Film Jejak Khilafah Di Nusantara : Sebuah Identitas Yang Hilang Dari Sejarah

 

Oleh: Sri Wahyuni S.Pd

(Aktivis Muslimah)


#InfoMuslimahJember -- Wow! kado spesial Muharram, akhirnya muslim tau! Sebuah film dokumenter berjudul “Jejak Khilafah Di Nusantara” yang di sutradarai oleh sejarawan Nico Pandawa sukses diselenggarakan secara live hari ini yang bertepatan dengan tahun baru islam 1 Muharram 1442 H. Yang menarik dari pemutaran film ini bukan hanya karena ditayangkan di momen pergantian tahun melainkan juga cara menyaksikan film yang mengharuskan penonton untuk memgang tiket agar dapat login, meski demikian tiket tersebut dapat dimiliki secara gratis. Film ini sendiri ditayangkan mulai pukul 09.00-12.20, dan telah banyak menyedot perhatian publik di jagad medsos. Setidaknya 63 ribu netizen telah menyaksikan film tersebut secara live di Youtube.

Pemutaran film ini diawali dengan sambutan dari Ustad Rokhmat S. Labib, dimana beliau menyampaikan bahwa “Tahun baru hijriah sebagai tahun penanggalan islam yang ditetapkan oleh khalifah Umar r.a, dimana penetapan tahun ini adalah diambil dari peristiwa hijrahnya rosul stlah kspakatan para sahabat. Smntara itu alasan yang menjadi landasan pentapan tahun islam diambil dari peristiwa hijrahnya rosul adalah sebagaimana disampaikan oleh Khalifah Umar r.a bahwa hijrah adalah peristiwa yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil. Maka umat yang seblumnya tertindas tatkala menyampaikan dakwah di Mkekah lantas berubah menjadi ummah yang kuat, ummah khadimah. Peristiwa penting di balik hijrah tersebut tak lain adalah yang tadinya tak punya daulah kemudian mampu mengakkannya ketika di madinah. Hijrah tersebut juga bukan hanya sebagai seorang nabi tetapi beliau juga datang sebagai kepala negara ynag menjadikan kekuasaan ada di tangan rasulullah dimana seluruh hukum islam bisa diterapkan. Bukan hanya di Madinah, namun Islam kemudian menyebar ke seluruh jazirah arab. Bahkan sepeninggal rasulullah beliau tidak hanya meninggalkan agama tetapi meninggalkan sebuah ngara yang punya kedaulatan yakni negara khilafah dan terus menyebar hingga ke wilayah lain selama kurun waktu 13 abad”. Sebagai penutup beliau menyampaikan bahwa kebangkitan Islam hanya akan bisa diwujudkan ketika khilafah ditegakkan.

Acara kemudian berlanjut dengan bincang-bincang hangat bersama para pembuat film. Dipandu oleh Ustad Karebet sebagai moderator dalam sesi ini dihadiri oleh Ustad Ismail Yusanto, Septian A.W dan Nico Pandawa. Ustad Ismail memulai sesi ini dengan menjelaskan pentingnya mempelajari sejarah yakni dalam sejarah mengandung ibroh bagi orang yang berpikir. “Bagaimana ibroh didapat tergantung sejarah ditulis. Jika ditulis benar maka akan dapat ibroh yang benar dan sebaliknya. Oleh karenanya al-quran ditulis secara benar maka ibroh yang didapat juga pasti benar. Namun ada sejarah di luar quran ini kebenarannya sangat tergantung dengan siapa yang merumuskan dan apa latar belakangnya. Inilah yang menjadi munculnya sebab adanya penguburan dan pengkaburan sejarah”. Beliau lalu melanjutkan bahwa film ini disajikan adalah dalam rangka untuk menghadirkan sejarah yang benar. Beliau lantas melanjutkan bahwa sejarah tidak untuk dijadikan sebagai sumber hukum melainkan obyek pemikiran. Artinya menjadi pendukung dari ajaran yang kita pahami dimana dalam konteks ini adalah khilafah. Dengan mengetahui keberadaan khilafah di bumi nusantara adalah sebagai penguat pemahaman kita tentang ajaran tersebut. Meski demikian sekalipun jejak ini tidak terdapat di nusantara namun bukan berarti menjadi alasan menyebut khilafah tidak pnting atau tidak wajib sebab kebenaran adalah berdasarkan dalil.

