Para Tokoh Jatim Bahas New Normal, Ada Kode Solusi Alam!





Oleh: Vania Puspita Anggraeni

(Mahasiswi Kampus Jember)



#InfoMuslimahJember -- Pada hari Sabtu, 13 Juni 2020 kaffah channel telah menghadirkan sebuah perbincangan hangat melalui sebuah kanal youtube secara live dan menarik sekitar 8000 lebih viewers. Perbincangan hangat dengan Ustadz Ismail Yusanto dan KH. Rokhmat S. Labib yang berjalan selama 3 jam lebih sejak pukul 09.00 pagi ini menyuguhkan tema “New Normal, Diantara Ancaman Krisis Ekonomi dan Dekatnya Kebangkitan Peradaban Islam,” juga diikuti oleh beberapa tokoh intelektual yang memberikan pendapatnya terkait new normal yang sedang diperbincangkan. Acara live youtube yang menjadikan dua ustadz kondang itu sebagai pemateri utama dalam perbincangan, dilaksanakan untuk memberi gambaran dan sudut pandang lain bahwa penerapan new normal di Indonesia tidak tepat untuk dilaksanakan saat ini mengingat segala aspek yang belum terpenuhi dan dampak terburuk yang kemungkinan akan terjadi.

Wahyu Eka Dianto, S .Pt.seorang pengusaha property syari’ah yang menjadi pemateri pertama dalam acara live tersebut, menjelaskan bahwa keraguan yang timbul ditengah masyarakat terkait kebijakan New Normal sangat wajar terjadi. Karena, pemerintah sendiri yang menjelaskan bahwa  alasan yang mendasari kebijakan ini ialah faktor ekonomi. Padahal, seperti yang kita tau kenaikan kasus virus ini masih terus terjadi. Seolah memberi tanda bahwa keselamatan rakyat bukanlah prioritas.

Selain pemateri pertama yang memberikan pandangannya dengan cukup lugas, pemateri kedua, Adinda Khotibul Umam, seorang aktivis mahasiswa juga mengatakan dengan jelas bahwa  Pemerintah dirasa gagap dalam menangani virus COVID-19. Hal ini ditandai dengan ketidakseriusan pemerintah menghalau adanya ancaman virus sejak awal dan justru mengeluarkan lelucon dalam menyambut virus ini. Tidak hanya itu, Khotibul Umam juga memberikan pandangan terkait pembelajaran yang dinilai tidak efektif karena kurangnya persiapan pemerintah sebelum dan selama pelaksanaan. Mahasiswa yang masih merasa terbebani dengan UKT, menjadi tidak sempat mengkritik kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Lukman Noerrochim, Ph.D yang selanjutnya menjadi pemateri ketiga, ikut memberi pandangan bahwa new normal rencana pemerintah ini hanya berupa sisi teknisnya saja, karena tidak ada perubahan yang signifikan dan tetap melanjutkan kehidupan abnormal seperti sebelumnya. Menurut beliau, new normal yang seharusnya diterapkan di Indonesia adalah new normal dengan sistem shahih. Selain itu, beliau juga memberikan pesan bahwa kita harus tetap menyampaikan pendapat meskipun pemerintah tidak mempedulikannya. Ini semua dilakukan sebagai upaya untuk menyadarkan umat.

Ustadz Ismail Yusanto sebagai pemateri inti, mengatakan bahwa semua orang pada dasarnya ingin kembali hidup normal, akan tetapi memperhitungkan waktu yang tepat untuk melaksanakan new normal juga penting dilakukan. Bahkan beliau juga menyampaikan bahwa Indonesia belum memenuhi standar WHO untuk melakukan new normal.

Selain ustadz Ismail Yusanto, KH. Rokhmat S. Labib juga memberikan pandangan terkait new normal yang akan berlaku di Indonesia. Menurut beliau,  wajar jika perekonomian Indonesia anjlok setelah pandemi. APBN negara tidak sesuai dengan pendapatan negara. Karena pendapat Indonesia hanya berasal dari pajak yang tidak bisa mendukung perekonomian secara maksimal ketika terjadi wabah. Seperti yang kita tau, bahwa PSBB yang mengharuskan pekerjaan terhenti sementara membuat pajak ikut terdampak dan pastinya akan mempengaruhi pendapatan negara pula. Berbeda dengan islam yang memiliki sumber pendapatan negara lebih besar. Tidak hanya dari pajak tapi juga pos kharaj dan fa’i.

Seperti itulah, new normal di Indonesia yang diduga kuat terjadi sebab perekonomian negara anjlok. Sumber pendapatan negara yang tidak imbang dengan belanja negara, membuat pemerintah kalang kabut mencari dana pemasukan bagi berlangsungnya pengelolaan negara. Sehingga, dengan adanya new normal ini semakin memperkuat opini bahwa pemerintah sengaja memberlakukannya untuk mengembalikan perekonomian dalam kondisi semula. Meskipun, penuh resiko terhadap keselamatan rakyat karena penyebaran covid 19 di Indonesia masih tinggi. 

Sudah saatnya pengelolaan negara mengacu pada aturan shahih yang bersumber dari Allah agar solusi yang dilegalkan tidak menimbulkan permasalahan baru bagi rakyat yang seharusnya merasakan adanya kemaslahatan dari penerapan islam oleh pemimpin. Sungguh, dengan penerapan islam kaffah dalam sebuah negeri tidak hanya mendatangkan perbaikan tapi juga keberkahan dari Allah karena penerapan islam secara kaffah adalah bentuk ketaatan mutlak bagi pemegang kekuasaan di atas kekuasaan, Allah pemiliki kerajaan langit dan bumi. Allahuakbar !!

0 Comments

Posting Komentar