Ketika Kebebasan Diagungkan, Kerusakan Generasi Kian Tak Tertolong



Oleh. Sri Wahyuni, S.Pd 

#InfoMuslimahJember -- Bagi teman-teman yang aktif mengikuti informasi di media online mungkin masih ingat dengan kasus yang sempat heboh di bulan maret lalu. Soerang pelajar SMA yang berasal dari dearah Lembata, NTT positif terinfeksi HIV stadium empat. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan oleh seorang Dokter diketahui bahwa siswa tersebut memiliki perilaku seks bebas yang sudah tidak bisa dikontrol. “Dia banyak melakukan hubungan seks bebas dibayar maupun tanpa dibayar dan yang lebih mencengangkan dia juga pernah melakukan hubungan sesama jenis dengan melakukan sodomi” (POS-KUPANG.com, 04/03/20).

Miris tentunya melihat fakta ini, terlebih jika kita mengamati bagaimana gaya hidup generasi hari ini. Liberalisasi telah mendominasi gaya hidup mereka. Mulai dari konsumsi miras, LGBT, seks bebas, aborsi hingga pembunuhan seolah telah akrab dengan generasi. Jika hanya segelintir dari mereka yang terjerat kasus demikian barangkali wajar jika kesalahan adalah pada individunya yang tak pandai menjaga diri, namun bagaimana jika hal trsbut menjerat mayoritas generasi kita hari ini? Akankah kita salahkan pada invidinya?

Kasus-kasus yang menimpa generasi sesungguhnya tidak terjadi murni karena kesalahan pada indvidunya, melainkan kesalahan yang terjadi secara sistemis. Gaya hidup liberal tidak muncul secara tiba-tiba dikalangan pemuda. Hal ini karena sistem Kapitalisme-Demokrasi telah menciptakan iklim yang kondusif untuk tumbuh suburnya gaya hidup yang dmikian. Dimana kebebasan yang tanpa batas menjadi asas bagi terwujudnya keteraturan di tengah masyarakat. Walhasil, setiap orang berhak mendefinisikan kebahagiaan versi mereka dan nasehat agama pun tak lagi di dengar sebab dianggap pelanggaran terhadap HAM. Akhirnya hal ini juga menimbulkan sikap apatis masyarakat. Kemaksiatan yang terjadi bahkan di depan mata pun diabaikan dengan alasan tidak menimbulkan kerugian bagi dirinya atau menganggap tidak ada urusan bagi dirinya untuk ikut campur. 

Inilah kenapa kebebasan dalam Islam haruslah terikat dengan Syariat Islam. Sebab nyatanya keteraturan yang terjadi di tengah masyarakat tidaklah lahir dari aturan kebebasan mutlak. Ketika kebebasan diberlakukan jusru ketidakbahagiaan yang muncul. Sebab keinginan satu individu tidaklah sama dengan individu yang lain. Maka di dalam Islam peraturan hidup manusia haruslah dikembalikan kepada yang menciptakannya yaitu Allah. Sebab Allah-lah yang paling tau bagaimana tabiat dari yang diciptakannya. 

Terkait persoalan generasi, Islam telah memberikan batasan yang jelas dalam pergaulan laki-laki dan perempuan, seperti larangan berkhalwat (berduaan) dan Ikhtilat (campur baur) dengan yang bukan mahram terkecuali pada hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan dan Muamalah. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penjagaan kehormatan dan kemuliaan manusia agar tidak terjerumus dalam perilaku sesat. Selain itu, lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat menjadi tempat yang ramah bagi tumbuhnya generasi. Sebab Islam akan mengkondisikan hal tersebut. Sekolah dengan kurikulum terbaik dan ditunjang dengan tenaga pendidik yang mumpuni dengan tsaqafah Islam dan keahlian pada ilmu terapan tertentu, lingkungan keluarga yang sangat memperhatikan putra-putrinya, dan masyarakat yang peduli terhadap kondisi sekitar. Negara pun turut ambil bagian untuk memastikan ketiganya bersinergi dengan baik serta yang tak kalah penting adalah adanya sanksi yang secara tegas diberlakukan oleh negara bagi pelanggarnya. Namun semua itu tidak mungkin terwujud tanpa adanya Institusi Pemerintahan Islam yakni Khilafah. 

Sehingga menjadi jelas bahwa yang menjadi akar masalah adalah penerapan Kapitalisme-Demokrasi, sementara penerapan Islam dalam bingkai Khilafah justru akan menghindarkan generasi dari gaya hidup bebas yang merusak. Maka seharusnya perjuangan menegakkan Khilafah tidak dihalang-halangi atau bahkan persekusi terhadap pejuangnya. Sebab menghalangi dakwah Khilafah justru melanggengkan kerusakan dan bahkan menghalangi dakwah Islam itu sendiri.  


0 Comments

Posting Komentar