Sementara itu, menurut Septian A.W film ini dikemas menarik yang membedakan dengan film-film islam yang telah banyak di produksi  yakni dalam film ini dijelaskan relasi antara khilafah di timur tengah dengan nusantara. Dan hal inilah yang tidak dibahas oleh film-film sejarah islam lainnya. Beliau kemudian menanggapi isu yang menyebut film ini sebagai film propagandis “saya kira ini hal yang belum familiar, hal tersebut bisa kita prediksi akan muncul. Hal-hal yang menuduh bahkan sebenarnya filmnya belum muncul tapi tuduhan itu sudah muncul. Sebenarnya bukan karena filmnya tapi sentiman dengan kata khilafahnya yang dikaitkan dengan indonesia.” Lanjut beliau, sbagai orang yang memiliki background lulusan sejarah memastikan bahwa apa yang akan ditayangkan ini mmiliki nilai akademis dan ilmiah.

Nico Pandawa sebagai sutradara dari film ini menyebut bahwa proses pengerjaan film ini telah melalui riset yakni mengambil dari data pustaka dan data lapangan  yang diambil mulai dari ujung Aceh hingga dearah timur Ternate sehingga film ini akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Dari data tersebut kemudian dilakukan kritik baik intrenal maupun eksternal, proses kemudian berlanjut dengan interpretasi yaitu menterjemahkan untuk dijadikan narasi  yang bisa dinikmati oleh semua pihak.

Di sesi berikutnya adalah penayangan film yang dibuka dengan kisah wafatnya rasulullah Saw sehingga menyebabkan duka mendalam bagi para sahabat. Mengetahui pemimpinnya saat itu telah wafat para sahabat pun bersegra untuk mengangkat pemimpin baru untuk melanjutkan kepemimpinan, dan terpilihlah sahabat Abu Bakar. Lebih mengutamakan mengangkat pemimpin baru ketimbang menyegerakan pemakaman rasul menujukkan bahwa ini adalah urusan yang sangat mendsak. Pergantian kepemimpinan ini pun berlanjut oleh Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib r.a dan khalifah-khalifah setelahnya. Silih brgantinya kepemimpinan tersebut juga diiringi dengan makin luasnya wilayah daulah Islam bahkan hingga ke Nusantara. Di bawah kepemiminan khalifah Umar bin Abdul Aziz lah Islam mulai tersebar ke Nusantara. Pada saat itu, tahun 1258 Mongol secara brutal dan membabi buta menyerang daulah Islam di Baghdad hingga menyebabkan banyak dari kaum muslim yang wafat atas serangan tersebut. Sementara itu, kaum muslim yang selamat kemudian mengungsi kv wilayah lain yang lebih aman. Salah satu dari keturunan bani Abbasiyah bahkan mengungsi hingga ke Aceh. Dimana Aceh saat itu sedang berada dalam kekuasaan kerajaan Samudra Pasai. Bukti kisah sampainya Daulah Islam di Nusantara adalah ditemukannya tiga makam dari keturunan Abbasiyah di Aceh yakni Ashrodul Akabir Abdullah bin Muhammad al-Abasy keturunan khalifah al-mustam’shir billah, kemudian istrinya siti rahiman muadhon binti malikul dan anaknya Ashrodul Akabir yusuf bin Abdullah bin Abasy yang di batu nisannya tertulis nama kakeknya al-mustam’shir. Sementara itu, catatan yang ditulis oleh Ibnu Batutah menyebut Ayah dari  Abdullah yang makamnya berada di Aceh tadi prnah menjadi gubernur di India dan para Sultan di India begitu taat terhadap keturuanan al-mustam’shir billah dan begitu memuliakan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebut bahwa India telah berbaiat kepada Daulah Abbasiyah. Sementara disaat yang sama pula India memiliki hubungan yang erat dengan Samudra Pasai. Dengan demikian kerajaan Samudra Pasai diduga kuat berbait kepada Daulah Abbasiyah. Dengan berbaiatnya Samudra Pasai kepada Daulah Islam maka menyebarkan Islam ke Asia Tenggara menjadi tugas Samudra Pasai.

