Melanggengkan Ketaatan Pasca Ramadan




Oleh :Evi Shofia, Sp

#InfoMuslimahJember -- Ramadan sudah berlalu. Sebulan penuh selama bulan Ramadan kita berlatih untuk lebih taat, lebih banyak sedekah dan berbagi, lebih banyak tilawah dan qiyamul lail pun lebih khusyuk. Akankah setelah Ramadan pergi, ketaatan ini pun pudar?

Memang tak bisa dipungkiri keimanan seorang muslim bisa bertambah, bisa pula berkurang. Namun sebagai muslim yang baru saja melewati Ramadan dengan berbagai ketaatan, sepatutnya bisa istiqamah melakukan amalan seperti kala Ramadan.

Indikasi sukses seorang muslim melalui Ramadan adalah amal-amalnya pasca Ramadan. Tetap taat atau taatnya luruh bersama kesibukan menyambut lebaran. Bagi seorang mukmin, berhasil melalui Ramadan dengan berbagai ketaatan membuat hati bahagia. Dan berusaha untuk tetap istiqamah melakukan amal shalih, karena sejatinya Ramadan adalah bulan training untuk menghadapi 11 bulan yang akan datang.

Menurunnya semangat beramal shalih pasca Ramadan juga tidak terlepas dari upaya setan yang selalu menggoda manusia dari berbagai arah, dari depan, belakang, samping kanan atau kiri bahkan hingga masuk pada pembuluh darah. Naudzubillahi min dzalik

Namun sebagai manusia yang dikarunia akal untuk menyempurnakan keimanan, godaan setan dapat diminimalisir bahkan bisa dilawan dengan senantiasa mohon perlindungan kepada Allah. Sebagaimana firmanNya dalam QS Al-A’raf : 200, “Dan jikakamuditimpasesuatugodaansyaitanmakaberlindunglahkepada Allah”

Maka perlu tips dan trik untuk menjaga keistiqamahan dalam beramal shalih. Kita memang tak bisa menghindar dari bujuk rayu setan, tapi bisa mengupayakan menutup celah sekecil apapun agar setan tak berpeluang menggoda.

Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga spirit Ramadan

1. Sadar sepenuhnya tugas insan di dunia hanya untuk beribadah kepada Allah.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS 51 :56)

Dengan menyadari bahwa tugasnya hanya ibadah semata, akan mengabaikan aktifitas-aktifitas lain yang unfaedah. Fokus untuk meraih ridha Allah, apapun aktifitasnya. Kesadaran ini akan melecut semangat ibadah. Bukan hanya ibadah mahdhah, namun juga ibadah-ibadah yang lain.

2. Berusaha istiqamah melakukan berbagai ketaatan. Tetap tilawah, sedekah, qiyamullail, salat-salat sunnah dan amar ma’ruf nahi munkar. Dengan terus-menerus melakukan ketaatan, hati akan lembut dan lebih terarah mengisi kehidupan.

Dalam sebuah hadits Qudsi yang sangat populer di kalangan kaum sufi, Allah SWT berfirman, "Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka aku telah datang menghampirinya sehasta. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku datang menyambutnya dengan berlari. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berlari, maka aku datang menyongsongnya lebih cepat lagi."

Dengan selalu mendekatkan diri pada Allah, Allah melindungi kita dari tergelincir pada perbuatan yang tak manfaat bahkan perbuatan dosa.

3. Jangan menyia-nyiakan waktu. Seorangmuslim yang cerdas sangat paham bahwa waktu berlalu sangat cepat. Ia takkan membiarkan waktu berlalu tanpa amal shalih. Demikian pentingnya waktu, hingga Allah bersumpah demi waktu (QS Al-Asr ). Dalam ayat tersebut Allah berfirman : “Manusia berada dalam kerugian kecuali, orang-orang yang beriman, beramal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran”.

Selalu melibatkan diri dalam aktifitas amal shalih dan amar ma’ruf nahi munkar akan membuat hidup lebih berarti, dan bahagia pasti. Hingga suatu saat nanti aktifitas ini menjadi habits (kebiasaan) dan membentuk karakter yang diridhai Allah.

4. Menyadari kematian sangatlah dekat. Tak ada yang bisa memprediksi umur manusia. Kematian seperti bayang-bayang kita, sangat dekat, kedatangannya kadang tanpa aba-aba. Jika ajal sudah sampai, tak bisa dimajukan atau diundur sedetik pun. Sebagaimana dalam firman Allah Swt (QS 7 : 34)

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Dengan banyak mengingat kematian, akan memotivasi untuk istiqamah dalam kebenaran dan ketaatan. Hingga tak beri ruang sedikit pun untuk lalai syariat Allah.

5. Meyakini bahwa kehidupan di akhirat lebih baik dan kekal. Keyakinan ini menyebabkan seluruh aktifitas seorang muslim di dunia selalu dikaitkan dengan hukum syara’, semata-mata untuk menggapai ridha Allah. Menjadikan halal dan haram sebagai landasan perbuatannya. Sikap ini akan melejitkan taat, sehingga tak terlintas sedikit pun untuk maksiat.

6. Senantiasa berdoa memohon hidayah kepada Allah Swt. Melantunkan doa-doa terbaik pada waktu-waktu diijabahnya doa. Memanjatkan permohonan dengan penuh harap dan cemas. Berharap Allah Swt membimbing dengan hidayah-Nya hingga akhir yang husnul khatimah.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Albaqarah:186)


Allah Swt berjanji akan mengabulkan permohonan hamba-Nya yang berdoa. Maka teruslah meminta, teruslah berharap dan teruslah berdoa agar Allah Swt senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya. Menguatkan kita untuk selalu beramal shalih senyampang masih bisa bernafas, senyampang masih diberi kesehatan untuk melakukan berbagai ketaatan, hingga nyawa terpisah dari raga.


Dengan mengupayakan semua hal di atas, semangat ibadah di bulan Ramadan akan tetap terjaga di bulan-bulan setelah Ramadan. Sehingga tujuan diwajibkannya puasa Ramadan tercapai, yaitu sampai pada level takwa. Takwa yang tidak hanya di bulan Ramadan, namun juga di bulan-bulan berikutnya. Maka kita pun akan menjadi hamba yang Rabbani, bukan hamba yang Ramadani.


Wallahua’lam Bisshawab

0 Comments

Posting Komentar