebelum virus covid-19 melanda, seperti misalnya aktivitas ekonomi, sosial dan kegiatan publik lainnya dengan catatan dibuka secara terbatas dan menggunakan standar (protokol) kesehatan yang sebelumnya tidak ada dikala pandemi.

Penjelasan lengkap mengenai kebijakan baru ini di jelaskan oleh Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita. 

Dimana Ia menjelaskan bahwa New Normal adalah bentuk adaptasi tetap beraktivitas dengan mengurangi kontak fisik dan menghindari kerumunan. Semua aktivitas masyarakat akan kembali diizinkan, mulai dari bekerja, sekolah hingga ke tempat wisata. Namun, semua aktivitas tersebut harus dijalani dengan mematuhi protokol kesehatan guna mencegah penularan virus corona.

Ia juga menjelaskan, new normal bertujuan untuk menata kehidupan dan perilaku baru ketika pandemi Covid-19 terjadi. Transformasi ini akan terus berlangsung hingga vaksin untuk Covid-19 ditemukan (suara.com, 28/05/2020).

Mungkin saja ini merupakan sebuah angin segar bagi beberapa kalangan yang memang mendapat dampak langsung dari akibat pandemi ini, khususnya kalangan menengah kebawah. Walaupun pada kenyataannya baik kalangan menengah kebawah ataupun kalangan atas sendiri sama-sama mendapatkan dampak dari musibah pandemi ini.

Namun rasanya kebijakan ini kurang bijak diambil dikala pasien covid-19 semakin hari semakin bertambah. Jangan sampai kebijakan ini menjadi kebijakan coba-coba hingga yang terjadi pasien covid-19 semakin meningkat. 

Seharusnya kita belajar dari kebijakan-kebijakan pemerintah sebelumnya yang terlalu santai dalam menangani kasus ini, seperti halnya Pemerintah memberi diskon tiket pesawat 30 persen demi meningkatkan wisatawan, dengan alasan perekonomian yang lesu akibat dampak virus covid-19. (kompas.com, 25/02/2020)

Belum lagi kebijakan PSBB tetapi bandara dan mall dibuka, sehingga dampaknya pasain positif bertambah hampir mencapai angka 1000 dalam sehari.

Harusnya pemerintah mematangkan kembali kebijakan ini. Pemerintah harus ingat bahwa negara lain mengambil kebijakan New Normal setelah penyebaran covid-19 lebih bisa dikendalikan dan kurva korbannya melandai.

Seperti halnya Korea Selatan yang memberlakukan kebijakan New Normal diambil ketika jumlah pertambahan kasus baru sangat kecil dibawah angka 20 dan sempat mencapai angka 0 satu hingga dua hari, hal ini dijelaskan oleh Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi di Kabar Petang yang disiarkan langsung oleh tvone. Namun kebijakan ini pada 6 Mei 2020 lalu langsung  dicabut akibat dari molonjaknya angka pasian positif setelah pemberlakuan new normal. 

Padahal kita tau sendiri Korea Selatan memiliki makanisme penanganan pandemi lebih baik dari negara kita, belum lagi masyarakatnya yang memiliki tingkat disiplin yang tinggi dari pada masyarakat kita  masih terbukti gagal menjalankan konsep new normal. Apakah pemerintah kita akan tetap memaksakan untuk menerapkan konsep ini juga, disaat masih banyak PR besar yang harus diselesaikan dalam penanganan pandemi covid-19 ini?

Kalau kita mau berfikir, virus covid-19 membuka semua temeng yang katanya untuk mensejahterakan rakyat namun nyatanya semuanya hanya omong kosong belakang. Semua kebijakan yang diambil oleh pemerintah adalah sebuah kebijakan yang hanya dapat menguntungkan satu sisi dan membuat sisi lainnya merugi. Ini yang disebut sistem kapitalisme. 

Kalau kita mau flashback ulang selama masa pandemi ini sudah beberapa kebijakan yang diambil oleh pemerintah kita yang hanya mementingkan sektor ekonomi semata dan mengenyampingkan keselamatan rakyatnya. 

Dimana disahkannya kenaikan BPJS disaat masyarakat dihantui oleh sebuah virus yang sampai saat ini belum dapat diselesaikan merupakan buah dari kapitalisme.

Belum lagi ketika karpet merah dibentangkan untuk para kapitalis dalam rancangan UU Minerba, hal ini sudah pasti kapitalisme. Dan hari ini New Normal akan diperlakukan disaat negara kita belum sama sekali siap, dan lagi-lagi ini buah dari kapitalisme.

Terbukti sistem kapitalisme merupakan sebuah sistem yang bahkan mencederai masyarakatnya khususnya masyarakat menengah kebawah. Dan secara sadar maupun  tidak sadar masyarakat sudah mulai jenuh akibat dampak dari kebijakan kapitalisme ini.

Dan sebenarnya bukan New Normal yang sekarang dibutuhkan oleh semua Negara yang ada dunia tetapi New System' yang dapat merubah semuanya, lebih baik lagi dari sistem kapitalisme.

Sebenarnya dari awal sudah banyak sekali isu bagaimana wabah ini dapat kita atasi. Namun alih-alih menerapkannya pemerintah kita hanya menjadikan itu sebuah cerita yang pernah diikuti tapi kurang sabar dalam prosesnya. 

Sudah kita tau bahwa musibah pandemi ini bukan sebuah kasus pertama yang terjadi, karena sebelum-sebelumnya pun wabah ini pernah terjadi pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab. Dan kebijakan yang diambil oleh Khalifah Umar adalah kebijakan yang langsung dari lisan Rasulullah Saw, dimana ia bersabda  “Apabila kalian mendengar wabah tha’un melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Adapun apabila penyakit itu melanda suatu negeri sedang kalian-kalian di dalamnya, maka janganlah kalian lari keluar dari negeri itu.” (Muttafaqun ‘alaihi, HR. Bukhari dan Muslim).

Seharusnya kebijakan itu yang juga diambil oleh pemerintah kita, bukan malah membuka, menutup dan membuka kembali kegiatan publik seenaknya dengan alasan ekonomi yang memprihatinkan.

Jika memang semua itu  adalah alasan untuk perbaikan ekonomi maka semestinya buka kebijakan New Normal yang patut diambil tetapi New System' yang butuhkan. 

Karena saat aturan-aturan manusia sudah tak lagi memberi kesejahteraan pada kehidupan masyarakatnya, memberi dampak buruk pada bumi Allah, maka sudah pasti aturan Allah yang paling benar untuk kita terapkan. Perlu kita ingat 13 abat lamanya sistem islam diterapkan dan dalam sejarahnya islam mampu mengurusi umat hampir di dua pertiga dunia. 

Islam merupakan solusi total dalam semua aspek pada permasalah manusia, dan saat semuanya diatur oleh aturan islam maka sudah pasti akan tercipta rahmatan lil ‘alaminnya.

Allahu a'lam bishawwab

0 Comments

Posting Komentar