Sultan Zainal Abidin Pasai sebagai Pemimpin Samudra Pasai kemudian mengemban amanah tersebut dengan mengirim juru dakwah untuk wilayah nusantara lain agar memeluk Islam. Saat itu Majapahit sebagai ibu kota Jawa Timur yang masih memeluk agama hindu menjadi tujuan penyebaran Islam. Maka diutuslah Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam di wilayah tersebut. Sementara di sisi lain kondisi Majapahit yang telah berada di ujung tanduk akibat kekacaun internal kerajaan tersebut menjadi faktor pendukung makin diterimanya Islam. Dakwah yang begitu masif dilakukan ini bahkan berhasil membentuk Daulah Islam pertama di Tanah Jawa. Langkah dakwah pun terus brlanjut hingga sampailah dakwah Islam di kota Maluku, Ternate, Makassar, Kalimantan, dsb. Menariknya, di tengah makin luasnya wilayah Daulah Islam di Nusantara, disaat yang bersamaan pula Konstatinopel takluk di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih. 

Namun disaat gencarnya futuhat yang dilakukan oleh tentara muslim mulai dari Rom hingga ke Nusantara, disaat itu pula tentara-tentara kristen sedang gencarnya melakukan serangan terhadap wilayah Islam yang dimulai dari tanah Andalusia hingga akhirnya mereka berhasil menaklukkan Andalusia hingga mengakibatkan populasi Muslim tersapu bersih. Akibat reconquista yang dilakukan penguasa baru yang dipimpin Fernando Daragor dan istrinya Isablla De castelia kaum muslim akhirnya banyak yang diusir, dimurtadkan bahkan dibunuh. Tak cukup sampai disitu mereka pun berambisi untuk menjadikan diri mereka kaya dengan mencari sumber rempah di Samudra Hindia. Hal ini dilakukan sebab mahalnya harga rempah saat itu yang sebanding dengan harga mas. Ekspansi mereka pun tiba di Malaka dan merebut pelabuhan stretegis tersebut dari Sultan mahmud Syah yang memerintah tempat tersebut. Bercokolnya Portugis dan Spanyol menjadi babak baru bagi perkembangan Islam di Nusantara. Melihat penjajahan yang dilakukan oleh Portugis dan Spanyol di India dan Nusantara membuat Sultan Sulaiman Al-Qonuni lantas menyatakan perang terbuka terhadp penguasa Portugis. Namun saat kemunculan Portugis yang telah lama menetap di Nusantara akhirnya membuat kerajaan Samudra Pasai semakin lemah, sementara itu disisi lain di ujung Aceh jusru harapan itu kian bersinar dengan munculnya Kesultanan Aceh. 

Demikianlah eksistensi khilafah di Nusantara, dan acara ini pun ditutup dengan tayangan video di beberapa tempat bersejarah yang pernah menjadi saksi jejak Khilafah di Nusantara serta kesimpulan oleh Ustad Ismail Yusanto yang menyebut perjuangan penegakan khilfah memiliki dasar historis yang kokoh sebagaimana ditayangkan di video dan memiliki dasar normatif  yang telah dibahas di banyak kitab dan bahkan di pelajaran fikih di Madrasah Aliyah disampaikan bahwa hukum menegakkannya adalah fardhu kifayah sehingga sangat aneh jika hari ini ada yang menyebut upaya perjuangan penegakannya ahistoris.


0 Comments

Posting Komentar